Sebuah Prosa Bernama Gelap

credit: bestanimations.com

Pet………
Ruangan yang terang dengan lampu LED 9 watt itu tetiba gelap gulita.

“Amsyiong..” makiku.

“Handphone mana handphone..” kataku, sesaat sebelum menemukan si telepon pintar dan mengaktifkan mode flashlight, tuk sejurus kemudian mencari emergency lamp. Tetap dengan ngedumel alias mengomel.

Dalam remang-remang, tetiba aku kepikiran. Meski mengomel, kok bisa ya, aku tahu banget musti gimana kalau mati lampu?

mati lampu–>ngomel–> cari Handphone–>nyalain mode flashlight–>cari lilin/emergency lamp–>sendu.

Kenapa begitu ya?

Practice makes perfect. Ya, karena itu bukan pengalaman pertama kita. Saya yakin, saat kita pertama kali mengalami kegelapan mati lampu, kita tidak sendirian. Ada bapak/ibu/kakak atau siapapun yang lebih senior dan membimbing kita harus ngapain ketika mati lampu. Itulah sebabnya kita tidak panik. Meski.. ngomel sih tetep jalan. Yang bisa jadi, kita juga meniru senior kita, yang juga mengomel sewaktu kejadian mati lampu. hahaha. klop.

Gelapnya malam tanpa listrik dan lampu, sejatinya hanya seujung kuku dari makna kegelapan bagi manusia.

Gelap. Makna dari kata tersebut ada banyak. Denotatif dan konotatif.

Mulai yang ringan, moderat hingga akut. Untuk kejadian kekinian, misalnya si cowok keren nan ganteng kita, Hans, dia merasa dunianya gelap, saat gebetannya yang bernama Rita, tak membalas chatnya yang hanya dua kata: “Hi Rita.”. Rita nge-read saja. “Penasaran sekaligus curiga.. jangan-jangan si Rita sedang jalan sama si Boy..” keluh khawatir Hans.

“Ting.. ” ketika notif BBM masuk, si Hans nyaris melompat kegirangan saat membaca balasan si Rita yang berjarak 2 jam dari Hans mengirim pesan. Tahukah kamu, apa sih yang ditulis Rita?
Sederhana: “Hi Hans, maaf pas itu aku ribet. Ada apa Hans?”

Gelapnya dunia Hans yang tadi? Sudah hilang. Layaknya awan yang tersapu kencangnya angin, yang menyediakan indahnya pemandangan langit biru nan cerah. Hahahaha.

Itu contoh gelap kelas ringan. Hah? Kalian gak terima kalau kasus Hans itu masuk level ringan? Dasar kalian jomblo-ers. Ya udah. Anggap aja itu kejadian moderat. Dasar pathetic.

————————————————————

Kalau gelap level akut?

Terdengar klise, tapi cerita gelapnya dunia seorang istri tentara yang menanti suaminya pulang dari 4 tahun di garis depan pertempuran ini merupakan salah satu cerita yang tak akan lekang oleh waktu. Setelah 4 tahun berlalu, ada berita yang diterima yang akhirnya mematikan semua nalar, rasa dan asa dari si istri tadi.

Sang suami tercinta akan segera pulang ke rumah, tetapi dia hanya akan terbaring di dalam peti jenazah. Sang suami tak akan bisa lagi bertanya kabar, memeluk, mencium ataupun sekedar tersenyum kepada sang istri tersayang. Perasaan si istri gimana dong? Merasa tidak terima? Jelas. Marah? Iya. Sedih? Absolut. Dunia terasa berhenti berputar? Jleb.

Gelap level akut ini sangat mungkin akan abadi.

Meski sekian tahun kedepan misalnya si istri akhirnya punya tambatan hati yang lain, tetap saja. Dunianya tidak akan pernah sama. Tetap gelap. Ibarat malam hari dimana bulan sabit muncul, tetapi ada awan mendung tebal yang menghalangi sinarnya sampai ke bumi.

————————————————————

“Wah, berarti tulisan ini sudah selesai dong? Khan udah dikasih penjelasan gelap berikut contoh-contohnya?” Itu tanyamu, hai pembaca blogku tersayang.

“Kamu salah…” Jawabku.

Ada satu hal yang lebih absolut dibandingkan kedua contoh definisi gelap yang kusampaikan diatas yaitu..

Gelapnya pengetahuan manusia akan takdir dan masa depannya.

Mungkin kita bisa saja berencana nanti sore kita mau belanja daging sapi buat dimasak rendang besok pagi misalnya. Apa daya tetiba pas mau ke pasar, kita ditabrak mobil dan musti dirawat di ICU? Memang kita bisa tahu? Tentu tidak. Bayangan atau pikiran tentang kecelakaan itu adalah GELAP.

“Siapa sih jodoh kita?” Tanyamu yang jomblo sejati. Ada banyak kisah lain, misalnya: “Kenapa sih, kita tidak bisa bersatu dengan orang yang kita sayangi? Padahal dia juga sayang ke aku?” Tanya seseorang. Penjelasan tentang itu semua hanyalah teori manusia. Sisanya? Adalah GELAP. Kenapa?

Semua hal tentang takdir dan masa depan, sejatinya merupakan rahasia Allah SWT. Kesemuanya sudah tertulis rapi di Lauh Mahfuzh olehNya.

Yang bisa kita lakukan di dunia bagaimanakah? Ibarat berjalan di malam gelap tanpa bulan, kita hanya berbekal sebatang lilin dengan nyala lembutnya. Kita hanya bisa berjalan berhati-hati di jalan yang sudah di hadapan kita. Kita harus terus bergerak hingga ke garis finish, tetapi tidak boleh sombong dengan berjalan terlalu cepat.

Kenapa?

Karena lilinmu akan mati kena angin dan kamu akan terjebak dalam malam dengan gelap yang absolut.

Hat Yai
21 Februari 2017
^^v

Challenge accepted.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *