Sembilan Tanda Kedewasaan Manusia versi UsefulGen

Ada banyak blog atau web yang sudah membahas tentang “ciri kedewasaan seseorang”, baik secara umum (general) atau dibedakan berdasarkan cowok atau cewek. Kali ini, saya akan membahas sembilan tanda kedewasaan (psikologis) menurut UsefulGen. Terlepas scientific atau tidaknya artikel tersebut, berikut pendapat saya atas kesemua tanda tersebut… Maaf kalau ini terkesannya saya sok bijak. hahaha. Oke..

Maturity is when you :

  1. are at peace with yourself
    Saya setuju. Saya ya saya, mereka ya mereka. Ketika saya bisa berdamai dengan diri kita sendiri, maka saya merasa saya udah lebih dewasa. Saya kalah jago lari dengan yang lebih muda daripada saya adalah hal lumrah. Saya kalah kaya dan sukses karir dari temen sepantaran juga gak masalah, toh yang penting saya masih bisa makan, beli kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier.. hingga punya keluarga mungil yang lengkap. Hidup saya begini ya disyukuri saja.
  2. stop comparing with others
    Saya setuju dengan syarat. Poin ini kayaknya mirip banget dengan nomer 1, meski sejatinya beda. Bagi saya, comparing with others itu tetap perlu dilakukan, tetapi hanya dibatasi untuk hal-hal tertentu. Misalnya, saudara bisa membeli rumah pada usia 28 tahun, maka saya harus memaksa diri menabung supaya (minimal) bisa melakukan hal yang sama, syukur-syukur lebih awal. Untuk hal non materiil juga sama.
    Semenjak beberapa waktu yang lalu, saya memaksakan diri sendiri untuk terus mencoba softskill baru dan menajamkan hal lama yang pernah dan sudah mampir di diri saya. Caranya? Saya mengambil satu atau beberapa tokoh yang saya nilai memang ahli di bidang itu sebagai standar.. Saya tidak memasang target tuk menyamai skill mereka, tetapi paling tidak saya mencoba mendekati sebisa saya saja. Gagal? Peduli amat dengan gagal, tidak ada ruginya kok.. minimal saya tidak penasaran.
  3. don’t seek approval from others
    Saya setuju dengan pertimbangan. Ketika sudah mandiri tetapi masih lajang, yup saya bisa memutuskan harus bagaimana sesuai apa yang saya mau. Ketika sudah berkeluarga, ya saya harus memutuskan dengan diskusi dengan keluarga. Ya meski sering berakhir dengan diskusi yang “keras”, karena satu dan lain hal.
  4. stop proving to the world, how intelligent you are
    Saya setuju. Karena kita tidak perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kita itu paling pintar, tapi cukup dengan berbuat sebaik-baiknya semampu kita dan biarkan dunia yang menilai diri kita. Based on my own opinion, asal tidak bermaksud pamer, sah-sah saja sih saya memposting capaian saya di socmed (FB, IG atau Twitter)… karena saya termasuk penganut mahzab ngeshare hal-hal yang menyenangkan saja di medsos. Terus kalau ada orang lain yang nyinyir ketika saya posting tentang capaian saya? Ah, bodo amat.. 🙂
  5. understand whatever you do, you do for your own peace
    Saya setuju. Contohnya, kenapa harus memaksakan saya ikut keliling kota sewaktu perayaan tahun baru? Kalau saya bisa merasa damai dan nyaman dengan hanya berada di rumah. Ah bisa jadi saya begitu, karena saya sudah pernah merasakan hiruk pikuknya tahun baru di masa lampau. waduh, contoh yang salah ini.. hahaha. Pada dasarnya, saya sudah hampir 100% masa bodoh dengan pandangan orang lain tentang apa yang saya lakukan, asalkan itu untuk pengembangan diri dan tidak merugikan orang lain.
  6. able to drop “expectations” from a relationship and give for the sake of giving
    Saya setuju. Sejak beberapa tahun yang lalu, saya sudah sampai tahap tidak mengharapkan apapun dari pasangan saya supaya pasangan saya lebih begini atau begitu. Saya dan pasangan pun punya banyak kekurangan. Ya meski bukan pasangan yang sempurna, tetapi kami mempunyai seorang anak lucu dan pintar yang mengikat kami berdua. Apapun yang kami lakukan saat ini ya buat anak kami, supaya dia lebih menjadi seseorang yang jauh lebih baik daripada kami.
  7. learn to “let go”
    Hmm, kalau yang satu ini.. saya tidak sepenuhnya setuju. Ada beberapa hal yang saya belum bisa melepasnya. Mungkin karena ada hal-hal yang merupakan salah satu impian terdalam, sehingga saya tetap keukeuh aka keras kepala buat merraihnya. Tapi kalau “let go” itu diterapkan untuk masalah-masalah yang menerpa saya, saya sih setuju. Diterpa masalah itu adalah hal biasa, yang penting tahu dimana mencari solusinya.
    #aseek.
  8. understand everyone is right in their own perspective
    Saya setuju. Contoh paling gres, berbeda pendapat misalnya soal Pilkada DKI (meski kami bukan warga DKI), bagi saya adalah hal lumrah meski kami yang berbeda pandangan itu sering berdiskusi keras, panjang dan lebar..  tapi kami tetap berteman. Meski sayangnya, ada cukup banyak teman yang menghindari saya, ketika tahu kami berbeda pandangan politik. Contoh lain? Ya misalnya saya suka makan soto yang diaduk.. dengan teman saya yang sotonya tidak diaduk.
    #halah ngetik soto kok jadi laper saya.
  9. accept people as they are
    Saya setuju. Misalnya nih..seperti apa yang tampil di medsos (FB, IG, Twitter dll), mereka ya mereka.. selayaknya saya ya saya. Ada temen yang suka nampilin politik panas2 di timeline… ya biarin. Ada yang suka bikin caption galau level sakaratul maut.. dinikmatin.. Ada yang demen posting foto kekinian ngehitz di alam luar atau cafe mahal ya di selametin eh di like.. Dan macam-macam lainnya. Ada sih, teman yang hobi meng-unfollow teman gegara si teman tadi dinilai cengeng terkait cara penyampaian politiknya, meski usia si teman itu sudah bukan remaja lagi dan pendidikannya udah tinggi banget. Bagaimana sikap saya? Ya kalau longgar waktunya, sambil nongkrong di WC pun menikmati sambil ngikik ketawa2 kok baca timeline yang isinya anekarupa itu.

Akhir kata.. Mohon maaf, kalau postingan kali ini terlalu bijak ..  #eaaa

Selamat ber-Songkran
Hat Yai,  13 April 2017

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *