Lima Cerita Horror yang Aku Yakini itu Benar Terjadi (Part 3)

credit image (IG): si.itek

Hai, jumpa lagi di bagian ketiga dari cerita horror bin seram yang aku alami sendiri. Oh iya, bagian pertama (Part 1) dari cerita ini ada (cerita terseram #5 dan #4) di link ini. Sedangkan bagian kedua cerita (Part 2) yang berisi cerita terseram #3 ada di link ini. Pada bagian ketiga (Part 3) ini, aku akan bercerita tentang pengalaman terseram #2  yaitu…

#2. Bangku depan fotokopi lantai dasar RS Sardjito – Jogjakarta.
Pada tanggal 13 April 2000 siang, aku mendapat kabar kalau kakakku melahirkan keponakan aku (Teza) di RS Sardjito, Jogja. Sekitar pukul 4:30 sore setelah selesai les dan lain-lain, berdua dengan mbak Ayank (beliau adalah kakak di atas aku pas), secara beriringan, masing-masing kami mengendarai motor dari kota Solo menuju RS Sardjito di kota Jogja. Aku mengendarai Suzuki RC 100, mbak Ayank mengendarai Honda Astrea Star. Motor Suzuki itu yang biasa dikendarai Bapak dan Ibu, tetapi beliau berdua saat ini sedang di Jakarta menengok Pakdhe Pasar Rumput yang sedang dirawat karena sakit diabetes kala itu.

Pada tahun 2000, jalanan antar kota Solo-Jogja belumlah selebar sekarang. Meskipun jumlah kendaraan yang berlalu lalang juga gak sebanyak jaman sekarang sih, tetapi jalanan tersebut dikala itu sudah padat dan lumayan sering tersendat. Maklum lah, pukul 4-6 sore itu banyak pemakai jalan yang sedang pulang dari kantornya. Ah ya, yang lebih membuat lambat perjalanan adalah hujan deras yang turun tak berapa lama setelah kami berangkat. Komplit lah. Kurang lebih waktu maghrib, kami baru sampai di daerah alun-alun kota Klaten, disana kami memutuskan istirahat sebentar dan membeli donat langganan keluarga kami, yang terletak di deretan ruko sebelah selatan pas dari lapangan alun-alun Klaten. Rukonya khas banget dengan warna biru muda di daun pintu dan jendela, temboknya berwarna putih. Di depan ruko ada wajan penggorengan besar, yang selalu terisi dengan minyak goreng yang super banyak itu. Menu yang enak banget adalah donat, bolang-baling dan kue moho merah muda dan putih.

Oh iya, tante-tante bermata sipit khas Chinese lah yang merupakan pemilik dari ruko penjual donat tersebut, sekaligus sebagai koki peramu adonan donat super lezat, yang sudah menjadi langganan keluarga kami sejak tahun 80-an. Setiap beli disitu, aku selalu berusaha menangkap logat khas pedagang Chinese ketika berbicara.. Unik dan lucu, menurutku sih. Hahaha. Sekitar tahun 2012-an (aku lupa pas-nya, sih) ketika sederet ruko tersebut (yang entah kenapa) dibongkar, penjualnya pindah.. dan sayangnya aku belum tahu kemana pindahnya. Pernah sih, nemu tante-tante yang merupakan adiknya penjual donat tadi di tikungan dekat Sop Ayam Pak Widodo. Tapi pas suatu waktu aku kesana lagi, kok ya pas gak jualan.  eeeh…kok malah bahas donat.. ahhaha. lanjut..

Selepas istirahat menikmati lezat hangatnya donat yang ditaburi meses coklat, kamipun lanjut perjalanan ke Jogja.. tetap dengan diiringi hujan, tetapi tinggal gerimis saja. Singkat kata, sekitar pukul 7:30 malam kami sampai di RS Sardjito. Eh ternyata, aku dan mbak Ayank tidak boleh masuk dan hanya boleh lihat dari kaca jendela luar. Di dalam kamar ada mas Har, kakak ipar aku yang menunggui mbak Retno, kakak aku yang melahirkan itu.

Dikarenakan tidak bisa bertemu Mbak Retno di malam itu, aku dan mbak Ayank pun hanya duduk di sekitar bangsal sambil bercerita. Sampai sekitar pukul 9-an malam, kakak ipar aku, mas Har, beliau bisa keluar dan menemui kami sebentar dalam rona kebahagiaan tentunya. Kami sangat berbahagia, karena ponakan aku ini (Teza), merupakan anak yang ditunggu-tunggu oleh Mas Har dan Mbak Retno, setelah keguguran dan menunggu cukup lama.

Waktu menunjukkan waktu sekitar pukukl 11-an malam, kami semua mulai mengantuk. Mb Ayank dan saudara dari keluarga mas Har (maaf lupa detilnya), tidur di dekat pintu masuk bangsal tempat mb Retno dirawat (eh, istilah ibu2 yang menginap di RS setelah melahirkan itu “dirawat” khan ya?).. Sedangkan aku sendiri bingung, mau merebahkan badan dimana. Banyak orang lain yang juga tidak kebagian space lantai, memilih menggelar tikar di atas rumput yang basah karena hujan dan embun malam. Dalam hati aku bertanya.. “Lah aneh, bukane dingin dan airnya khan bisa tembus ke tikar, ya?”.

