Poligami vs Monogami itu Pilihan atau Jebakan?

Model komunikasi terkini yang sudah serba online, membuat hampir semua hal dapat dibincangkan di dunia maya. Poligami, yang awalnya hanya dibahas secara (relatif) tertutup di forum pengajian, saat ini kemudian menjadi semakin ‘panas’ dibahas. Lantas, konsekuensi apa sih dari poligami? Bagaimana dengan monogami?

Poligami dalam logika

Praktek poligami atau mempunyai istri lebih dari satu, sebenarnya bukan budaya dalam agama tertentu. Bahkan, poligami sudah dipraktekkan sejak sebelum Islam ada, tetapi tidak dibatasi jumlahnya (di Islam, maksimal 4 istri).

Untuk itu, saya tidak akan membahas poligami dari sudut pandang agama, tetapi hanya dari logika saja.

Peribahasa kalau kamu tidak mau dipukul janganlah kamu memukul, layak saya terapkan saat saya akan membahas poligami ini. Saya memposisikan dari sisi perempuan dan laki-laki, untuk mengetahui logika dari poligami.

Biasanya, saat kaum perempuan ditanya tentang persetujuan poligami, saya yakin hampir kesemuanya akan menjawab:

Saya setuju poligami, asalkan bukan suami saya.

~(Nyaris semua) Ibu-ibu diseluruh dunia~

Nah kalau saya, sebagai laki-laki, ketika ditanya pilih mana, antara poligami atau monogami? Maka saya akan menjawab: Monogami.

Kemudian, ternyata ada teman (yang kebetulan dia pro poligami) meledek saya: “Halah ntar misal kamu gak cocok ama istri gimana? Kalau poligami kan bisa ganti-ganti yang diajak ngobrol dan diajak ena-ena.”

Bagi saya, menikah itu cukup 1x seumur hidup. Kalaupun akhirnya saya ingin punya istri yang lain, maka bagi saya lebih baik bercerai dan menikah lagi daripada saya poligami.

~arigetas, 2017

Masalah utama dalam poligami itu apa sih?

Menurut saya, satu-satunya masalah dalam menjalani poligami adalah kesulitan (bahkan saya berani jamin, ketidakmungkinan) seorang manusia, terutama jenis laki-laki, untuk BERSIKAP ADIL kepada semua istri-istrinya.

Ada video rekaman suara dari Cak Nun, yang kebetulan saya pun sependapat:

Ah Arigetas, kamu lebay! Aku bisa adil kok ke istri-istri aku.

Oke, kalau anda memang bisa merasa berbuat adil, silahkan dijawab pertanyaan-pertanyaan renungan ini:

Renungan #1 Dalam memilih istri kedua, saya akan memilih yang lebih muda dan lebih cantik? Atau saya akan memilih janda yang sedang membutuhkan pertolongan?

Renungan #2 Setelah saya menikah untuk yang kedua, saya ingin lebih banyak tinggal bersama istri kedua atau istri pertama ya?

Renungan #3 Saat saya tiba-tiba bangkrut atau jatuh miskin, kira-kira antara istri pertama dan istri kedua, yang akan lebih ikhlas menemani hari-hari sulitku nanti siapa ya? Akankah mereka berdua tetap akan mau bersamaku?

Renungan #4 Ketika akhirnya aku sakit parah, aku ingin dirawat oleh istri pertama atau istri kedua ya?

Renungan #5 Aku tuh ingin punya istri lagi saat aku sedang kesulitan uang. Atau, aku ingin punya istri lagi ya saat aku punya uang yang berlebih.

Renungan #6 Aku lebih sayang ke anak-anak dari istri pertama atau istri kedua ya?

Renungan #7 Aku rela gak ya, kalau putri-putriku nanti dipoligami oleh suami mereka?

Renungan #8 Coba anda tengok ustad-ustad, artis atau siapapun panutan anda yang berpoligami, apakah istri kedua mereka lebih muda dibanding istri pertama? Apakah secara fisik lebih menarik istri kedua atau pertama?

Okelah, itu saja 8 pertanyaan/pernyataan renungan buat anda yang kepikiran ingin poligami. Saya yakin, sebenarnya anda sudah tahu di dalam hati anda, bagaimana efek poligami itu kepada kaum suami dan istri.

Tapi aku tu ingin membantu janda yang sedang kesulitan, gimana dong kalau tidak poligami?

Wah anda ini senang amat terjun ke semua persoalan sendiri dan tidak kenal istilah delegasikan tugas ya? Solusinya ya sederhana. Anda diskusikan ke istri pertama anda, kemudian anda minta istri pertama anda untuk membantu si janda tadi.

Misalnya setiap awal bulan disisihkan sekian rupiah untuk si janda beli beras misalnya. Atau apapun bentuk bantuannya, tetapi yang jadi ujung tombak itu istri anda dan bukan anda. Sehingga anda akan terhindar dari fitnah, bukan?

Lantas, apa keunggulan Monogami?

Keunggulan monogami adalah, anda hanya cukup fokus mengurusi satu istri dan anak-anak. Apapun masalah yang timbul, kalian berdua lah yang terlibat untuk menyelesaikan masalahnya. Yakinlah, masalah-masalah yang timbul di pernikahan monogami itu lebih sedikit daripada poligami.

Bagaimana kalau Monogami dan ternyata kami tidak bisa punya anak?

Tergantung kesepakatan berdua sejak awal menikah. Apa sih alasan kalian tidak bisa punya anak? Misal rahim istri lemah, suami bisa berpikir untuk mencari istri kedua untuk meneruskan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan akhirnya istri kedua hamil dan melahirkan anak, kira-kira apa yang ada di hati istri pertama? Aku yakin hancur perasaannya.

Lantas, apabila dibalik, kalian tidak bisa memiliki anak karena sperma suami infertil alias tida bisa membuahi sel telur istri. Apakah istri boleh minta cerai, untuk kemudian menikah lagi dengan suami baru dan memiliki anak? Bagaimana perasaan suami? Aku yakin harga diri laki-laki suami hancur sehancur-hancurnya.

Solusi terbaik untuk saling menjaga hati, adalah kalian mengadopsi bayi dan membesarkan dia seperti kalian memiliki anak sendiri. Iya, saya setuju bahwa rasanya memang tidak akan bisa sesayang kita kepada anak kandung sendiri, tetapi itulah solusi terbaik menurut saya.

Akhir kata, silahkan anda poligami asalkan anda bisa adil, dimana adil itu bukan tentu harus sama. Apabila anda gagal untuk adil, maka anda sudah masuk ke jebakan yang namanya nafsu rakus/tamak hingga seksual. Ada banyak hati yang akan terluka tatkala anda tidak berlaku adil.

Tentu, anda boleh memiliki pendapat yang berbeda dengan apa yang saya tulis di atas.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari dua orang anak laki-laki pintar, lucu dan usil.

8 Comments

  1. Every single word is ?. Cuman sedihnya, aku jadi inget pernah nonton dokumenter tentang istri-istri yang pro poligami dan omg, please mbak, ibu-ibu, be honest with yourself. love yourself. kadang tu pada rela dipoligami karena alasan surga. imho, ada banyak cara menggapai surga selain dengan cara merelakan suamimu poligami dengan istri yg lebih muda, lebih cantik mbaa. tapi ya memang sih itu tetep balik ke preference masing-masing mau menggapai surga dengan cara gimana.

    • Maturnuwun mbak Niken. Tapi memang bener, bahkan ada yg (terpaksa) nerima poligami krn takut tidak mencium bau surga. Sadly but true.

      Aku meyakini bahwa jalan masuk ke surga itu tidak cuma satu. Sehingga, masing-masing kita bisa memasuki surga lewat pintu terbaik kita. Bisa jadi pintuku dan pintu orang lain itu beda.

  2. Masih banyak cowok yang hanya mengetahui poligami sampai sebatas “diperbolehkan dalam agama.” Padahal, jelas, setelah kalimat itu pun masih disebutkan syarat/kondisi tertentu yang membuat seorang cowok pantas untuk berpoligami. Sekalipun artikel ini nggak diambil dari sudut pandang agama, maknanya secara keseluruhan pun cocok sekali dengan sudut pandang yang diambil dari logika manusia.

  3. Poligami itu mudah ASAL wes sugih wkwkwk… (sudah kaya/mampu) secara harta (harta yang halal tentunya), secara fisik harus prima itu juga sebagai indikator keadilan anda wkwkwk.., dan secara ESQ anda yang diatas rata2 dan terpenting lagi ijin resmi (jgn ijin abal2) dari pasangan. Yang sulit itu berlaku ADIL karena se paling super kecil apapun salah satu pasangan nanti merasa tidak adil walaupun tidak terungkap ke permukaan dengan sikap pasrahnya….disitulah dosa kita…apapun alasannya untuk berpoligami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *