Typo-mu Harimaumu

Dalam satu hari, berapa kali kah anda mengirim pesan singkat via WhatsApp misalnya? Saya sendiri sih menghabiskan banyak waktu berselancar di dunia chat dan media sosial. Ini termasuk kebiasaan buruk sih, dan sudah pasti saya ingin membatasi atau minimal mengurangi intensitas bermedia sosial.

Cuma kapan mulainya, saya belum tahu.. #eh

Lebih jauh, saya juga ingin seperti Pak Ivan Lanin atau Pak JS Badudu, yang piawai menyusun kata menjadi kalimat yang enak dan mudah dipahami ketika membuat tulisan. Ah, bagi saya, itu mimpi tahap lanjut yang menjadi prioritas ke sekian. Kenapa?

Alasannya sih sederhana. Saat ini saya hanya ingin membebaskan diri dari “hantu” penulisan yang bernama salah ketik alias “typo”.

Kejadian salah ketik ketika kita mengirimkan pesan singkat ke grup WhatsApp alumni sekolah sih, masih bisa kita belokkan ke candaan. Berbeda cerita jika salah ketik tersebut terjadi saat kita menulis surel resmi. Kesan tidak serius langsung disematkan ke diri kita. Minimal, kita akan dianggap sebagai seseorang yang tidak teliti.

Nah iseng-iseng, saya pun mengumpulkan kata-kata yang misalnya menjadi salah ketik satu huruf saja maka makna kalimat tersebut menjadi rancu bahkan hancur. Berikut contoh-contohnya:

Sayang, mau gak nanti malam kamu nenenin aku?”
“Sayang, mau gak nanti malam kamu nemenin aku?

Wow. Beda satu huruf bisa membuat arti kalimat menjadi horror. Oke, contoh lain misalnya saat seorang Ibu mengomeli anakknya via pesan singkat:

Bunda: “Jadi anak jangan cengeng, baru segitu aja udah nyerah. Jadi laki-laki itu musti A, B, C….”
Anak: “Tai..!! Aku udah gede kok masih aja diomelin sih, Bunda?”
Bunda: “Plakkkk…..!!”

Duar.. Arti kalimat di atas menjadi bubar sebubar-bubarnya. Aslinya, si anak karena jengkel mau mengetik:

“Tau..!! Aku udah gede kok masih aja diomelin sih, Bunda?”

Berikutnya pengalaman salah seorang teman saya, seorang ibu-ibu yang sering mengisi tausyiah online via grup WhatsApp. Waktu itu, beliau menjawab pertanyaan salah satu jamaahnya, Bu Anis:

“Jadi begini Bu Anus, salah satu metode penentuan awal bulan ramadhan itu ya memang harus melihat hilal.”

Penyebab salah tulis tersebut sederhana dan sebenarnya manusiawi, yaitu huruf yang berdekatan di papan ketik di telepon genggam atau laptop kita. Masih kurang contoh lain? Lanjuut….

Ada juga meme chat kekinian tentang salah ketik yang berujung pertengkaran antara sepasang kekasih:

A: “Yang, ini toketnya udah aku pegang”
B: “Eh laki-laki mesum! Otakmu kenapa sih selalu pikirannya ngeres? Kebanyakan liat bokep sih kamu!”
A: “Salah ketik Yang.. maksud aku tiket buat kita nonton nanti malam”
B: “Gak sudi ah keluar nonton ama cowok mesum macam kamu. Mendingan kita putus aja!”
A: ….

Baiklah. Sekarang bayangin pembicaraan di grup WhatsApp kantor. Setelah pembicaraan kerjaan selesai dan anda membicarakan hal lain yang ringan-ringan, misalnya tentang keluarga.

A: “Saya sayang banget sama keluarga saya Pak. Saya rela capek kerja seperti ini demi mereka.”
B: “Iya lah Pak, saya juga demikian. Apalagi demi anal”.
A: “Eh.. kok sama Pak?”
B: “Lhoh jadi ..??”

Jreng jreng… Pengakuan dosa pun dimulai.

Ah, dari tadi kok isinya menjurus semua ni mas arigetas. Yang contoh salah ketik level biasa aja donk. Oke.

A: “Terima kasih atas ordernya ya kakak, saya offline dulu”
B: “Sama-sama yak, mati.
A: “Lhah?”
.
.
.
.
Yak, mari euyyy … mariiii…
😀

Jadi gimana? Repot tidak kalau sampe ada masalah gara-gara salah tulis?
Repot kan?

Bangst! Eh, maksudnya: Banget!

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *