Kenapa Tidak Ada Orang Berantem Karena Beda Selera Film Bokep

Kamu pemakai media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram atau Twitter?

Pasti tahu kan kalau medsos kita makin panas sejak 2014 yaitu waktu pilpres antara Jokowi vs Prabowo? Kemudian kamu pasti juga tahu kan, membaranya medsos saat pilkada jakarta 2017 yang puncaknya adalah adanya demo yang bertujuan memenjarakan Ahok?

Karena medsos lah, kita bisa mendapatkan thermometer suhu politik sekaligus mesin seleksi pada siapakah teman-teman atau saudara kita berpihak.

Dari medsos lah, kekreatifan diuji saat orang membuat meme satire hingga bagaimana Fadli Zon makin piawai membuat puisi? Juga Fahri Hamzah dengan segala ceplas ceplos pedasnya di twitter? Ada juga Prof Mahfud MD yang rutin menengahi hingga memungkasi diskusi, eh, twitwar dengan banyak orang. Continue Reading

Belajar Adu Mental itu Sama Zhang Beiwen

Credit: hindustantimes.com

Hai badminton lovers. Baru saja gelaran India Open 2018 selesai.

Indonesia memastikan juara umum dengan 2 gelar juara dari Ganda Putra Kevin/Gideon “The Minions” dan Ganda Putri Greysia Polli/Apriani (GreyAp). Sedangkan Praven/Melati (PraMel) menjadi Runner up di sektor Ganda Campuran.

Kemenangan di India Open 2018 ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa Indonesia jago kandang, setelah sepekan sebelumnya juga menjadi juara umum pada gelaran 2018 Indonesia Masters dengan 2 gelar juara dari The Minions dan Tunggal Putra (Antoni Ginting). Adapun GreyAp dan Owi/Butet (Ganda Campuran) menjadi Runner Up. Keren kan, ada 4 wakil di final.

Fokus tulisan saya bukan membahas tentang hingar bingar keberhasilan para pemain Indonesia yang memang keren mainnya. Perhatian saya jatuh pada sektor Tunggal Putri India Open 2018: Pusarla V Sindhu berhadapan dengan Zhang BeiwenContinue Reading

Kekerasan Antara Guru dan Murid: Haruskah?

Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

Sedih terasa di benak saat membaca artikel koran tentang meninggalnya seorang Bapak Guru muda di Sumenep, alm Pak Budi setelah terjadi tindak pemukulan (dan pencekikan) oleh muridnya. Beliau masih guru honorer (GTT) yang mengampu mata pelajaran seni rupa. Semoga semua dosa almarhum diampuni dan amal beliau diterima Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapinya. Aamiin aamin Allahuma aamiin.

Dalam tulisan ini saya akan menyampaikan buah pikiran saya, yang bisa jadi berbeda dengan anda. Mohon dapat membacanya hingga selesai. Apabila terdapat hal yang perlu diklarifikasi, dipersilakan menulis di komentar untuk kemudian saya perbaiki, karena artikel ini (mungkin) menyentuh hal sensitif perihal kasus alm. Pak Budi dan dengan pengalaman yang saya alami sejak SD-SMP-SMU-S1-S2 (saat ini).  

Saya mencoba merunut mulai dari pemberitaan di Jawapos di sini. Atau kronologi pada pemberitaan Kumparan disini.

Pada kedua link tersebut, inti kronologi kejadian: si murid mengganggu kelompok lain saat pelajaran melukis. Pak Guru sudah memberikan peraturan di awal, yang mengganggu akan dicoret mukanya. Nah, karena si murid mengganggu, maka Pak Guru mencoret muka si murid dengn cat lukis. Karena tidak terima, maka si murid berang dan memukul, meski kemudian dilerai oleh murid yang lain. Ternyata, terdapat luka dalam di bagian leher Pak Guru, sehingga akhirnya beliau meninggal karena mati batang otak. Almarhum meninggalkan seorang istri yang sedang hamil muda (4/5 bulan).

—–

Saya sangat menyayangkan tindakan kekerasan oleh murid ke guru ini. Kemudian saya ingat, paling tidak di masa sekolah SD-SMU jaman saya.. lebih sering justru terjadi tindak kekerasan dari guru ke murid. Kekerasan atau tindakan fisik yang dilakukan guru ke murid itu dianggap wajar dalam rangka: mendisiplinkan. Nah, ini saya yang tidak setuju.  Continue Reading

Beda Pasangan Cowok Cewek Saat Membeli Barang

“Aku sebel, si Mas beli onderdil sepeda lagi. Diem-diem lagi belinya. Ngapain sih, beli sadel aja musti yang hampir  dua juta rupiah.. belum bajunya bla bla bla .. Duit segitu sih udah bisa buat beli sepeda komplit. Huh!”

Tebak, siapa yang mengeluh seperti itu? Yak, benar! Itu adalah keluhan istri atau bisa jadi cewek – sebut saja Si Mbak – terhadap pasangannya, si Mas. Sebelnya sih (biasanya) karena si Mas mempunyai kebiasaaan: membeli dulu dimarahi kemudian. Kenapa? Ya karena para kaum Adam punya prinsip:

Lebih baik minta maaf karena terlanjur beli, daripada minta ijin untuk beli
(yang pasti tak direstui)

Sebenarnya, alasan si cowok mempunyai prinsip di atas, ya satu dan lain sebabnya karena hobinya sudah menjadi hobi yang terlarang, seperti yang sudah saya bahas di link ini. Nah, itu kan cowok. Kali ini pertanyaannya menjadi: Bagaimana sih kalau kaum hawa pasangan kita saat membeli barang?   Continue Reading

Menikah dengan rekan satu kantor. Setuju atau tidak?

Terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membolehkan seseorang menikah dengan rekan kantor, tentu ditanggapi beragam. Ada pihak yang bersyukur karena akhirnya bisa menikahi rekannya tanpa harus ada salah satu yang resign. Tetapi, ada juga orang (bisa bawahan/atasan) merasa dirugikan dengan keputusan ini. Kalau menurut arigetas.com bagaimana? Continue Reading