Aku pun memutar kepala dan mata, mencari lokasi yang kosong. Nah dapat. di sebelah agak selatan dari bangsal itu ada kedai fotokopi yang sudah tutup, yang di sebelah kanannya fotokopi itu ada tangga ke lantai dua. Di depan fotokopi itu ada beberapa bangku panjang yang.. kosong dan agak gelap, karena 3 deret lampu di area itu mati. Wah, ini spot yang pas buat tidur, pikirku.. Aku pun berbaring di bangku panjang itu dengan berbantalkan jaket. Beruntung kala itu, tidak ada nyamuk yang menyerang. Sambil agak termenung, pikiranku melayang tentang rangkaian perjalanan hari ini yang melelahkan. Karena jaket yang aku fungsikan sebagai bantal ini kurang tebal, kedua tanganku pun masuk kebawah gumpalan jaket supaya kepala lebih tegak. Tak berapa lama.. Byar…

Lhoh ..lhoh.. suasananya jadi kok terang, seperti siang hari. Gang gelap depan fotokopi  tempat aku berbaring itu tiba-tiba jadi rame orang lalu lalang. Ada orang sakit yang digledek (didorong di atas dipan) dan diiringi oleh keluarganya.. Ada Mas-mas dokter muda yang mengiringi.. di belakangnya ada beberapa anak gadis usia TK berambut coklat yang mengikuti dan berlarian sambil membawa balon.

“Lah, ini gimana tho .. adek-adek jam segini kok belum pada tidur tho, khan sudah malam..” gumamku.

Sampai beberapa menit kemudian, lalu lalang orang yang rame banget, mirip jam besuk (jam mengunjungi orang sakit di rumah sakit) di siang hari itu berlangsung. Lengkap dengan suara ribut2nya orang yang berbicara. Ada yang bercanda ada yang jalan dalam diam.. ada yang berbisik-bisik.. Nah.. akhirnya tiba-tiba keadaan ramai itu berhenti dan kondisi kembali seperti awal. Kembali gelap, sepi dan hanya ada aku sendiri yang berbaring di bangku panjang depan fotokopi itu. Karena merasa aneh, sambil tetap tiduran, aku memutar kepala ke kanan hingga menengok ke belakang. Oh.. beneran sepi dan agak gelap, karena hanya kena bias dari sinar lampu neon yang berjarak 5 meteran dari situ. Sewaktu aku kembali memutar kepala ke arah kiri untuk meluruskan kepala.. tiba-tiba di sebelah kanan fotokopi, tepatnya di tangga paling bawah, disana ada satu orang mbak-mbak usia sekitar 25-26 an tahun, rambutnya panjangnya agak dibawah bahu, wajahnya sendu, sedih dan matanya menatap kedepan agak jauh. Oh iya, bajunya mbak itu kayak daster terusan warna peach atau putih abu-abu.. gak begitu jelas sih..

Aku memandang wajah mbak itu sambil bertanya dalam hati “eh mbak ini kok malam-malam begini ada disini, wajahe kasian amat sih?”. Mbak itu pun sedikit menoleh kekiri untuk memandang ke arahku. Kami saling pandang-pandangan tuk sekian detik #eaaa

Setelah beberapa detik saling memandang. Dalam hati aku bertanya “Lah mbak, ngapain e mbak malah disini..”. Eh, lha kok tiba-tiba mbak itu mendekat.. dari jarak awal 3 meteran, dia mendekat hingga sekitar satu meteran dari aku. Jreng-Jreng… Aku kaget berteriak tertahan sambil menjatuhkan diri dari bangku, untuk kemudian segera berdiri mengambil jaketku dan .. berlari … Kenapa aku berlari?

karena .. si mbak itu tadi mendekat ke aku tidak dengan cara berjalan….., tetapi melayang cepat dengan halus dari tangga ke depanku. Sreseee…eettt gitu.

Tanpa menoleh kebelakang, aku pun menuju lokasi mbak Ayank tidur. Suasana sepiiii banget. Disana aku hanya bisa duduk dan bersandar ke tembok sekitar satu jam-an.. sebelum akhirnya tertidur. Sekitar pukul 3 pagi, aku dibangunkan oleh mbak Ayank, supaya bersiap untuk balik ke Solo. Aku musti sekolah dan mb Ayank musti masuk kuliah pagi. Setelah menitipkan STNK dan kunci motor suzuki RC 100 punya Bapak ke mas Har saat pamitan, kami pun berangkat balik ke Solo berboncengan naik motor Astrea Star. Selama perjalanan, kami bisa stabil jalan 70-80 km/jam dan tak sampai pukul 5 pagi kami sudah sampai di rumah kontrakan Solo. Sehabis subuhan, sambil bersiap-siap untuk hari itu, aku baru bercerita ke mbak Ayank perihal kejadian semalam. Respon mbak Ayank hanya: “Hah mosok sih dek”. Akhirnya pembahasan itu berakhir dan kami pun lanjut beraktivitas masing-masing, karena sekolahku bel masuk pukul 6:30 pagi, sehingga sisa waktu untuk siap-siapnya cukup mepet.

—Jeda 2 hari—

Saat itu hari sabtu, kami pun pergi ke Jogja lagi untuk menengok ponakan kami. Disana, kami bertemu dengan Bapak dan Ibu kami. Setelah bercerita sana sini, aku pun ingat tuk menceritakan kejadian yang aku alami ke mb Retno. Mbak Retno yang kebetulan bekerja di RS Sardjito sudah lama, kaget ketika tahu aku tiduran di depan fotokopi itu. Mbak Retno bilang: “Lampu di depan fotokopian itu memang sengaja dimatikan dan orang-orang gak ada yang berani disitu kalau malam, ya karena disitu angker Dek..”. Aku pun terdiam. Mbak Retno melanjutkan ceritanya: “Lagipula, didepan fotokopian itu adalah ruang operasi dan udah lumayan sering ada yang melihat aneh-aneh disitu”. Perasaanku pas aku dengar cerita beliau? “Deg !!” Speechless..

..

Sampai jumpa di cerita terseram #1 selama hidupku hingga saat ini, di postingan saya selanjutnya yaaa… 🙂

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *