Persepsi Positif Negatif Orang Terhadap Orang Lain

credit: google.com

Disclaimer:
Kalau persepsi positif tentang orang lain sih udah banyak ditulis blogger2 atau motivator ya.. kali ini saya membahas tentang persepsi negatif ala saya.. Dan kebetulan saya saat ini posisinya sedang belajar di luar Indonesia.. anyway, apabila ada yang kurang berkenan ya saya mohon maaf.

Okay, pasti banyak yang pernah melihat gambar tentang keledai ini khan? Gambar itu banyak terdapat di internet dan entah yang mana sumber aslinya, sehingga saya memutuskan untuk menuliskan google.com sebagai credit dari gambar tersebut.

Inti dari gambar tersebut adalah: apapun yang akan kita lakukan, bisa saja salah di mata orang lain. Lah kalau itu sudah umum, terus ngapain nulis di blog ini? ngejar setoran tulisan ya mas?Sabar.. sabar.. begini cerita lengkapnya..

Nah… pada suatu pagi di sebuah group WhatsApp (WA) yang saya ikuti, tiba-tiba ada yang upload gambar hamparan bunga matahari yang luas nan indah ini dan berkembang sebuah diskusi (sebagian kata sy ubah seperlunya ke bahasa Indonesia, tanpa merubah makna aslinya)


Teman A : “Ari… tuh ada kebun bunga matahari indah banget di Thailand.. gak foto selfie disana kah?”
Ari            : “Nggak ah, ntar dikira aku seneng2 doang kalo di Thailand”
Teman B : “Kok takut dikira seneng2? Hayo tuh biasane justru ada yg disembunyikan.. hmm.. 😜”
Ari            : “Dan juga gak aku share yg susah2nya.. dikira ntar aku ngeluh mlulu kuliah di Thai sini”
dst dst…

Sebenarnya, diskusi diatas tidak menyudutkan saya, tetapi ya hanya untuk berjaga-jaga saja.. bagaimanapun, hidup kita selalu bagaikan dua mata pedang, yang kemanapun arahnya, bisa saja melukai diri kita. Kalau merujuk pada falsafah modal copy-paste dari internet:

Hidup kita sudah digariskan oleh Allah SWT, kita yang menjalani dan orang lain yang mengkomentari…

Untuk itu, bagi sebagian orang, termasuk diri saya. merasa lebih baik apabila apapun yang saya lakukan di Thailand ini hanya saya share ke orang terdekat saya (anak dan istri) saja, sehingga meminimalkan ruang bagi orang lain untuk berkomentar negatif.

Sebagai seorang ayah dan suami, maupun sebagai seorang karyawan yang ditugas-belajarkan (Alhamdulillah saya mendapat beasiswa di Thailand ini, sehingga tidak memberatkan kantor saya)… Jangankan kok kita sengaja jalan-jalan keluar kota buat happy-happy, golf, beli jet pribadi yang representatif.. foto-foto selfie… Kita melakukan aktivitas yang jelas-jelas menyehatkan misalnya Bermain Badminton 2-3 kali seminggu, selama 2 jam tiap kali main saja bisa menjadi dianggap salah, bagi orang-orang tertentu. Karena saya merasa happy bermain badminton, maka saya menceritakan ke khalayak diluar kampus. Ternyata, entah bercanda atau serius,  ada cukup banyak yang berkomentar:

Lhoh…. sebenarnya di Thailand itu kuliah atau badminton tho? 

Hahahaha.. Lhah terus anda maunya saya di Thailand ini bagaimana? Bangun pagi, jam 7-17 di kampus, pulang belajar malam mulai jam 19-22 terus tidur. Begitu kah? Maaf saya bukan robot. Pun demikian (ahem, kata2 ini milik teman saya) ada juga contoh tentang satu hal yang sama persis, tetapi apabila dilakukan oleh dua orang yang berbeda, persepsi yang muncul bisa jadi berbeda. Misalnya karyawan senior mempunyai image yang positif dan yg junior dianggap masih negatif, sehingga apapun yang terjadi ya respon lingkungan bisa berbeda, Begini contohnya

Kasus 1: Mampu menyelesaikan pekerjaan sangat cepat.
Persepsi yang muncul diantara karyawan yang lain terhadap
1.Karyawan junior: Kok terburu-buru sih ngerjainnya? Dicek lagi.. Gak teliti paling.. (bhs Jawa: Kebat kliwat)
2.Karyawan senior: Wahh.. Pak itu cekatan sekali ya.. canggih bisa menyelesaikan dengan cepat (bhs Jawa: cak cek)

Kasus 2: Menyelesaikan pekerjaan lebih dari jadwal deadline.
Persepsi yang muncul diantara karyawan yang lain terhadap:
1.Karyawan junior: Kamu kok lambat sekali.. pemalas. (bhs Jawa: klemar klemer)
2.Karyawan senior: Wahh.. memang perlu pertimbangan.. dan banyak pekerjaan yang lebih urgent (bhs Jawa: ngati ati).

Main point is: kalau sudah dianggap imagenya positif, ya apapun yang terjadi ya dianggap positif. Demikian juga dengan image negatif. Jadi just be yourself, bekerja belajar sebaik2nya dan gak usah peduli2 amat dengan apa kata orang.

Jadi, bukan untuk pencitraan, tapi memang tidak selamanya orang lain perlu tahu kita ngapain, karena kita tak akan bisa memuaskan semua pihak.

Salam hari Rabu… Waktunya Badminton 🙂

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari dua orang anak laki-laki pintar, lucu dan usil.

2 Comments

  1. Yaah, kl aq mah…apalah yaa??
    Berusaha konsekuen terhadap apapun yang sdh aq putuskan terhadap hidupku. Orang lain menilai diriku? Mangga aja, atuh. Tararengkiu ya, Oom Ai?

    • Betul Mb Etty.. Kadang udah melakukan sesuatu dg banyak pertimbangan saja, masih ada aja celah bagi orang lain untuk menilai negatif.. Kalau kata tokoh kartun sih: “Keep Moving Forward”…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *