Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan

iya, ini jam tanganku. Bagus tho?

Aku mau tanya..

Apa yang sudah kamu lakukan di masa lalumu? Apa yang sedang kamu lakukan di masa kini? Akhirnya, apa yang akan kamu lakukan di masa depanmu?

Tiga pertanyaan itu sepertinya biasa, tapi jawaban atas ketiganya bisa sangat panjang, rumit, berat dan mungkin sulit untuk diungkapkan. Setidaknya, diungkapkan secara bebas ke publik.

Apakah ini tentang aib? Ataukah tentang hal lain? Eh, sebentar.. kamu itu mo bahas apaan sih?

Masa lalu
Sepanjang perjalanan usia kita, di masa lalu, ada banyak kesalahan yang telah kita buat. Mulai kesalahan yang kelas biasa, menengah hingga sesuatu yang kita anggap sebagai aib. Tetapi, syukurlah, kita sudah banyak sekali dilindungi Allah SWT, misalnya kesalahan kita itu tidak dibuat berbau. Ada yang mengandaikan apabila dosa atau kesalahan itu berbau, maka tidak akan ada seorangpun yang akan mau dekat dengan kita.

Terlepas dari seberapa banyaknya kesalahan yang telah kita buat, pasti ada hal yang membuat kita tersenyum bangga akan diri kita. Eh? gak ada ya? Pasti ada.. ayolah.. kamu harus mengakui hal itu. Sering kali, kebahagiaan itu karena kita bisa menghindarkan diri dari melakukan kesalahan. Atau, kita pernah salah tapi kemudian sukses bangkit.

Masa lalu, biarlah berlalu. Tidak seorangpun atau siapapun berhak menghakimi masa lalu kita seberapapun salahnya kita.

Andai orang-orang atau seseorang meninggalkanmu karena mereka mengetahui kesalahan yang kamu lakukan di masa lalu, ya sudah. Ngapain juga kita bersusah payah mempertahankannya. Usia kita lho pendek. Waktu berjalan cepat sekali.. bahkan sangat cepat. Jadi, ngapain kita sakit hati dengan orang yang tidak mau menerima masa lalu kita? Cuek aja lah. Peduli setan eh amat. Emang, dia atau orang-orang yang menjauhimu itu tidak punya masa lalu yang suram apa? iya khan? Iya tho? Iya sih…

Masa kini adalah masa depan dari masa lalu. Masa kini akan menjadi masa lalu dari masa depan.
Saat ini kita bisa memperbaiki apa yang di masa lalu merupakan suatu kesalahan. Juga, kita bisa semakin meningkatkan hal-hal positif yang sudah kita miliki. Terkadang, kita pernah merasakan pasrah alias tidak mau keluar dari zona nyaman tuk memperbaiki apa yg sebenarnya belum optimal. Misalnya, ada orang yang kalau sholat, sering banget (bahkan hampir selalu) tidak di awal waktu. Ketika ditanya kenapa gak sholat di awal waktu? Dijawabnya:

“Ini udah bagus lho, sekarang saya sholat sudah lima waktu.. dulu saya sering bolong sholatnya.. Masak masih aja sih kamu ngerasa aku itu kurang memperbaiki diri ???”.

Oke. Ada dua hal yang saya tangkap maknanya dari jawaban di atas.

Pertama. Dia di masa kini sudah memperbaiki diri dari dirinya di masa lalu. Bagus khan? Iya lah.
Kedua. Dia sudah merasa berpuas diri. Pendapat saya pribadi, sih.. Ya dia tidak salah, sih. Lah kok gitu? Khan kalo begitu doang, amal ibadah dia belum baik beneran.. Mungkin itu pertanyaanmu.

Bagi saya, ini ibarat anak sekolah yang biasanya dapat nilai 5, kemudian belajar dan dapat nilai 7 dan dia merasa puas di nilai 7 itu. Saya sih pernah dengar ada yang mengalami hal ini di waktu SD, dia udah dapet ranking 4 waktu itu.. dan orang tua dia mengatakan:

Wah gimana sih kok ranking 4.. kamu harus belajar lagi dong biar jadi juara kelas.

Ya bagi si anak itu, kayaknya hidupnya itu masih aja useless. Gak berguna, meski dia udah dapet ranking 4. Kenapa gitu, si orang tuanya gak merasa bangga anaknya udah jauh lebih baik dibanding yang lain, katakanlah dia lho sudah jadi yang terpintar nomer 4 dari 40 siswa di kelas. Kenapa gak gitu, hayo?

Eh kok kepanjangan ceritanya.. Oke.. Kembali ke pembahasan orang yang sholatnya tidak di awal waktu itu.
Bagi saya sih, bisa jadi dia memilih tetap di pendapatnya sholat tidak di awal waktu, karena dia mengejar perbaikan diri di sisi hidupnya yang lain. Misalnya, dia sedang serius memulai kegiatan olah raga yang seharusnya sudah dia mulai sejak puluhan tahun yang lalu. Atau dia sedang suka menulis, sehingga memilih tuk menuangkan isi pikirannya terlebih dahulu dan menunda sholatnya, serta masih banyak “atau” “atau” yang lain.

Terus, menurutmu, kapan dong dia akan memperbaiki sholatnya menjadi di awal waktu? Tanyamu lagi.

Menurut pendapat awam saya, yang mendorong seseorang itu menjadi rajin memperbaiki akhlak dan akidahnya, tidak lain dan bukan ya karena terbuka hatinya. Siapa yang membuka? Ya Allah SWT dan dirinya sendiri. Kalaupun dia memperbaiki ibadahnya karena ada orang lain yang mendorongnya, itu hanyalah bentuk kehadiran hidayah dari Allah SWT. Jadi dia gak perlu dipaksa. Udah gede juga, kok.

Soal ibadah itu adalah contoh saja, ya. Dan menurut saya, hal-hal lain juga relevan kok dengan yang sudah saya analogikan dengan cerita tentang ibadah tadi. Oke lanjuutttt….

Masa depan
Satu detik setelah ini pun sudah bisa kita kategorikan dengan masa depan. Sejatinya, masa depan kita itu adalah gelap, karena kita tidak benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi, seperti yang sudah saya tulis di: Sebuah Prosa Bernama Gelap.

Untuk masa depan, memang kita bisa merencanakannya. Tetapi tetap saja, apa yang akan terjadi masihlah berupa rahasia dari Allah SWT. Terus, jadi kita tidak perlu merencanakan masa depan kita? Tanyamu lagi

Tentu, kita harus tetap merencanakan apa yang kita mau gapai di masa depan. Kita bisa merencanakan mau jadi apa kita besok pagi, bulan depan, tahun depan hingga tak terhingga. Sampai di suatu saat, rencana Allah SWT akan menghampiri kita dengan segala hal indahnya. Kita harus terus belajar hal baru dan berusaha menguasai softskill baru, supaya kualitas kita meningkat. Kenapa? Supaya kita beruntung. Kok bisa? Haduh kamu ini.

Bagi saya, makna dari keberuntungan itu adalah ketika kemampuan kita bertemu dengan kesempatan

Jadi, seperti apa kata suara halus yang berbisik di kepalaku beberapa waktu lalu.. ayo kita memantaskan diri..

Hat Yai, 8 Maret 2017

Note:
Tulisan ini memang lebih banyak menekankan di kondisi masa kini, karena kita memang hidup di masa kini, berbekal pengalaman di masa lalu, untuk menghadapi masa depan.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *