Saya Anti Penggunaan Sedotan Plastik (straw) Sejak 2002

Oke, judulnya mungkin aneh. Tapi itu adalah fakta dan sepertinya itu jauh sebelum sedotan plastik ini menjadi isu global karena menjadi sampah yang sangat mengganggu lingkungan. Selain itu, terutama bagi anda yang pernah melihat video penyu yang hidungnya tertusuk sedotan plastik, yang kemudian dicabut pakai tang dan penyu itu pun berdarah-darah, pasti setuju bahwa pemakaian sedotan plastik itu sesuatu yang buruk.

Pun, jauh sebelum gerai kopi terkenal, Starbucks memutuskan untuk tidak lagi menggunakan sedotan plastik di dalam paket penjualan minuman, saya sudah memutuskan untuk anti menggunakan sedotan plastik sejak 2002. Wow, se-visioner itu kah saya? 

Jawabannya: tidak.

Semua bermula saat tahun 2002, saat saya masih bersekolah S1 di Unibraw, Malang yang sering disingkat UB. Di UB ada penjual bakso yang terletak di sisi timur perpustakaan yang dahulu bersebelahan dengan warung internet (warnet) yang juga terkenal akan kecepatannya (di masa itu). Menu bakso yang dijual memang lezat sehingga membuat kedai ini ramai pembeli.

Saat itu, adalah kali kesekian saya dan beberapa teman membeli bakso disitu. Pesanan andalan saya adalah bakso mie kuning saja dan es teh manis. Kombinasi yang enak banget dinikmati sekitar jam 10-11 pagi. Kedai ini menyediakan sedotan plastik yang berdiameter lubang agak besar dan berbahan plastik kuat, yang jelas bukan merupakan sedotan sekali pakai.

Wah, ini mah environmental friendly banget ni.

Sekitar 20 menit, maka sudah habislah bakso lezat dan es teh manis itu. Tentu menikmatinya sambil guyon alias bercanda dengan teman-teman. Setelah membayar, kami pun membubarkan diri. Teman-teman saya langsung pada pulang ke kos masing-masing, sedangkan saya kembali ke kampus karena kebetulan ada kelas setelah jam 12.

Saat pulang, saya memutar dari sisi selatan perpustakaan dan ke arah barat, sehingga saya melewati area cuci piring gelas kedai tadi. Nah, disitu saya melihat kejadian yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab terkait sedotan plastik.

Apakah oknum tadi membuang semua sedotan plastik ke tempat sampah sehingga saya melihatnya sebagai tindakan yang membahayakan lingkungan? Tidak.

Saya melihat oknum tadi mengambil sedotan plastik bekas pakai dari gelas-gelas kotor dan menggenggamnya, kemudian dia memasukkannya ke dalam ember kecil berisi air dan dia menggoyangkan tangannya beberapa kali. Kemudian, sedotan-sedotan plastik tadi dimasukkan ke dalam tempat sedotan bersih yang siap digunakan.

“Hei, sedotan-sedotan itu kan sudah dicuci, terus apa masalahnya sih Ri?”

Mungkin itu tanyamu, wahai pembaca blog tersayang. Aku menarik poin-poin kesimpulan terkait hal itu:

  1. Sedotan yang digunakan merupakan sedotan kaku yang memang ditujukan sebagai sedotan yang tidak sekali pakai. Hal ini bagus untuk lingkungan.
  2. Prosedur membersihkan sedotan yang tidak sekali pakai itulah yang membuatku merasa jijik. Kenapa?
  3. Harusnya, menurut saya, minimal ada 3 ember untuk mencuci.
  4. Pertama, sedotan-sedotan itu dibilas di air biasa untuk menghilangkan bekas minuman teh, jeruk atau gula. Kedua, sedotan-sedotan itu dicuci di dalam ember berisi campuran air dan sabun cuci piring untuk mensucihamakan. Ketiga, sedotan-sedotan itu dibilas di air bersih untuk menghilangkan bekas sabun.
  5. Poin terakhir, saya bodoh. Kenapa waktu itu saya tidak membicarakan hal ini kepada pemilik kedai tadi, sehingga mereka bisa memperbaiki cara pencucian sedotan-sedotan plastik tadi.

Hal terakhir yang saya sesali adalah, karena saya merasa jijik dengan cara mereka memperlakukan sedotan-sedotan tadi, saya memutuskan untuk tidak lagi membeli bakso di sana. Kenapa sih, dulu saya tidak membeli baksonya saja – yang memang lezat itu, lagipula mereka mencuci mangkok-mangkoknya dengan cara standar.

Akan tetapi, kejadian tadi membuat saya mantap hingga saat ini, saya anti menggunakan sedotan plastik. Mau dibilang trauma, silahkan saja. Toh juga kebetulan sikap saya tuk tidak menggunakan sedotan plastik ini merupakan hal baik untuk lingkungan kan?

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *