Persaingan Prestasi Anak: Membangun atau Menghancurkan?

A: Si Ragil sekarang sudah pinter menggambar, kemarin juara kota lho… Minggu depan maju ke Provinsi.
B: Wah anak saya malu ikut2 lomba sih Bu A, cuma langganan juara kelas aja dari kelas 1.

Kedua percakapan di atas cukup sering kita temui, misalnya saat ada kumpulan di perumahan (biasanya ibu-ibu, sih) baik saat arisan hingga saat ngobrol basa-basi menunggu giliran antrian loket. Meski jarang, tetapi saat bapak-bapak ngumpul pun kadang ada obrolan seperti di atas. Tetapi, biasanya kaum bapak lebih woles dalam menceritakan dan gak gampang panas.

Adu prestasi anak, orang tua yang kebakaran jenggot

Orang tua memang menginginkan hasil terbaik dari anaknya dan hal tersebut wajar. Yang menjadikan tidak wajar adalah apabila orang tua memaksakan agar anak berprestasi sesuai dengan keinginan orang tua dan bukan berdasarkan minat dari si anak sendiri. Kenapa begitu?

Kebiasaan yang ada di masyarakat sekitar kita (iya, saya dan anda) adalah menilai kemampuan anak dari kemampuan akademiknya, misalnya nilai matematika. Saat anak anda “kalah” nilainya dengan teman lain, biasanya anda akan mencari cara bagaimana agar si anak tadi lebih unggul dibanding temannya dalam nilai matematika, kan?

Saat hal tersebut tidak berhasil, maka bisa jadi anda akan mulai memarahi si anak dan membandingkan dengan temannya. Apalagi kalo si orang tua dari teman si anak yang unggul tadi adalah saingan atau “musuh” dari anda, maka rasa ingin berkompetisi semakin memuncak, kan? Bahkan anda bisa saja menumpahkan kekesalan ke anak anda.

Kalau sudah begini, yang saingan sebenarnya si anaknya atau si orang tuanya, sih?

Hal tersebut menurut saya tidak sepenuhnya salah atau benar, tetapi dikembalikan lagi untuk menilai si anak secara keseluruhan. Maksudnya, saya lebih setuju apabila anak bisa melewati nilai tengah (standar nilai untuk bisa dikatakan lulus) secara umum pelajaran saja dan menggunakan waktu yang ada untuk menggenjot bidang yang memang dia minati. Atau dengan cara lainnya yaitu:

Bandingkan prestasi anak dengan capaian sebelumnya, bukan dengan anak lain.

Masyarakat di jaman dahulu, dalam hal ini misalnya orang tua yang membesarkan anaknya di era 80 hingga 90-an, sering membandingkan prestasi si anak dengan teman lain. Dan itu termasuk blunder, karena lucunya, si orang tua sendiri kan saya yakin tidak mau dibandingkan dengan orang tua lain yang ada di kompleks perumahannya, kan?

Baca juga: Blunder kesadaran pengetahuan kesehatan anak versi orang tua jaman dahulu.

Sehingga, lebih tepat apabila kita membandingkan capaian prestasi anak kita dengan dirinya sendiri di waktu yang lalu. Apabila semester lalu nilai rata-rata kelas untuk matematika adalah 7, sedangkan anak nilainya 7 atau 7.5, maka di semester ini target dia adalah nilainya 7.5 atau 8.

Lantas, apabila semester ini nilainya 8, apakah target anak semester depan adalah 9?

Tergantung. Apabila anak memang menggemari matematika (hitung-hitungan), maka kita boleh sedikit memberikan dorongan untuk itu sehingga akan lebih membangun. Apabila anak sudah kecapekan, maka mendapat target tetap nilai 8 di semester depan adalah hal wajar. Kenapa?

Karena lebih mudah menaikkan nilai dari 5 ke 7 daripada 7 ke 9, meski sama-sama naik 2 poin, bukan?

Bagi anak yang sudah “kecapekan” dan mentok di nilai 8, menurut saya ya sudah cukup. Daripada waktu si anak dihabiskan mengejar tambahan 1 poin dari 8 ke 9, lebih baik untuk pengembangan diri anak. Lebih lanjut, anak bisa stress alias tertekan, lho. Mengenalkan berbagai macam olahraga dan seni, serta memberika waktu bermain yang cukup, saya pandang itu lebih berguna daripada terus menerus belajar akademik.

Hmm, bagaimanapun, bagi saya dan istri. Apa yang saya sampaikan di atas ini ya masih teori, karena anak terbesar kami baru saja selesai semester 1 di SD kelas 1. Sehingga, yang saya sampaikan lebih ke gabungan dari pengalaman di masa lalu kami

Jadi, doakan kami, ya!

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

2 Comments

  1. Klo di bidang ekologi kompetisi menentukan suksesi, tp klo dlm hal membangun karakter anak mending diajari berkooperasi drpd berkompetisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *