Mengupas Pertanyaan “SARA” bagi Mahasiswa: Kamu Kapan Lulus?

credit image (IG): tahilalats

A: “Sampai mana thesis-mu?”.

B: “Masih dikerjakan”.

A: “Kapan kamu akan selesai? Si Bejo yang seangkatan ama kamu lho udah sidang”.

B: “—-” (belum sempat menjawab)

A: “Kamu sih, selo banget.. main mlulu… hangout mlulu”. Kamu kapan lulusnya..??
bla bla bla bla
#ceramahdimulai

B: #ngasahpisau

———————————

Percakapan diatas bisa saja dianggap fiktif atau nyata, tergantung dari persepsi masing-masing pembaca. Tapi yang jelas, aku dan hampir semua temanku mengakui pernah mendapat pertanyaan yang (bagi sebagian mahasiswa) termasuk “pertanyaan maut”. Hahaha sadly but true.

Terus bagaimana kita harus bersikap, ketika mendapat pertanyaan itu? Jawabannya hanya satu: terus kerjakan tugas akhirmu dan masa bodoh dengan pertanyaan semacam itu.

Terus mengerjakan tugas akhir sih aku paham, tapi gimana caranya masa bodoh?

Nah ini, dari pengamatan saya sejak jaman S1 yang tahun duuuluuuu banget hingga sekarang.., hampir semuanya yang menanyakan “Kamu kapan lulus” itu sebenarnya hanya ingin tahu doang, sebagian hanya ingin menohokmu dan bukan membantumu. Jadi cuekin aja orang-orang yang seperti begitu. Kenapa aku menyimpulkan begitu.. Karena.. Sehabis menanyakan kapan lulus, biasanya rentetannya ya nyalahin kita yang begini begitu. Iya, nyalahin doang. Hanya sedikit banget orang, yang setelah bertanya “kamu kapan lulus” itu melanjutkan dengan pertanyaan yang menyejukan semacam:

“Lha kamu ada kesulitan apa? Aku bisa bantu apa nih?”

Nah kalau dilanjutkan dengan pertanyaan diatas, adem rasanya.. beneran. Biasanya kita akan menjawab: “Mohon doanya ya, semoga aku bisa segera selesai” kalau kita tidak terlalu dekat dengan orang tersebut atau kita merasa sungkan tuk meminta tolong.

Kalau yang menawari bantuan adalah orang yang kita anggap dekat, sah-sah saja kita kemudian meminta bantuan misalnya bacain abstract kita atau bantuin kasih masukan analisa statistik berikut cara membacanya.

Sebenarnya, apa aja sih yang bisa membuat seseorang itu lulusnya lebih lambat daripada orang lain? Jawabannya hanya ada dua: akademik dan non akademik.

  1. Hambatan Akademik
    – Data penelitian yang kacau menjadi penghalang atas selesainya tugas akhir.
    – Kemampuan menulis juga sering menjadi penghalang, meski mahasiswa tersebut memahami data dan juga lancar presentasi.
    – Dosen yang perfeksionis hingga titik koma yang njlimet hingga revisi bolak balik, membuatku memasukkan dalam kategori akademik ini.

  2. Hambatan Non Akademik
    – Kondisi psikologi seseorang merupakan masalah utama yang berperan sebagai penghambat. Orang yang sedang “jatuh” misalnya patah hati dan merasa dunianya runtuh, bisa membuat tugas akhir menjadi prioritas yang kesekian. Hal sebaliknya yaitu jatuh cinta, bisa 50-50. Jatuh cinta bisa membuat semangat mengerjakan tugas akhir. Tetapi, jatuh cinta juga bisa membuat orang tidak memprioritaskan tugas akhirnya. Tak jarang, karena tak kuat menghadapi hambatan akademik, seseorang bisa merasa … stress berat hingga depresi. Ada yang stressnya jadi pendiam. Ada yang stressnya jadi super sensi tingkat dewa. Stress paling parah ada beberapa teman yang sempat kepikiran untuk mengakhiri hidupnya.
    Dosen yang susah ditemui merupakan masalah klasik yang sepertinya, cukup sering ditemui di Indonesia. Paling tidak dari cerita teman-teman, dibandingkan dengan di Thailand, lebih mudah menemui dosen di Thailand.
    – Menikah, hamil atau punya anak. Ada teman yang belum selesai kuliah, tetapi menikah dan hamil yang sehat, beliau memutuskan untuk cuti kuliah selama masa kehamilan hingga melahirkan. Karena bahagia, bagi beliau, kuliah menjadi prioritas yang kesekian.
    – Kerja. Bisa memang nyambi kerja di kantor atau aktif di komunitas hingga bikin olshop. Apalagi kalau ditambah stress data atau sulit menulis, saat seseorang bisa menghasilkan uang, akan cenderung menempatkan tugas akhir kuliah di prioritas yang kesekian.

Hmm, selain yang telah aku jelaskan di atas sih, masih banyak, tetapi aku hanya pilih yang kira-kira utama saja. Silahkan ditambahi faktor yang lain ya…

Keep fighting!
🙂

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *