Kenapa Tidak Ada Orang Berantem Karena Beda Selera Film Bokep

Kamu pemakai media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram atau Twitter?

Pasti tahu kan kalau medsos kita makin panas sejak 2014 yaitu waktu pilpres antara Jokowi vs Prabowo? Kemudian kamu pasti juga tahu kan, membaranya medsos saat pilkada jakarta 2017 yang puncaknya adalah adanya demo yang bertujuan memenjarakan Ahok?

Karena medsos lah, kita bisa mendapatkan thermometer suhu politik sekaligus mesin seleksi pada siapakah teman-teman atau saudara kita berpihak.

Dari medsos lah, kekreatifan diuji saat orang membuat meme satire hingga bagaimana Fadli Zon makin piawai membuat puisi? Juga Fahri Hamzah dengan segala ceplas ceplos pedasnya di twitter? Ada juga Prof Mahfud MD yang rutin menengahi hingga memungkasi diskusi, eh, twitwar dengan banyak orang.

Kamu pasti paham kan, adanya Jonru yang dengan gencar dan gaharnya posting di Facebook tuk kemudian terpeleset dan akhirnya harus berurusan dengan penegak hukum? Atau Buni Yani? Kemudian ada pula Saracen, Muslim Cyber Army (MCA) yang akhir-akhir ini banyak banget kita temui di Instagram. Mereka pun mempunyai lawan yang menggiatkan hal yang relatif senada di kubu lawannya, misalnya Jasmev. Bedanya, silahkan nilai sendiri mana yang lebih banyak mengupload konten positif.

Kalau kita ambil benang merah dasar dari apa yang disampaikan di atas, sebenarnya hanya ada dua pihak yang berseteru. Pendukung pemerintah sekarang (Jokowi) dan lawan politiknya, tentu pasti ada pembonceng. Siapapun yang menemukan celah kelemahan lawannya, pasti celah tersebut akan dibuat isu dan digoreng hingga kering.

Lucunya, dalam perpolitikan itu tidak ada lawan dan kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan.

Ketika kamu membaca terutama di pihak yang kontra dengan pemerintah, mereka sebenarnya memiliki perbedaan prinsip … tetapi karena falsafah:

Musuh dari musuh saya adalah kawan saya.

Maka mereka bisa menyatu melawan lawan politiknya yaitu pemerintah. Nah, ketika mereka yang bersatu tuk melawan pemerintah, ternyata kemudian ada salah satu pihak yang sudah tercapai tujuannya, bisa saja melupakan pihak “kawan”.

Misalnya dari fenomena pilkada Jakarta 2017 dengan banyak rentetan demo hingga berujung dipenjaranya Ahok dan terpilihnya Anies Sandi, kita bisa merunut tentang yang namanya kesetiaan atau loyalitas. Kamu silahkan saja menilai di masing-masing pihak, dengan berjalannya waktu, siapa dan berapakah jumlahnya yang masih mendukung Ahok dan yang mendukung Anies Sandi. Termasuk pula, apakah masing-masing pihak pendukung tetap adem ayem atau ada perpecahan.

Perbedaan pendapat dan pendapatan bisa memicu pecah kongsi, ketika kita bicara masalah politik yang mengalir lewat sungai kekuasaan dan bermuara pada kepentingan ekonomi (pribadi atau banyak pihak).

Hal ini berbeda dengan selera film bokep alias film porno. 

Kamu dan aku sudah sama-sama dewasa kan? Pasti tidak asing alias (sok) kaget dengan adanya film saru alias bokep yang bersliweran di dunia maya ini. Sekarang coba kamu tanya, minimal di grup cowok-cowok, tentang pilihan film bokep favorit mereka.

Ada yang akan menjawab kalau suka JAV, misal Miyabi, yang sekarang sudah pensiun … hingga bintang lain yang bahkan namanya pun hampir tidak pernah terdengar (cari sendiri, ya!). Mereka (fans JAV) beralasan karena pemain JAV itu imut-imut dan sering malu-malu (padahal sepanjang film juga mereka teriak-teriak sok gak mau #eh). Tantangannya, musti pinter-pinter cari film yang tidak disensor. Harap maklum, Jepang sensornya sadis kalau untuk film seperti ini.

Ada juga yang suka bokep Indonesia Girls Only (IGO) dengan alasan, meskipun film bokep IGO itu (biasanya) dibuat hanya dengan kamera ponsel (kelas menengah bawah) yang sering acak adut hasilnya, tetapi asli alias otentik dan bukan sandiwara (script). Kebanyakan, film tersebut sebenarnya dibuat untuk dokumentasi pribadi tetapi bocor karena ponsel hilang atau masuk service-an kemudian disebarin oleh maling atau teknisinya. Tantangannya, musti terima aja jika video blur, suara gk masuk dengan jelas atau pemainnya dimana sedangkan kameranya nyorot kemana. Hahaha.

Atau, juga ada yang penggemar berat interracial alias yang beda ras-nya, misalnya cowok barat dengan cewek asia, kayak Om John Tron dengan sex diary-nya yang tersohor di forum-forum. Atau juga ada yang hobi banget cowok kulit hitam dan cewek kulit putih etc. Ada banyak juga tuh, mau genre bokep apa saja juga ada. Misalnya mulai dari yang biasa, sampai yang diiket juga ada. Yang aneh bin nyleneh hingga orang akan menganggapnya kelainan juga ada, misalnya scat porn.

Pokoknya jangan di-googling kata kunci “scat porn” .. pokoknya jangan .. I’ve warning you.

Lhoh, tapi kan di Indonesia sudah ada Internet Positif yang buat ngeblok website yang gak bagus-bagus gitu? Ehm, tidak harus menjadi seorang hacker untuk bisa mengakali blokade ini kan ya? Ada namanya VPN mau yang free hingga berbayar. Ada juga beberapa browser juga sudah built in dengan fitur itu.

Preferensi film bokep bisa beda-beda.

Tetapi belum pernah ada kasus sesama orang yang minat bokep jadi berantem gara-gara beda selera, kan?

Sekarang coba gini, ada gak yang bilang: Huu kok sukanya lihat JAV sih? Menye2 gitu filmnya … mending yang fake taxi donk lebih menantang dsb? Terus dibalas ngebully hingga menyerang fisik lawan diskusi ala ad hominem dengan berkata:

Halah, badan lo seuprit aja sok-sok an ngidolain Mia Khalifa?

Gak ada kann…….

Eh, kamu belum tahu apa itu ad hominem? Itu lho, orang membalas lawan debat bukan tentang isi debatnya tapi menyerang personal misalnya:

Eh sok-sok an ceramahin gw.. benerin dulu tu ngetiknya.. typo aja sok sok an…

atau contoh lain:

Ngapain lo ngajarin gw tentang milih presiden? Lo aja belum nikah dasar gak laku.

Nah kenapa begitu? Entahlah pada suka banget panas dan ramai karena pilkada.

Akhir kata, pesanku cuma satu:

Jangan Bugil di depan Kamera!

Udah gitu aja.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *