Wahai Para Marketer Jasa Perbankan dan MLM yang Menyebalkan

Judul di atas benar kok. Postingan ini saya tujukan untuk anda, para marketer alias pekerja marketing yang menggunakan media sosial (medsos) hingga saluran telepon selular untuk menghubungi calon konsumen (CK) dalam menawarkan produk-produknya. Contohnya kali ini adalah pengalaman-pengalaman saya sendiri saja ya.

Interaksi marketer dan calon konsumen

Saya sedikit banyak tahu rutinitas yang anda lakukan. Intinya adalah: dapatkan kontak CK, mulai kontak CK dan follow up. Saya tidak mempermasalahkan darimana anda mendapatkan kontak saya (email, akun medsos atau nomor telepon). Saya pun selalu berusaha memanusiakan anda lho. Anda sebaiknya juga melakukan hal yang sama.

Saya mengerti, anda perlu memasang nada (tone) suara atau tulisan yang ramah, friendly dan renyah. Saat satu hingga puluhan CK anda hubungi, anda mungkin masih bisa tetap bersikap seperti itu. Tetapi, saat menemukan CK yang judes, galak atau usil (bahkan ada yg menjurus pelecehan), bisa jadi anda tidak lagi bisa bersikap sebaik sebelumnya.

Sebenarnya, pandangan saya dari sisi CK yang cukup sering dihubungi oleh marketer jasa layanan bank (kartu kredit misalnya), hingga ke penawaran produk-produk Multi Level Marketing alias MLM, saat saya tidak tertarik untuk menggunakan jasa atau produk tersebut, saya selalu berusaha memotong pembicaraan si marketer tadi, tentu dengan meminta maaf. Biasanya, saya menjelaskan bahwa saya saat ini tidak tertarik dengan produk tersebut dan mohon maaf mbak atau mas marketer untuk langsung ke CK selanjutnya saja.

Tujuan saya memotong pembicaraan dengan sopan saat tidak tertarik, sebenarnya untuk membantu marketer agar tidak kehilangan waktu dan tenaga dalam menjelaskan ke saya, yang toh hasilnya akan sia-sia.

Biasanya, marketer akan mengucapkan terima kasih dan kemudian menutup teleponnya. Saya berusaha menghargai marketer tersebut karena ya memang itu kan cara bekerja marketer. Hanya saja, saya pernah berinteraksi dengan si …

Marketer yang menyebalkan

Yang termasuk ke dalam kriteria ini, berlaku pada marketer yang saya tolak secara halus penawaran produknya. Jenis marketer yang menyebalkan tersebut terdapat beberapa kategori:

  1. Marketer yang tetap ngeyel dan terus menawarkan produknya, bisa dengan memaksa untuk tetap mendengarkan penjelasan mereka atau kembali mencoba peruntungan dengan menghubungi saya di beberapa hari berikutnya.
  2. Marketer yang langsung merubah nada suara (via telepon) sebelum mengakhiri pembicaraan, biasanya disertai ancaman halus berupa: kalau saya melewatkan penawaran ini, maka saya akan sangat merugi karena tidak akan ada tawaran yang sama di lain hari.
  3. Marketer via text di media sosial (DM IG, Twitter, Facebook atau WA)  yang tidak menuliskan apapun sebagai penutup saat tahu bahwa saya menolak tawaran marketer tersebut. Hal ini pernah saya alami juga di dunia nyata yang saat marketer tersebut mengetuk pintu tuk menawarkan produk penghemat listrik, saat saya tolak dia tanpa bilang apapun langsung balik kanan pergi ==> tidak sopan.

Marketer paling menyebalkan

Tunggu dulu, di atas kan sudah ada kategori marketer yang menyebalkan. Memangnya ada lagi marketer yang paling menyebalkan? Jawabannya: ADA!

Kriterianya adalah mirip dengan 3 kategori di atas, hanya saja menjadi super menyebalkan karena yang melakukan hal tersebut adalah orang yang kita kenal. Baik kita kenal dan berteman saat ini atau teman di masa lalu misal teman alumni PAUD, SD, SMA, S1, S2, S3 hingga tetangga kampung.

Lah, emang ada apa masalahnya kalau orang yang kita kenal yang bekerja sebagai marketer dan menawarkan produk ke kita?

Justru itulah. Biasanya ketika orang yang kita kenal, pasti lebih hati-hati bersikap saat menawarkan produknya? Akan tetapi saya pernah menemukan beberapa orang (kenalan) yang justru sikapnya terkesan menyepelekan saya, (saya dan dia kenal secara personal).

Sebagai contoh, ada temen yang sekian puluh tahun tidak bersua fisik dan hanya bertemu di suatu grup media sosial, juga tidak dekat di waktu dulu, apalagi hingga saat ini belum pernah komunikasi secara personal alias japri. Tiba-tiba dia mengirim penawaran melalui satu paragraf panjang dengan bahasa basa-basi yang rapi, yang intinya meminta waktu untuk menjelaskan produknya.

Saya kemudian menjawab: Wah maaf, kakak saya sudah lama juga bekerja sebagai marketer produk yang sama.

Jawaban saya itu hanya di-read saja. Dan sampai dengan hari ini, tidak ada lanjutan basa-basinya.

Terus masalahnya dimana?

Ya menurut saya, seorang marketer itu kan datang dengan sopan dan bahasanya halus. Maka ketika mendapat penolakan yang halus (tidak kasar misal memaki atau justru melecehkan), ya seharusnya mengakhiri dengan satu paragraf saja yang isinya berterima kasih atas respon CK dan kapanpun membutuhkan produk tersebut, bisa menghubungi si marketer. Itu pun sudah cukup, artinya anda memanusiakan para CK.

Apabila anda, para marketer yang awalnya sopan dan rapi, kemudian mendapatkan jawaban tidak, kemudian diam saja, maka itu setara anda datang secara fisik ke rumah dengan mengucapkan salam dengan manis dan menjelaskan maksud kedatangan.

Ketika anda mendapat penolakan dan anda langsung balik kanan pergi tanpa pamit… Artinya anda sangat tidak sopan, apalagi anda kan kenal saya secara personal.

Bahkan, anda sebagai marketer mendapatkan kontak saya secara gratis (tanpa usaha), karena kita berteman di dalam grup, bukan? Lantas kenapa anda bersikap begitu? Seharusnya, anda harus lebih sopan dan menghargai CK yang anda kenal secara personal.

Demikian uneg-uneg saya 🙂

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari seorang anak pintar, lucu dan usil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *