Kenapa Tidak Ada Orang Berantem Karena Beda Selera Film Bokep

Kamu pemakai media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram atau Twitter?

Pasti tahu kan kalau medsos kita makin panas sejak 2014 yaitu waktu pilpres antara Jokowi vs Prabowo? Kemudian kamu pasti juga tahu kan, membaranya medsos saat pilkada jakarta 2017 yang puncaknya adalah adanya demo yang bertujuan memenjarakan Ahok?

Karena medsos lah, kita bisa mendapatkan thermometer suhu politik sekaligus mesin seleksi pada siapakah teman-teman atau saudara kita berpihak.

Dari medsos lah, kekreatifan diuji saat orang membuat meme satire hingga bagaimana Fadli Zon makin piawai membuat puisi? Juga Fahri Hamzah dengan segala ceplas ceplos pedasnya di twitter? Ada juga Prof Mahfud MD yang rutin menengahi hingga memungkasi diskusi, eh, twitwar dengan banyak orang. Continue Reading

Kenapa Orang Lebih Suka Belanja Online Saat Jam Kerja?

credit: tirto.id

Suatu pagi, saya melihat infografis dan berita dari portal tirto.id yang menunjukkan bahwa orang Indonesia cenderung suka berbelanja online saat jam kerja. Ya benar, ada di atas itu kok infografisnya 🙂

Lha kalau sudah ditulis tirto, kenapa arigetas mau menulis ulang?

Saya ingin menuliskan, bahwa hal tersebut berlaku tidak hanya ke anda pekerja kantoran tetapi juga ke mahasiswa. Saya akan mencoba menjawab alasan-alasan dari sisi karyawan dan mahasiswa, perihal perilaku belanja online kita. Sebagai tokoh imajiner, saya sebut namanya Budi.

Continue Reading

Kekerasan Antara Guru dan Murid: Haruskah?

Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

Sedih terasa di benak saat membaca artikel koran tentang meninggalnya seorang Bapak Guru muda di Sumenep, alm Pak Budi setelah terjadi tindak pemukulan (dan pencekikan) oleh muridnya. Beliau masih guru honorer (GTT) yang mengampu mata pelajaran seni rupa. Semoga semua dosa almarhum diampuni dan amal beliau diterima Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapinya. Aamiin aamin Allahuma aamiin.

Dalam tulisan ini saya akan menyampaikan buah pikiran saya, yang bisa jadi berbeda dengan anda. Mohon dapat membacanya hingga selesai. Apabila terdapat hal yang perlu diklarifikasi, dipersilakan menulis di komentar untuk kemudian saya perbaiki, karena artikel ini (mungkin) menyentuh hal sensitif perihal kasus alm. Pak Budi dan dengan pengalaman yang saya alami sejak SD-SMP-SMU-S1-S2 (saat ini).  

Saya mencoba merunut mulai dari pemberitaan di Jawapos di sini. Atau kronologi pada pemberitaan Kumparan disini.

Pada kedua link tersebut, inti kronologi kejadian: si murid mengganggu kelompok lain saat pelajaran melukis. Pak Guru sudah memberikan peraturan di awal, yang mengganggu akan dicoret mukanya. Nah, karena si murid mengganggu, maka Pak Guru mencoret muka si murid dengn cat lukis. Karena tidak terima, maka si murid berang dan memukul, meski kemudian dilerai oleh murid yang lain. Ternyata, terdapat luka dalam di bagian leher Pak Guru, sehingga akhirnya beliau meninggal karena mati batang otak. Almarhum meninggalkan seorang istri yang sedang hamil muda (4/5 bulan).

—–

Saya sangat menyayangkan tindakan kekerasan oleh murid ke guru ini. Kemudian saya ingat, paling tidak di masa sekolah SD-SMU jaman saya.. lebih sering justru terjadi tindak kekerasan dari guru ke murid. Kekerasan atau tindakan fisik yang dilakukan guru ke murid itu dianggap wajar dalam rangka: mendisiplinkan. Nah, ini saya yang tidak setuju.  Continue Reading

Kadang, Contoh Toleransi itu Selucu Tahi Anjing dan Ayam di Perumahan

Ada namanya Pak Bendot, salah satu pamong perumahan yang berlokasi di daerah kentang (kena tanggung). Mau dibilang masuk daerah kota ya belum, tapi disebut pedesaan ya bukan. Orang yang tinggal di dalam perumahannya pun beragam. Ada yang memang asli dari desa sekitar, ada juga yang memang dari kota dengan gaya hidup kekinian.

Statistik kasar menunjukkan bahwa sekitar 90% penduduk perumahan tersebut punya satu kesamaan: mereka pengantin baru + pasangan muda usia 25 tahun ++ dengan 1-2 anak. Sisanya sih para pensiunan usia 65-an dan mantan kontraktor (sebutan bagi pengontrak rumah) usia 50-an yang memang baru bisa membeli rumah.

Di dalam keseharian perumahan kentang ini, ada banyak hal-hal lucu. Kolaborasi dari greget terlalu pedulinya khas masyarakat desa dan sifat cuek milik masyarakat kota. Continue Reading

Typo-mu Harimaumu

Dalam satu hari, berapa kali kah anda mengirim pesan singkat via WhatsApp misalnya? Saya sendiri sih menghabiskan banyak waktu berselancar di dunia chat dan media sosial. Ini termasuk kebiasaan buruk sih, dan sudah pasti saya ingin membatasi atau minimal mengurangi intensitas bermedia sosial.

Cuma kapan mulainya, saya belum tahu.. #eh

Lebih jauh, saya juga ingin seperti Pak Ivan Lanin atau Pak JS Badudu, yang piawai menyusun kata menjadi kalimat yang enak dan mudah dipahami ketika membuat tulisan. Ah, bagi saya, itu mimpi tahap lanjut yang menjadi prioritas ke sekian. Kenapa?

Alasannya sih sederhana. Saat ini saya hanya ingin membebaskan diri dari “hantu” penulisan yang bernama salah ketik alias “typo”.

Kejadian salah ketik ketika kita mengirimkan pesan singkat ke grup WhatsApp alumni sekolah sih, masih bisa kita belokkan ke candaan. Berbeda cerita jika salah ketik tersebut terjadi saat kita menulis surel resmi. Kesan tidak serius langsung disematkan ke diri kita. Minimal, kita akan dianggap sebagai seseorang yang tidak teliti.

Nah iseng-iseng, saya pun mengumpulkan kata-kata yang misalnya menjadi salah ketik satu huruf saja maka makna kalimat tersebut menjadi rancu bahkan hancur. Berikut contoh-contohnya: Continue Reading