Masuk Angin, Pilek, Batuk dan Ping Pong

credit image: freepngimg.com

Sekitar seminggu yang lalu, aku mempunyai target dua tulisan. Satu untuk diikutkan ke kompetisi mengisi buku dan satu lagi update-an blog ini. Semua sudah hampir tertata rapi dan tinggal stick to the plan alias follow the schedule. Namun semua pun bubar gegara aku drop radang tenggorokan dan berlanjut ke demam, pilek hingga batuk.

Lucunya, semua ini aku duga berasal dari hal sepele banget yaitu sembrono. Begini cerita lengkapnya..

Sejak dua tahun yang lalu, aku sudah mengamati bahwa aku dan teman-teman yang belajar di HatYai Thailand, umumnya jarang sakit – kalau tidak bisa dibilang selalu sehat. Aku si ketemu dokter cuma sekali, itupun gegara serangga tomcat. Udara Hat Yai memang panas, tetapi konsisten panas dan yang utama, minim polusi.

Polusi udara bisa dibilang nihil karena hampir tidak ada orang yang merokok di fasilitas publik. Selain itu, asap kendaraan yang hitam atau putih pekat khas kendaraan-kendaraan tua seperti di Indonesia juga tidak ditemui. Hal ini jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia, seperti yang aku alami.

Sedari kecil, tenggorokan aku memang sensitif terhadap debu dan asap. Sehingga ketika terpapar asap rokok atau dari pembakaran sampah maupun terkena hembusan debu-debu halus jalanan, dalam waktu sekejap tenggorokan bisa terasa kering dan mulai terasa haus alias ada radang.

Nah kuncinya di pencegahan radang ini. Begitu radang, aku harus ekstra hati-hati makan dan menjaga stamina tubuh. Kenapa? Karena kalau ‘terpeleset’ sekali saja drop, maka akan menyambung ke demam dan pilek, Fase akhir sakitnya adalah batuk berdahak.

Inti dari pencegahan radang tenggorokan ini cuma satu: menghindari sumber infeksi.

Kembali lagi ke ceritaku tentang asal muasal aku kena flu batuk ini. Aku terkena radang setelah tidak sengaja tertular dari Aria, anakku yang sudah terlebih dahulu batuk pilek.

Sebenarnya, saat tahu Aria sakit batuk pilek, aku dan istri sudah menjaga jarak dengan Aria. Menjaga jarak itu maksudnya kami membedakan mana makanan Aria dan kami, mana sendok dan piring Aria dan lain sebagainya. Oh iya, termasuk urusan tidur, kami memisahkan selimut bantal guling dengan Aria.

Ketika Aria sudah melewati puncak infeksi alias sudah tidak demam dan sudah mulai pilek, kami konsisten menjaga jarak. Hingga suatu sore Aria menawari aku potongan donat Aria yang tidak habis dimakan.

Saat itu aku lupa, bahwa Aria tidak memotong dengan alat (pisau atau sendok) tetapi itu adalah donat yang tidak habis dimakan Aria dan ada bekas gigitan Aria dan aku memakannya.

Esok paginya, ketika bangun jam 5 pagi, aku merasa tenggorokanku terasa kering dan buat menelan sudah mulai sakit. Aku pun bergumam sambil menyesal. Duh, karena sayang membuang sisa donat, aku jadi terpapar infeksi. Dan memang urutan sakitku selalu sama:

Tenggorokan terasa kering >> Radang Tenggorokan >> Demam >> Pilek >> Batuk berdahak

Untungnya, Aria sudah hampir sembuh pada hari kelima. Sedangkan aku masih fase Pilek dan Batuk berdahak yang entah kenapa, cukup lama sembuhnya.

Saat ini, kami sekeluarga sedang berhati-hati agar tidak terjadi olahraga yang kami hindari yaitu: Ping Pong. Maksudnya adalah tidak terjadi tukar menukar virus Flu antara Aku-Aria-Istri dan balik lagi. Kami trauma ini terjadi, karena kami pernah bergantian sakit hingga 3 bulanan dan itu rasanya tersiksa.

Tersiksa secara fisik dan juga DOMPET.

Getas, 23 Oktober 2017

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *