Hobi Yang Terlarang

Hmm.. Apa hayo? Hal pertama yang terlintas di pikiran Mas/Mb/Pak/Bu pas baca judul ini?

Kali ini saya akan menuliskan dari sisi laki-laki. Bagi yang merasa ter-offended, saya mohon maaf, lha ini blog saya yang saya tulis berdasarkan apa yang saya amati dari kejadian di sekitar saya.

Oke… jadi.. apa itu hobi yang terlarang? 

Setiap manusia, pasti memiliki hobi atau kegemaran. Ada yang suka main musik misal gitar. Ada yang suka olahraga joging, renang atau nge-gym. Ada yang suka travelling dan masih banyak lagi. Memiliki dan melakukan hobi itu hal yang bagus dan kita tidak perlu menjadi seorang advance di hobi itu. Saya lupa, siapa yang menyampaikan ungkapan yang bagus ini tentang definisi pelari, tapi yang jelas:

Pelari adalah kamu yang mau bangun, mengencangkan tali sepatu dan berlari. Tidak peduli selamban apa kamu berlari, kamu adalah seorang pelari.

Tentu saja, ada pengertian lanjutnya.
Ada pelari professional yang memang sedari kecil berlatih misal dari mengatur nafas untuk olahraga lari dll dll.. Juga ada pelari amatiran yang bahkan stretching alias pemanasan sebelum mulai lari aja gak mau. Ada juga yang datang ke jogging track hanya buat foto selfie, edit and upload IG dengan caption: Yield some sweat for the better health dengan emoji lebay. Larinya berapa putaran? Satu putaran udah ngos-ngosan. Hahaha. Ya gak apa-apa sih, yang penting dia udah berusaha lari. Daripada kamu yang cuma weekend udah bangun siang, yang dicari HP stalking sana sini dan malas-malasan seharian.

Nah nah nah.. terus apa dong hobi yang terlarang itu? Mas nya ini ceritanya muter2 aja.

iya iya. jadi gini.

Kaum adam alias laki-laki, pasti punya hobi yang disukainya. Misal ada temen saya, sebut saja nama dia Hans (hahahaha pilihan namanya :p ). Hans ini hobinya memanjakan telinga alias audiophile .. dia suka dengan earphone dan speaker yang detil, yang bisa me-reproduksi suara musik atau vocal sesuai aslinya.

Yang dilakukan Hans, dia membeli speaker jenis bookshelf, memodifikasi kabelnya dengan yang berlapis emas dan yang jelas membeli DAC (Digital to Analog Converter). Harga totalnya? ya sekitar 7 jutaan Rupiah.

Terus? Apa yang jadi masalah? Yaaa.. ketika orang terdekat dan sekitarnya tahu 7 juta itu dikonversi ke peralatan audio. Banyak yang menyayangkan. Hal itu diperparah dengan istrinya yang kebetulan tidak satu hobi (bukan pecinta audio). Sewaktu istrinya mencoba mendengarkan musik di perlengkapan mahal milik suaminya, dia berkomentar:

“Apaan sih Pah? Suaranya sama aja kayak speaker yg laen. Sia-sia banget sih uang segitu buat beli ginian”.

Padahal kalo mau jujur, kualitas audio yang dihasilkan itu beda jenis file, beda kabel, beda peralatan, maka akan menghasilkan kualitas suara yang berbeda. Tapi bagi istri Hans.. itu sama aja dan hal yang sia-sia.

Analog dengan hal tersebut, bagi cowok secara umum, merahnya lipstik harga 50 rb dan 500 rb itu ya merah d bibir. Bagi kaum hawa? Heeeiiii… bedaaa banget ya.. kualitas sapuan warna merah di bibir tuh antara lipstik mahal dan murah… Nah khan sama?

Terus, apa yang dilakukan Hans dengan istrinya yang begitu? Ya terpaksa kedepannya si Hans berbohong. Beli peralatan buat upgrade audionya dengan berbohong tentang harganya. Dimurah-murahin. Misal kabel seharga 1.2 juta rupiah dibilang hanya 75 ribu rupiah.

Lah terus apa hubungan dengan gambar raket dan sepatu badminton yang ada di awal postingan itu? Alur cerita yang 99% mirip dengan Hans, ada banyak temen yang diprotes orang terdekatnya gegara maen badminton dan atau karena membeli raket atau sepatu kualitas bagus yang memang diperlukan.

Nah, curcol mas? Iya sedikit banyak begitu. Karena pagi ini, saya diprotes oleh saudara2ku tentang aktivitas badminton. Kata beliau-beliau, aku musti fokus di Thesis. Iya, saya setuju dengan fokus di Thesis. Saya cuma ingin dipahami, bahwa bermain badminton bagi saya adalah satu-satunya hiburan bagiku.

Bermain Badminton, saya bisa berteriak-teriak, kadang mengumpat, yang pada intinya saya bisa melepaskan stress. Tanpa bermain Badminton, saya yakin kondisi kesehatan jiwa dan badan saya akan jauh lebih buruk.

Hal paling utama menurut saya, si Hans tadi asal punya rejeki yang cukup buat istrinya, kenapa tidak didukung sih? Yang kasus saya, kalo dengan bermain Badminton 2-3 jam.. tidur saya tetap 6-7 jam semalam dan saya tetap segar sepanjang hari tidak mengantuk di siang hari, apa itu hal yang salah?

Jangan sampai hobi kita yang sebenarnya positif ini, karena tidak didukung oleh lingkungan kita, menjadikan kita terpaksa menjadi pembohong.. karena orang-orang dekat kita, melarang kita melakukan hobi kita. Hobi yang baik berubah menjadi…

Hobi yang terlarang.

jreng jreng….

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *