Kecepatan Internet yang (sebenarnya) Anda Perlukan itu Seberapa?

Captured by me

Duh lemotnya koneksi hari ini. Kecepatan internet kayak gini ini malesin ih.

Kalimat di atas mungkin sering anda temui, atau bahkan anda sering anda ucapkan (meski dalam hati). Selama saya berselancar di dunia maya alias internet sejak tahun 1995, saya beruntung menikmati kecepatan internet yang bervariasi. Waktu itu masih jamannya modem yang suaranya “ekrek-ekrek” tuiinggg… yang kalau browsing gambar aja munculnya segaris demi segaris dari atas. Hingga saat ini saya beruntung sejak 2015 menikmati koneksi internet yang kelas “dewa” yaitu 80 Mbps (1:1 Up:Dl) yang bisa untuk membuka tab browser Chrome hingga puluhan tanpa lemot plus streaming YouTube 1080p.

Internet cukup itu berapa Kbps atau Mbps sih?

Sebenarnya, dari banyak jenis kecepatan internet tersebut, dalam melakukan pekerjaan (sebagai mahasiswa dan peneliti) saya tidak memerlukan yang cepat-cepat kok. Kenapa? Ya karena paling kebutuhannya hanya untuk mendownload jurnal penelitian yang ukurannya <10 MB saja. Kalaupun ada tugas kuliah atau pekerjaan yang perlu dikirim, toh juga hanya ukuran yang kecil saja.

Kalau kirim email slide PowerPoint (ppt)? Ya asal picture-nya udah dicompress sesuai kebutuhan (kualitas print atau proyektor) sih kecil kok. Biasanya, ukuran file ppt atau pptx yang gede itu ya bikinan orang gaptek yang asal masukin resolusi gambar dari digital camera doang sehingga 1 file ppt(x) bisa sampai 50 MB.

Sehingga, kecepatan internet 1 Mbps pun bisa dipakai sharing hingga 10 atau 15 orang sih cukup, asalkan yang dibuka hanya email, jurnal dan portal berita. Media sosial Twitter misalnya, masih bisa lancar diakses dengan mematikan videonya. Untuk chat, WhatsApp web sangat memadai. Hanya saja, membuka WhatsApp Web di laptop di dunia kerja yang tidak memerlukan frekuensi interaksi tinggi, hal tersebut justru mengganggu produktivitas.

Untuk hiburan, saat jam istirahat, silahkan download musik-musik kualitas rendah 128 kbps hingga sedang 256 kbps dan didengarkan secara offline. Untuk tahu lagu-lagu yang hits bagaimana? Ya cari list lagu terkini di hot 100-nya Billboard aja atau web yang mirip.

Larangan utama hanyalah satu saja yaitu streaming baik radio online, YouTube hingga TV online. Model kerja seperti merupakan model kerja jadul (jaman dulu) yang sebenarnya sangat relevan digunakan di masa kini, di kantor-kantor administrasi secara umum.

Kenapa sih perlu kecepatan internet yang lebih?

Kebutuhan internet bagi saya pun meningkat saat saya perlu untuk mengunggah ribuan file gambar hasil jepretan kamera akar (minirhizotron camera) yang berukuran 1 hingga 1,5 GB setiap hari ke Google drive setiap 3 hari sekali. Tentu dengan kecepatan internet 1 Mbps tidaklah memadai, karena 1 Mbps itu biasanya hanya kecepatan download, sedangkan upload hanya 128-256 kbps saja, sehingga proses upload bisa memakan waktu yang luar biasa lama.

Saat itulah saya merasa bahwa kecepatan internet yang saya perlukan di Indonesia meningkat hingga 10 Mbps (download) dan 1,5 Mbps upload. Kalau kecepatan internet download dan upload di kampus saya sih  80 Mbps dan sudah 1:1 sehingga proses upload nyuz cepat sekali.

Tunggu, saya sih tidak perlu upload file besar ke GDrive secara rutin, tetapi kenapa saya merasa bahwa kecepatan internet saya kurang?

Ya karena kebutuhan entertaunment alias hiburan. Misalnya Spotify, Joox, streaming radio hingga bikin playlist youtube kualitas HD (padahal dtab-nya gk dibuka alias didengerin suaranya aja).

Bagi anda yang bekerja di dunia kreatif khususnya konten video, jelas koneksi internet yang mumpuni sangat diperlukan. Apalagi bagi anda yang bekerja via cloud yang musti realtime kerjanya tampil dengan tim anda.

Jadi, sudah tidak perlu lagi ada yg bertanya: internet cepat itu buat apa sih?

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *