Menikah dengan rekan satu kantor. Setuju atau tidak?

Terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membolehkan seseorang menikah dengan rekan kantor, tentu ditanggapi beragam. Ada pihak yang bersyukur karena akhirnya bisa menikahi rekannya tanpa harus ada salah satu yang resign. Tetapi, ada juga orang (bisa bawahan/atasan) merasa dirugikan dengan keputusan ini. Kalau menurut arigetas.com bagaimana?

Sampai dengan saat ini, saya mempunyai pengalaman bekerja di perusahaan hingga 10 tahun, sekaligus 7 tahun berkuliah di dalam dan 3 tahun luar negeri . Selama puluhan tahun itu, saya mengamati adanya pasangan (cowok-cewek) baik sebagai teman kuliah, rekan kerja hingga atasan.

Suka dukanya apa sih, kita berinteraksi dengan mereka (pasangan) dalam kehidupan sehari-hari? Berikut daftar yang saya buat daftar berdasarkan pengalaman:

Positifnya:

  1. Kita bisa melihat dan belajar, bagaimana mereka menjadi tim yang biasanya lebih solid dan saling support daripada tim yang bukan pasangan. Biasanya, pekerjaan menjadi lebih baik kualitasnya, karena berdua saling melengkapi dan total membantu satu sama lain. Misalnya tiba-tiba yang satu sakit, pasangannya akan rela hati menggantikan.
  2. Yang kedua apa ya? Sepertinya hanya itu sisi positif yang bisa saya dapetkan. Hal positif lainnya? Menurut saya ya tidak berbeda dengan hal positif dari tim yang non pasangan.

Negatifnya:

  1. Karena pasangan yang bekerja di satu kelompok belajar/kantor, maka mereka akan solid alias mempunyai ikatan yang kuat. Bahkan, kadang terlalu kuat hingga berlebihan. Misalnya dalam rapat, Si cewek melakukan sebuah kesalahan dan ketua tim menegurnya didalam rapat. Hasilnya, si cowok (pasangannya) dengan penuh semangat membela si cewek .. pokoknya gak boleh dimarahin. Seringkali, yang akhirnya berdebat dalam rapat malah si cowok dengan si ketua. Si cewek? Ya diem-diem manja aja.
  2. Karena contoh negatif diatas (contoh no 1), ketika ada cowok/cewek pasangan yang melakukan kesalahan kerja, maka ketua tim/atasan tidak menegurnya dengan keras. Sedangkan ketua/atasan tersebut biasanya “galak” ke anggota lain yang melakukan kesalahan serupa. Ya, mirip-mirip dengan ketua/atasan yang menemui kesalahan yang dibuat oleh anak orang penting ==> gak galak. 
  3. Hal menjengkelkan lainnya adalah ketika didalam tim kerja, ada pasangan yang sedang marahan. Berefek buruk ganda di dalam kerja tim. Kenapa? Ya karena biasanya mereka yang non pasangan sedang marahan dengan pasangannya… Ketika di kantor tetap bisa lebih profesional karena rumah dan kantor merupakan ekosistem yang beda.
  4. Top of the top nyebelin alias jengkelnya adalah ketika ketua kelompok itu pasangan dari anggota tim. Biasanya, banyak kerugian yang diterima oleh anggota lainnya. Misalnya, jadwal rapat jadi mengikuti jadwalnya mereka. Lebih jauh, jalannya rapat bisa jadi udah diatur oleh mereka dalam diskusi malam sebelumnya. Misalnya, kapan pekerjaan/tugas musti diselesaikan (ditunda/dipercepat) karena mereka sudah punya jadwal jalan-jalan/liburan sendiri. Nyesek, kan?

Nah, dari sekian yang sudah saya sampaikan di atas, kesimpulan saya bagaimana?

Saya 80% tidak setuju dengan dibolehkannya pernikahan dengan rekan satu tim (kerja, kelompok hingga belajar). Karena pasti ada saja konflik kepentingan terdapat di perjalanannya.

Lhoh kok 80%? Yang 20% setuju? Iya. Asalkan mereka (pasangan) itu bisa benar-benar profesional dalam melaksanakan pekerjaannya alias membedakan mana urusan sebagai pasangan, mana urusan sebagai rekan kerja.

Ada lho, kenalan saya, seorang istri yang ada di level struktural  atas, sedangkan suami adalah pelaksana lapangan.

Pernah dalam suatu sidak, si istri menemui si suami melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak sulit. Hasilnya? Si istri memarahi sang suami dengan sangat galak. Menurutku sih lebih galak daripada marahnya ke orang lain yang melakukan kesalahan yang sama.

Alasannya?

Si Istri merasa malu karena si Suami masih saja melakukan kesalahan kerja, padahal posisi si Istri adalah atasan. Profesional? Iya.

Nah, sekarang kita balik. Ada seorang suami yang menjadi atasan dan si istri menjadi bawahannya. Ketika dalam sidak, ditemui si istri melakukan kesalahan, maka akan ada pertanyaan:

Apakah suami akan memarahinya lebih galak dibandingkan apabila orang lain yang melakukan kesalahannya? Silahkan dicoba.. maka suami harus bersiap-siap tidak mendapat “jatah” dari istri. Atau paling tidak, saat di rumah, si suami harus lebih berlembut-lembut meminta maaf.

Hahahahaha. Eh itu hanya imajinasi pendapatku saja lho ya. Nah, kalau ingin berimajinasi level lanjut bayangkan ini:

Bagaimana ya, kalau Walikota dan Wakil walikota hingga Presiden dan Wakil Presiden itu pasangan suami istri?

Misalnya di Azebaijan yang Presidennya mengangkat istrinya menjadi wakil presiden. Kira-kira bagaimana ya kalau itu terjadi di Indonesia?

Bisa jadi sih, pendapat ala bercanda:

Suami itu kepala keluarga tetapi istri adalah leher keluarga itu benar adanya. Kenapa? Karena otot leherlah yang bertugas membelokkan kepala. Hahaha.

Selamat berimajinasi.

note: mohon maaf kalau ada yang tersinggung, tersungging hingga sebel dengan postingan ini. Karenanya, saya sendiri 100% sedari dulu tidak setuju andaikata istri saya bekerja di kantor yang sama dengan saya. Alasannya: (1)tidak bebas, (2)pasti saya tidak profesional.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *