Jenis Shuttlecock (kok bulu) Untuk Main Badminton

Selain harus memilih raket badminton yang tepat, hal lain yang perlu diperhatikan adalah saat pemilihan jenis shuttlecock alias kok yang digunakan. Di pasaran, ada banyak tersedia kok bulu, tetapi jenis shuttlecock (kok bulu) untuk main badminton yang tepat menurut saya itu yang jenis apa sih?

Berikut ulasan dari saya sebagai pemain badminton yang amatiran (dan kalah-an).

Tiga jenis shuttlecock (kok bulu) yang utama

Secara umum, dari banyak jenis yang ada di pasaran dan yang sudah saya coba selama beberapa tahun ini, terdapat tiga jenis shuttlecock yang bisa kita pilih, dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing

1. RSL no 2 (silver)

Jenis ini saya gunakan saat bermain di lapangan klub kampus. Jenis shuttlecock ini merupakan satu level di bawah shuttlecock yang biasa digunakan turnamen (RSL tourney atau Yonex Aerosensa).

Feeling yang didapat, ya bisa ngerasain kayak ikut turnamen gitu, kecepatan shuttlecock standar yang berarti kita bisa mengantisipasinya dengan lebih baik, sehingga terjadi rally itu merupakan hal yang wajar.

Konsekuensinya, harga satuan per shuttlecock RSL no 2 silver ini 64 Baht alias Rp30.000-an per satu shuttlecock. Mahal, karena setiap satu game (2 set point 21) memerlukan paling tidak 1 shuttlecock.

Peminat jenis kok ini adalah bagi mereka yang sudah bekerja, karena kalau buat mahasiswa, rada gak cocok karena mahalnya itu. hahahahaa.

Oh iya, pemula sebaiknya tidak menggunakan kok ini, karena kalau sekali salah mukul dan kena bulunya dan patah, maka wassalam kok-nya.

2. Yonex Mavis 350 (yellow)

Jenis ini saya gunakan saat bermain di lapangan umum kampus (bukan klub). Skill pemain di lapangan ini sangat bervariasi, mulai dari yang belum bisa serve sampe yang level intermediate yang bisa smash, dropshot hingga jumping smash.

Yonex Mavis 350 (yelow) ini bukan terbuat dari bulu, tetapi dari nylon. Harga per satuan shuttlecock sekitar Rp28.000 tetapi jauh lebih awet dari shuttlecock bulu.

Daya tahannya hingga 5 kali lipat shuttlecock bulu, sehingga cocok buat yang lagi belajar memukul shuttlecock mulai dari pemula hingga pemain intermediate yang ingin biaya yang ramah di kantong, seperti saya. HAHAHAHA.

Kesan saat main, shuttlecock Mavis ini memiliki kecepatan yang lebih cepat daripada shuttlecock bulu biasa, bahkan lebih cepat daripada RSL no 2 yang sudah saya bahas di atas.

Konsekuensinya, hanya dalam 1-5 pukulan, kita bisa dapet poin, kecuali memang sudah biasa main maka rally pun dapat terjadi dengan shuttlecock cepat ini.

3. Shuttlecock lokal

Jenis shuttlecock ini saya gunakan saat bermain di grup kantor, dimana memang dipilih yang sangat-sangat terjangkau kantong semua level karyawan. Tentu saja, kita tidak bicara kualitas standar, karena harga per shuttlecock bervariasi antara Rp7.000 hingga Rp10.000.

Kesan yang didapat saat menggunakan shuttlecock jenis ini, ya hanya untukĀ fun gamesĀ saja. Inkonsistensi kualitas per shuttlecock menjadikan kita harus sedikit beradaptasi saat mengganti shuttlecock ketika di tengah-tengah permainan.

Umumnya, shuttlecock jenis ini lebih ringan dan memerlukan tenaga lebih besar untuk memukulnya. Lucunya, saat bulu rada rusak, shuttlecock ini masih bisa digunakan tanpa terlalu terpengaruh, beda dengan RSL 2. HAHAHAHA. Unik tapi nyata.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari dua orang anak laki-laki pintar, lucu dan usil.

2 Comments

  1. Kalau saya biasanya pake kok hasil rampokan temen kantor, dapet yang RSL2 syukur.. dapet yang lokal ya tuker lagi, haha..
    Tapi memang yang lokal itu selain murah, enaknya walau bulunya udah jelek masih bisa dipake dengan normal, tapi ya untuk sekedar fun doang ya

    • Nah kan bener…
      kualitas kok lokal tu gk bagus, tapi rada rusak pun masih lebih layak dipake daripada RSL2 yang patah satu bulunya.
      RSL2 patah bulu satu aja udah muter gak keruan.. Hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *