Bermain Badminton di PSU Hat Yai (1)

Berbicara “badminton” dan “Indonesia” mungkin setara dengan bicara “makan” dan “nasi”. Orang Indonesia secara umum (at least, saya) merasa belum makan, kalo sumber karbohidrat yang saya konsumsi bukanlah Nasi. Biarpun sudah makan burger, bagi saya kenyangnya itu nanggung. Analog dengan hal tersebut, saya meyakini bahwa hampir seluruh orang indonesia sudah pernah memegang raket badminton. Mungkin bagi saudara2 yang di pedalaman, bisa jadi belum pernah sih.

Sementara itu, di PSU kampus Hat Yai terdapat sport complex dengan aneka arena cabang olahraga, misalnya badminton, renang, pingpong, basket, voli, voli pantai, tenis, sepakbola, futsal, sepak takraw dan menembak. Badminton saya tulis yang pertama, karena badminton itu paling populer bagi mahasiswa/i Indonesia yang sekolah di PSU Hat Yai ini. Paling tidak, setiap rabu dan sabtu jam 16-18 kami selalu bermain badminton. Bagi saya pribadi, sebelum di PSU, terakhir intense main badminton itu SD, tapi tanpa teknik alias asal mukul. Saat kuliah di Unibraw, maen gak sampe 10 kali.. sama juga pas di kantor, hanya main 3-5 kali doang, itupun super ancur maennya gegara mata kiri dan tangan kanan saya sudah tidak 100% sejak kecelakaan motor yang saya alami tahun 1999.

Lapangan badminton alias court di sport complex PSU ada 6 buah dan biasanya full booked dari awal buka sampe tutup (jam 16 – 21). Harga sewanya murah, yaitu 15 THB/jam/court. Awal main badminton bulan Januari-Februari 2015, saya menggunakan raket inventaris PERMITHA. Seiring berjalannya waktu, atas saran mas Zamhari, salah satu pemain handal PSU Hat Yai, saya pun memutuskan membeli raket pribadi. Dengan ditemani mas Zam, kami pergi ke Sport Station di Central Festival Hat Yai. Setelah pilih-pilih (yg waktu itu saya blank tentang raket) sayapun memilih raket ArcSaber 001 dengan string Yonex BG66 ditarik 24 lbs. ArcSaber 001 termasuk raket ringan dan flexible ini mampu meningkatkan performa bermain saya.

Dari skala 1-10, apabila para jagoan badminton seperti mas Abdi, Pak Cecep, Mas Zam, Pak Panca, mas Nizam dan mas Bayu termasuk level 9-10, maka saya sukses meningkatkan kemampuan dari level 2 ke 4. Masih jauh memang, tapi saya sangat sepakat ketika diskusi dengan mas Bayu, bahwa bermain badminton untuk usia >30 seperti saya ini ya bermain fun, guyon dan yang penting untuk menjaga kebugaran. Pada bulan Januari 2015, saya hanya sanggup bermain 2 set karena nafas saya sudah ngos-ngosan kayak mau putus alias parah banget stamina saya. Sejak bulan April 2015 saya sudah bisa bermain 6 set dalam rentang waktu 2 jam. Kalau bulan Juli 2015 ini saya sudah mampu bermain paling tidak 8 set tanpa kehabisan nafas. Pada bulan Januari 2015, berat saya 69 kg dan seiring berjalannya waktu, celana saya pun terasa longgar tanda saya bisa mengikis lemak. Akan tetapi, pada saat saya periksa ke dokter gegara tomcat pada bulan Juli 2015 ini, saya dibuat kaget. Berat saya 70 kg. Lah.. berarti tubuh saya hanya memadat. hahahaha.

Oh iya, pada bulan April 2015 terjadi “Racket Collision Incident” alias ArcSaber 001 saya bertabrakan dengan raket lain, alhasil patahlah di bagian kepala raket. Wah ini mah kurang beramal deh, sehingga diuji sama Allah SWT. Akhirnya pada bulan Mei 2015 saya membeli raket lagi. Kali ini saya pergi sendiri ke Sport Station di Central Festival. Setelah nyoba-nyoba sekitar 40 menit di depan rak raket.. pilihan saya jatuh pada yonex Voltric 3. Dibandingkan ArcSaber 001, raket ini sedikit lebih berat di bagian kepala (light weight, head heavy balance). Poros Voltric ini medium flex, berbeda dengan ArcSaber 001. Ternyata saya merasa lebih cocok menggunakan Voltric 3 yang dipasangkan dengan string BG66 tetap 24 lbs (tarikan maksimal yg bisa dihandle sama rangka Voltric 3). Kalau untuk bebat pegangan, sejak ArcSaber 001 saya udah cocok menggunakan yonex AC 105EX.

And yes, dalam rangka memperingati 70 th kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 1 Agustus 2015 akan diadakan lomba badminton yang akan diselenggarakan di sport complex PSU Hat Yai. Peserta lomba adalah masyarakat Indonesia (mahasiswa dan pekerja) yang tinggal di Thailand selatan berikut Bp Ibu Konsulat Republik Indonesia dari Songkhla.

Lomba ini dirancang tidak serius, yang penting lucu, guyon dan guyub. Hadiah dll? Nanti saya bahas pada postingan selanjutnya.. Asiikk.. Gak percaya? Bulan April 2015 lalu, saya pas pertandingan antara mahasiswa internasional (ISA PSU) bisa dapet juara III alias perunggu gegara lawan saya WO. hahahaha.. lucu khan?

Tapi mahasiswa Indonesia memang maknyus masalah badminton, nih bukti piagam dan medali yang diborong wakti ISA PSU:


MERDEKA !!!

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

6 Comments

  1. wah .. aktif yah ikut kegiatan sama warga indonesia di sana :mrgreen: iya sih .. ketemu orang indonesia-nya kalau bukan di even/acara ya dimana lagi 😆 … BTW udah banyak juga yah postingannya

    • Yoi Mas Rangga, ada sekitar 45 an orang Indonesia di sini.. Lanjut sekolah sini aja mas 🙂

  2. mas ari masih di hat yai? 6 december saya rencana kesana mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *