Kekerasan Antara Guru dan Murid: Haruskah?

Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

Sedih terasa di benak saat membaca artikel koran tentang meninggalnya seorang Bapak Guru muda di Sumenep, alm Pak Budi setelah terjadi tindak pemukulan (dan pencekikan) oleh muridnya. Beliau masih guru honorer (GTT) yang mengampu mata pelajaran seni rupa. Semoga semua dosa almarhum diampuni dan amal beliau diterima Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapinya. Aamiin aamin Allahuma aamiin.

Dalam tulisan ini saya akan menyampaikan buah pikiran saya, yang bisa jadi berbeda dengan anda. Mohon dapat membacanya hingga selesai. Apabila terdapat hal yang perlu diklarifikasi, dipersilakan menulis di komentar untuk kemudian saya perbaiki, karena artikel ini (mungkin) menyentuh hal sensitif perihal kasus alm. Pak Budi dan dengan pengalaman yang saya alami sejak SD-SMP-SMU-S1-S2 (saat ini).  

Saya mencoba merunut mulai dari pemberitaan di Jawapos di sini. Atau kronologi pada pemberitaan Kumparan disini.

Pada kedua link tersebut, inti kronologi kejadian: si murid mengganggu kelompok lain saat pelajaran melukis. Pak Guru sudah memberikan peraturan di awal, yang mengganggu akan dicoret mukanya. Nah, karena si murid mengganggu, maka Pak Guru mencoret muka si murid dengn cat lukis. Karena tidak terima, maka si murid berang dan memukul, meski kemudian dilerai oleh murid yang lain. Ternyata, terdapat luka dalam di bagian leher Pak Guru, sehingga akhirnya beliau meninggal karena mati batang otak. Almarhum meninggalkan seorang istri yang sedang hamil muda (4/5 bulan).

—–

Saya sangat menyayangkan tindakan kekerasan oleh murid ke guru ini. Kemudian saya ingat, paling tidak di masa sekolah SD-SMU jaman saya.. lebih sering justru terjadi tindak kekerasan dari guru ke murid. Kekerasan atau tindakan fisik yang dilakukan guru ke murid itu dianggap wajar dalam rangka: mendisiplinkan. Nah, ini saya yang tidak setuju.  Continue Reading

Main Yuk. Kemana? Ya mainkemana.com

Setelah sekitar 2 tahun aku memiliki blog arigetas.com ini, entah kenapa tetiba aku ingin membuat satu blog lagi khusus tentang traveling. Kalau bahasa dunia maya, aku membuat suatu niche blog tentang all about traveling yang aku beri nama:

mainkemana.com

Disitu aku akan mencoba membahas tentang pertanyaan dan jawaban yang sering ditemui ketika kita akan pergi liburan. Rentetan pertanyaan biasanya menjadi banyak, ketika tujuan liburan kita adalah mancanegara. Urusan VISA, perihal larangan apa saja yang musti dipatuhi hingga tips apa sajakah yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan liburan kita. Tentu saja liburan hemat ala backpackers hingga mewah ala koper.

Semoga aku bisa punya waktu dan tekad yang baik untuk mengurus dua blog ini. Aamiin ^^v

Apakah Stress dan Depresi Ada di Sekitar Kita?

Tulisan ini aku buat di handphone, di dalam bus Konsortium dalam perjalanan dari Hat Yai menuju Malaysia. Kebetulan aku ada keperluan di KL Sentral selama beberapa hari. Saat berhenti di suatu restoran di Bukit Kayu Hitam – selepas perbatasan Thailand dan Malaysia, entah kenapa, tetiba aku teringat tentang cukup banyaknya orang yang melakukan bunuh diri.

Sejak aku masih kecil, aku sudah mendengar cerita tentang orang yang memutuskan tuk mengakhiri hidupnya. Kalau tidak gantung diri ya minum racun misalnya apotas. Saat itu, aku tidak ada ide ataupun bayangan perihal alasan apa yang digunakan orang tersebut sebelum memutuskan untuk bunuh diri. Continue Reading

Kisah Aria: Bajaj dulu Sebelum Inline Skate

Aria main sepatu roda mode “bajaj”.. tanpa memakai helm dan pelindung siku karena untuk keperluan foto saja.

Sejak beberapa bulan yang lalu, ada trend di kalangan anak2 usia TK hingga SD. Tak lain dan tak bukan adalah sepatu roda. Berbeda dengan sepatu roda jaman lupus dulu .. eh jaman Olga… dimana sepatu roda menggunakan 4 roda ala mobil gitu. Eh tapi itu tahun 80-an kali ya.. hahaha. Aku belum setua itu lah..

By the way, postingan kali ini sih lebih ke nostalgia.

Dahulu jaman aku SD, sempat kepikiran untuk menabung demi mendapatkan sepatu roda model inline skate yang dulu populer adalah merk Rollerblade yang dipajang di etalase suatu toko buku di dekat sekolah.  Akan tetapi, harganya jauh dari jangkauan aku yaitu Rp 220.000,00. Ya maklum lah, aku bukanlah dari keluarga yang berpunya uang lebih buat beli hal-hal seperti ini. Eh iya, pada waktu itu.. bensin masih seharga Rp 500,00 dan aku masih bisa beli gorengan misal tempe itu 100 rupiah dapat 5 buah. Time really flies…. Continue Reading

Kisah Mahasiswa MoDis Hat Yai saat Hari Normal, Ramadhan hingga Lebaran

Nampang foto dulu lah, sebelum sholat Iedul Fitri 1438 H

Dua kali aku menapakkan kaki di kota kecil namun ramai bernama Hat Yai, yang terletak sekitar 60 km ke arah utara dari perbatasan Malaysia. Keduanya meninggalkan kesan yang berbeda asiknya. Tahun 2012 agendanya formal yaitu mendampingi client kantor kami, Bapak – Bapak dari PT Perkebunan selama 5 hari trip ke Singapore, Malaysia dan Thailand. Selama itu pula aku menikmati segala sesuatu yang sifatnya premium. Menginap di Lee Garden Hotel Hat Yai, diantar jemput menggunakan van mewah ke berbagai lokasi wisata hingga dijamu makan dengan menu yang tidak bisa dibilang sederhana (dan murah), merupakan contoh fasilitas harian yang biasa didapatkan.

Tahun 2015 adalah kali kedua aku menginjakkan kaki di Hat Yai. Kali ini untuk belajar hingga tahun 2017. Istilah kerennya, sekarang aku adalah mahasiswa Master yang hidup dengan uang beasiswa. Cerita tentang cara bertahan dan menikmati hidup ala ala mahasiswa tentu berbeda dibandingkan ala karyawan donk ya. Tinggal di asrama mahasiswa dan bergaul dengan mahasiswa lain dari berbagai penjuru dunia dengan segala sifat uniknya, hanyalah satu diantara beribu cerita unik lainnya.

Tapi bukan itu inti cerita yang ingin aku bagikan. Continue Reading