Kadang, Contoh Toleransi itu Selucu Tahi Anjing dan Ayam di Perumahan

Ada namanya Pak Bendot, salah satu pamong perumahan yang berlokasi di daerah kentang (kena tanggung). Mau dibilang masuk daerah kota ya belum, tapi disebut pedesaan ya bukan. Orang yang tinggal di dalam perumahannya pun beragam. Ada yang memang asli dari desa sekitar, ada juga yang memang dari kota dengan gaya hidup kekinian.

Statistik kasar menunjukkan bahwa sekitar 90% penduduk perumahan tersebut punya satu kesamaan: mereka pengantin baru + pasangan muda usia 25 tahun ++ dengan 1-2 anak. Sisanya sih para pensiunan usia 65-an dan mantan kontraktor (sebutan bagi pengontrak rumah) usia 50-an yang memang baru bisa membeli rumah.

Di dalam keseharian perumahan kentang ini, ada banyak hal-hal lucu. Kolaborasi dari greget terlalu pedulinya khas masyarakat desa dan sifat cuek milik masyarakat kota. Continue Reading

Typo-mu Harimaumu

Dalam satu hari, berapa kali kah anda mengirim pesan singkat via WhatsApp misalnya? Saya sendiri sih menghabiskan banyak waktu berselancar di dunia chat dan media sosial. Ini termasuk kebiasaan buruk sih, dan sudah pasti saya ingin membatasi atau minimal mengurangi intensitas bermedia sosial.

Cuma kapan mulainya, saya belum tahu.. #eh

Lebih jauh, saya juga ingin seperti Pak Ivan Lanin atau Pak JS Badudu, yang piawai menyusun kata menjadi kalimat yang enak dan mudah dipahami ketika membuat tulisan. Ah, bagi saya, itu mimpi tahap lanjut yang menjadi prioritas ke sekian. Kenapa?

Alasannya sih sederhana. Saat ini saya hanya ingin membebaskan diri dari “hantu” penulisan yang bernama salah ketik alias “typo”.

Kejadian salah ketik ketika kita mengirimkan pesan singkat ke grup WhatsApp alumni sekolah sih, masih bisa kita belokkan ke candaan. Berbeda cerita jika salah ketik tersebut terjadi saat kita menulis surel resmi. Kesan tidak serius langsung disematkan ke diri kita. Minimal, kita akan dianggap sebagai seseorang yang tidak teliti.

Nah iseng-iseng, saya pun mengumpulkan kata-kata yang misalnya menjadi salah ketik satu huruf saja maka makna kalimat tersebut menjadi rancu bahkan hancur. Berikut contoh-contohnya: Continue Reading

Beda Pasangan Cowok Cewek Saat Membeli Barang

“Aku sebel, si Mas beli onderdil sepeda lagi. Diem-diem lagi belinya. Ngapain sih, beli sadel aja musti yang hampir  dua juta rupiah.. belum bajunya bla bla bla .. Duit segitu sih udah bisa buat beli sepeda komplit. Huh!”

Tebak, siapa yang mengeluh seperti itu? Yak, benar! Itu adalah keluhan istri atau bisa jadi cewek – sebut saja Si Mbak – terhadap pasangannya, si Mas. Sebelnya sih (biasanya) karena si Mas mempunyai kebiasaaan: membeli dulu dimarahi kemudian. Kenapa? Ya karena para kaum Adam punya prinsip:

Lebih baik minta maaf karena terlanjur beli, daripada minta ijin untuk beli
(yang pasti tak direstui)

Sebenarnya, alasan si cowok mempunyai prinsip di atas, ya satu dan lain sebabnya karena hobinya sudah menjadi hobi yang terlarang, seperti yang sudah saya bahas di link ini. Nah, itu kan cowok. Kali ini pertanyaannya menjadi: Bagaimana sih kalau kaum hawa pasangan kita saat membeli barang?   Continue Reading

Menikah dengan rekan satu kantor. Setuju atau tidak?

Terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membolehkan seseorang menikah dengan rekan kantor, tentu ditanggapi beragam. Ada pihak yang bersyukur karena akhirnya bisa menikahi rekannya tanpa harus ada salah satu yang resign. Tetapi, ada juga orang (bisa bawahan/atasan) merasa dirugikan dengan keputusan ini. Kalau menurut arigetas.com bagaimana? Continue Reading

Kenapa Registrasi Kartu SIM (SIM CARD) Smartphone Perlu Nomer KTP dan KK

Setelah saya memposting tulisan tentang beberapa kabar hoax terkait registrasi kartu SIM (SIM CARD) smartphone, ada beberapa pembaca yang mengirim pesan perihal kegundahannya. Apa itu? Satu pertanyaan mereka:

Kenapa sih registrasi kartu sim card (baru atau lama) juga harus menggunakan kartu keluarga (KK)? Khan sudah ada Kartu Tanda Penduduk (KTP).. di KK kan ada nama Ibu kandung juga…

Baiklah, saya memahami rangkaian pertanyaan tersebut. Saya akan coba menganalisa alasan juga diperlukannya nomer KK.

Sebelum jauh membahasnya, kita kembali dulu ke awal tujuan dari registrasi (baru/ulang) SIM CARD ini yaitu untuk keamanan. Keamanan ini lebih ke tindakan preventif supaya nomer handphone tersebut tidak digunakan untuk tindak kriminal misalnya teror hingga tipu-tipu ala mama minta pulsa.

Kenapa memakai KTP?
Indonesia sedang menuju satu kartu identitas yang bisa mengungkap segalanya dan hal ini harus didukung. Sampai dengan terwujudnya hal tersebut, kita memang masih akan direpotkan dengan administrasi yang seringkali tidak paperless dan juga sangat tidak efisien. Continue Reading