Setelah Jokowi dan Prabowo Bertemu, Siapa Untung Siapa Rugi?

Screenshot dari Kompas TV

Kontestasi pemilihan presiden 2019 ini benar-benar menguras hati, uang dan tenaga semua pihak yang terlibat. Fenomena cebong dan kampret pun sangat kental mewarnai timeline media sosial kita. Lantas, setelah Jokowi dan Prabowo bertemu, siapa dong yang untung? Siapa juga yang rugi?

Pilpres 2019 dan asal mula istilah Cebong vs Kampret

Sebelum membahas lebih dalam, anda tahu kah asal mula cebong dan kampret? Sudah banyak dibahas kok. Sebenarnya, cebong dan kampret ini ada seiringan dengan perang panasbung vs panastak alias pasukan nasi bungkus vs pasukan nasi kotak.

Idiom panasbung panastak ini ditujukan kepada mereka (yang diduga bayaran) massa pendukung Jokowi dan Prabowo saat ada aksi massa di lapangan (kampanye atau demo). Tetapi istilah tersebut kalah pamor dengan Cebong dan Kampret.

Asal mula idiom Cebong

https://nasional.kompas.com/read/2017/05/26/13174341/ribuan.kodok.milik.jokowi.mati.diterkam.biawak

Cebong merupakan idiom yang (saya duga) terkait dari pemberitaan tentang kodok-kodok di Istana Bogor yang mati diterkam biawak. Kemudian, para pembenci Jokowi pun memplesetkan dari Joko Widodo Joko WidodoK ↠ JoKODOK. Lantas, anak dari kodok itu kan kecebong. Akhirnya, massa pendukung Joko Widodo itu disebut kecebong/cebong.

Asal mula idiom Kampret

https://www.republika.co.id/berita/koran/pesta-demokrasi/14/07/15/n8qoo411-koalisi-merah-putih-hingga-lima-tahun

Kampret merupakan idiom (yang saya duga) berasal dari nama koalisi, yaitu Koalisi Merah Putih (KMP) yang dibangun pada saat pilpres 2014 oleh pasangan Prabowo-Hatta. KMP Ka-Em-Pe ↠ KAMPRET.

Jokowi – Prabowo bertemu, siapa untung?

Pilpres 2019 itu perpecahan antara kedua kubu di semua lini masyarakat. Di grup WhatsApp, ada yang left group gara-gara berantem masalah pilpres. Di Facebook, banyak yg unfriend gara-gara beda pilpres.

Saya pun, yang bekerja sebagai peneliti pemupukan, saat ke kebun klien mencoba hati-hati dalam berkomentar. Kenapa? Pernah saya berdiskusi dengan mencoba berimbang (bahas +- kedua capres), berujung saya dijudes-i sama pimpinan kebun 😀

Arigetas, 2014

Intinya, dengan bertemunya Jokowi – Prabowo menandakan bahwa sudah (sangat) redanya tekanan persaingan pilpres 2019, bahkan bisa dibilang, sudah benar-benar selesai antara keduanya.

Meskipun untuk ke pembicaraan koalisi, tentu masih agak jauh, meskipun Prabowo sudah menyampaikan (yang intinya kurang lebih) bahwa:

Kami siap membantu apabila dibutuhkan oleh bangsa dan negara. Tetapi mohon maaf apabila kami mengkritik keras Bapak (Jokowi)

Prabowo, 13 Juli 2019 – konpres bersama Jokowi

Terkait hal tersebut, menandakan bahwa kita semua, warga negara Indonesia, seharusnya sudah tidak perlu lagi memisahkan diri bahwa “aku 01 atau 02”. Selain tidak ada gunanya, kita lebih baik mencurahkan energi untuk bekerja menghidupi keluarga 🙂

Jokowi – Prabowo bertemu, siapa rugi? Ini yang berbahaya.

Nah ini dia. Untuk kubu Jokowi, jelas sudah tidak akan ada masalah selain paling mungkin hanya jengkel terkait jatah menteri (dan ini pun hanya muncul di panggung belakang).

Untuk kubu Prabowo, dengan Koalisi Adil Makmur (koalisi untuk pilpres 2019) yang resmi dibubarkan setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa seluruh gugatan 02 ditolak, sehingga 01 (Jokowi – Ma’ruf Amin) sebagai pemenang, terdapat beberapa hal dinamis.

Partai Koalisi Adil Makmur kemana?

Pada tayangan Mata Najwa tanggal 3 Juli 2019 dengan judul: “Transaksi Rekonsiliasi: Oposisi Jadi Koalisi, Pantas atau Tidak?” sudah sangat gamblang menjelaskan bahwa pasca pilpres, maka partai-partai sangat cair berpihak kemanapun, baik berkoalisi ke Jokowi atau tetap di luar pemerintahan sebagai oposisi.

Lantas, siapa yang rugi dan berbahaya?

Saya setuju banget dengan yang disampaikan mas Yunarto Wijaya, bahwa yang berbahaya ada pihak-pihak yang selama ini ada di kubu 02, tetapi ternyata 02 kalah tetapi mereka tidak bisa berkoalisi dengan pihak pemenang 01.

Eits, ini bukan partai atau orang partai ya. Tetapi pihak-pihak yang bisa dibilang selama ini membonceng ke 02, karena faktor kepentingan. Selama ini, mereka merasa pemerintahan Jokowi membuat mereka “tidak nyaman beraktivitas”. Saya tulis mereka dengan sebutan pihak ketiga.

Apabila pihak ketiga ini melawan langsung 01 tentu mereka tidak mempunyai kendaraan politik (partai), sehingga mereka memutuskan gabung ke 02.

Lawan dari lawanku adalah Kawanku, merupakan tindakan yang mereka pilih.

Saya, mengikuti dinamika pilpres 2019 ~ bahkan sejak sebelum pilkada DKI (yang sangat tajam dan berbahaya prosesnya) yang mana ada benang merah sangat tebal ke pilpres 2019. Tentu, pihak ketiga sudah ada sejak saat pilkada DKI hingga pilpres.

Mereka, pihak ketiga, yang merasa sudah mengeluarkan modal, tenaga dan biaya, kemudian 02 kalah dan mereka pihak ketiga tidak bisa mendekat ke lingkar dalam pemerintahan adalah yang akan tetap merongrong, mengganggu hingga menunggu celah kelemahan pemerintahan Jokowi – Ma’ruf Amin.

Bahkan, di media sosial pun, mereka pihak ketiga sudah mulai menyerang Prabowo, yang mereka nilai sudah mulai lemah bahkan orang-orang terdekat Prabowo pun sudah dinilai mulai mendekat ke Jokowi.

Anda semua, pembaca, pasti tahu, siapa pihak ketiga yang saya maksud ini. Iya, tebakan anda benar.

Duh politik, kamu beneran menyeramkan.

Tidak ada lagi 01, 02 … yang ada hanyalah #03PersatuanIndonesia

Hat Yai, 13 Juli 2019.

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari dua orang anak laki-laki pintar, lucu dan usil.

6 Comments

  1. Pihak ketiga ini mirip banget dg pihak ketiga di sejarah2, baik kekhalifahan atau kerajaan2 Islam. Dan hingga saat itu cirinya msh sama dg mereka. Mudah2an dugaan saya ini salah

    • Sepertinya, dugaan kita bener kok mas. Ini yang benar-benar perlu diwaspadai di setiap pemilu di masa depan.

      Sesuai dg seminar di Singapore yang temenku ikuti, semua musti waspada sejak Pilkada 2020 2022 hingga pilpres 2024.

  2. Alhamdulillah saya jadi tahu asal muasal Cebong-Kampret.
    Benar ini, Mas, “Bahkan, di media sosial pun, mereka pihak ketiga sudah mulai menyerang Prabowo,…” Di twitter lagi rame tentang bertemunya Jokowi-Prabowo di MRT. Ada pendukung 02 yang nggak terima dan “menyerang” yang pernah didukungnya.

    • Alhamdulillah, syukur kalau berguna mas 😀

      Btw, iya, banyak yg istilahnya denial dg kejadian bertemunya Jokowi – Prabowo.
      Aneka tagar menyerang Prabowo pun banyak beredar di linimasa Twitter.

  3. Yg untung itu seluruh rakyat Indonesia. Yg rugi jelas yg selama ini memanfaatkan situasi panasnya pilpres, shg pihak yg terakhir ini mungkin akan selalu “menyiram minyak” thd konflik sekecil apapun nantinya.

    • Iyes, skr pun udah banyak bersliweran di linimasa tentang ‘penghianat’.
      Beneran gk mau menyatu nih mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *