Ciptakan Privilege Anak Agar Masa Depan Lebih Baik

Akhir-akhir ini, banyak orang yang membincangkan baik dari sisi positif hingga negatif, perihal privilege yang ada pada sebagian orang. Misalnya privilege anak: “Ah, dia usia 20 tahun udah bisa jalan-jalan ke Korea Selatan, aku sih paling ke mal doang.” Kata salah satu netizen. Lantas, kalau dia di usia 20 tahun sudah ke Korsel, salah siapa?

Apa sih, privilege itu?

Sebelum menceritakan lebih jauh, marilah kita menengok pengertian dari privilege itu sendiri. Privilege merupakan kata dalam bahasa Inggris, yang mempunyai makna hak istimewa, atau manfaat yang hanya dinikmati oleh sedikit orang saja. Di lingkungan kita, banyak ditemui privilege anak lho.

Contoh privilege anak #1

Coba tengok kehidupan di sekitar anda saja. Misalnya anda di perumahan, maka anda akan bisa menemukan anak usia balita, sebut saja X, yang didorong dengan sepeda yang harganya relatif mahal, katakan 2 juta rupiah. Sepeda dengan bantalan kursi yang empuk itu mempunyai aneka tombol yang bisa dipencet dan keluar banyak musik lucu itu memang mengasyikkan.

Lalu, coba anda tengok ke anak balita, sebut saja Y, yang didorong orang tuanya menggunakan sepeda harga 300 ribu rupiah dengan merek sejuta umat itu, yang mana kursinya keras dan hanya ada satu tombol musik.

Lantas, apa bedanya antara balita X dan Y tadi?

Keduanya memiliki sepeda, tetapi balita X mempunyai privilege lebih baik, yaitu mempunyai orang tua yang sanggup membelikan sepeda seharga 2 juta rupiah.

Contoh privilege anak #2

Balita X dan Y sekarang sudah memasuki sekolah dasar (SD). Keduanya memiliki orang tua yang lengkap Ayah dan Ibu.

Bedanya, Ayah si X sering kerja luar kota, berpenghasilan tinggi. Ibu si X merupakan ibu rumah tangga yang dibantu oleh 2 orang asisten rumah tangga (ART), 1 orang ART untuk membantu masak, mencuci dan membersihkan rumah dan 1 orang ART untuk membantu mengurus si anak X.

Sedangkan si anak Y, Ayahnya bekerja di dalam kota, pergi pagi pulang malam dengan ibu yang juga bekerja membuat kue untuk dijual di warung sebelah. Keluarga Y tidak memiliki ART, sehingga kesemua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh Ayah, Ibu bahkan si anak Y itu sendiri.

Bayangkan saat sore hari. Secara bergantian hari, Ibu si X mengundang beberapa guru les privat yaitu untuk piano, mengaji dan mengulang pelajaran sekolah. Sedangkan Ibu si Y, tidak mampu mengundang bahkan sekedar guru ngaji privat. Si anak Y, diikutkan mengaji berkelompok di musholla perumahan yang memang gratis tanpa biaya.

Lantas, bayangkan kejadian sore hari tersebut berlangsung dari kelas I hingga VI sekolah dasar. Kira-kira, siapakah antara si anak X dan Y yang tampil lebih pintar di sekolah? Siapa kira-kira yang akan diminta pentas memainkan piano di acara perpisahan saat kelulusan SD? Tentu saja si X sangat lebih berpeluang.

Kalau masih bingung, berikut penjelasan ringkasnya:

Salahkah punya privilege?

Tentu tidak!

Orang tidak bisa memilih untuk memiliki privilege saat lahir, tetapi bisa mengusahakannya saat sudah dewasa. Alih-alih kamu minder melihat teman kamu misal X tadi kelas VI SD sudah tampil memukau dengan denting piano saat acara perpisahan kelulusan, lebih baik kamu instrospeksi diri.

Lah gak salah? Kok disuruh introspeksi?

Nggak. Aku yakin kok bahwa orang-orang yang ngiri atau nyinyir ke orang lain yang mempunyai privilege tu sering gak sadar bahwa dirinya sendiri juga punya privilege lebih, dibandingkan orang lain. Ini termasuk diriku sendiri kok yang kadang lupa diri.

Nah, daripada kita habiskan energi untuk ngomel, ngiri atau nyinyir gak jelas, gimana kalau kita mulai untuk …

Bangun privilege untuk diri sendiri dan keluarga, khususnya anak

Untuk membangun privilege khususnya untuk anak, coba tengok terlebih dahulu ke diri kita sebagai seorang ayah dan ibu. Dari sekian puluh tahun kita hidup, pasti ada kemampuan diri kita yang memang menonjol, bukan? Coba deh dibuat daftar skill alias kemahiran anda.

Nah, dari daftar kemahiran anda tadi, kenapa tidak kita turunkan ke anak sedini mungkin? Berikut saya buat catatan urutan untuk diri saya sendiri, saat nanti membangun privilege untuk anak-anak saya:

  1. Catat setiap detil kemahiran. Tidak mengapa nanti tertulis misal hingga 10 kemahiran dan terlihat konyol atau lebay.
  2. Seleksi kemahiran tersebut hingga 5 termahir. Katakanlah mahir memasak, berkebun, memperbaiki motor mogok, internet dan badminton.
  3. Ajak obrol anak, cocokkan minatnya dengan kemahiran anda. Katakan anak tertarik badminton dan memperbaiki motor.
  4. Libatkan dan latih anak sesuai minatnya. Misal ketika mau mencuci motor atau memompa ban motor, ajaklah anak. Kemudian ceritakan dan praktekkan caranya dan minta dia untuk mencoba.
  5. Latih, tanya dan terima feedback dari anak. Setelah langkah 1-4, tentu anda perlu melakukan evaluasi. Diskusikan dengan anak, hal apa yang perlu dikuatkan apa yang perlu ditinggalkan dst.

Woah, anda masih membaca hingga baris ini? Terima kasih ya!

Baca juga: langit-langit kaca perempuan untuk menggapai posisi puncak di bidang pertanian dan perkebunan lapangan.

Akhir kata, privilege itu keberuntungan yang membedakan dengan orang lain, yang tidak hanya meniadakan hal yang jadi hambatan orang lain, tetapi juga katakanlah, lintasan lari kita lebih pendek dibanding orang lain.

Pesan akhir saya, saat teman yang punya privilege itu baik, tidak sombong dan ramah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk iri apalagi nyinyir ya.

Let’s build the positivity!

arigetas

Mahasiswa master di Prince of Songkla University, Thailand. Seorang suami dan ayah dari dua orang anak laki-laki pintar, lucu dan usil.

50 Comments

  1. aku baru tau privilege itu penting untuk masa depan anak, tapi kenapa ya kita tidak bisa menentukan privilege dari awal kelahiran

  2. Saya tak berani nyinyirin mereka yang punya previlege. Apa adanya saja. Tiap orang punya kelasnya dan punya ujiannya. Meski hidup serba kecukupan dan banyak kemudahan pun, sebenarnya juga tidak mudah-mudah amat. Karena bisa juga ia menjadi sosok yang fragile. Tengoklah beberapa orang yang akhirnya memutuskan mengakhiri hidup padahal hidupnya mudah dan mengikuti apa yg disiapkan orangtua.

    Kalau saya, malah membiarkan anak menyelesaikan sendiri tantangannya. Cuma mengawasi saja dan memastikan selesai. Tak perlu baik selesainya, karena anak akan belajar beberapa hal dari situ.

    • Iya, ketika anak hanya diberi luxury tanpa latihan memadai, akhirnya memang dia rapuh banget saat terjun di dunia kerja yang keras..

      Tiba2 aku jadi ingat keluarga Sultan Jogja, ada beberapa waktu di masa kecil harus tinggal di rumah rakyat jelata, untuk belajar banyak hal dasar kehidupan. Juga, untuk memahami apa yang dialami rakyatnya, sehingga kelak saat memangku jabatan, beliau akan lebih amanah dan ngemong rakyatnya.

  3. Betul, memiliki previlage itu anugrah. Da memang tidak perlu dinyinyiri, krn jalan cerita setiap orang beda-beda. Tetap bersyukur dan berusaha memberi dan melakukan yang terbaik. Pasti akan terbuka banyak jalan dan kemudahan buat kita dan keluarga.

  4. Ooo jadi privilege itu seperti keberuntungan / keistimewaan/ kemudahan sebuah takdir yac… Setiap manusia memiliki keistimewaan takdirnya dan itu patut di syukuri.

    • Halo kak Hida. Menurut saya, ada dua jenis privilege di dunia ini.

      Pertama, privilege saat kita lahir biasanya identik dengan kemewahan yang didapat dari orang tua (misalnya uang dan fasilitas).

      Kedua, Saat seseorang pintar dan berhasil masuk ke univ top dunia, maka dia bisa punya privilege ke laboratorium riset yang super cangggih canggih. Nah ini adalah privilege yang didapatkan dari perjuangan sendiri.

  5. Wuah baca ini saya baru sadar kalau selama ini pemahaman saya tentang previlege terlalu dangkal. Aku menganggapnya sebagai kemudahan-kemudahan yang didapatkan karena ‘jalur khusus’

    Ternyata gak sesederhana itu
    Previlege bisa kita bentuk sejak dini. Termasuk membangun rasa percaya diri anak untuk jalur membuka dan mendapatkan previlegenya sendiri nantinya

    Stop nyinyir bin iri melihat kemudahan orang lain

    • Wah, ternyata mirip dg saya mbak…
      Andai tidak ada trending topik di twitter ttg privilege, mungkin aku juga akan masih menganggap pengertian yg sama dg yg mbak pikirkan.
      Setelah sedikit membaca dan menelaah. saya pun baru sadar. oh iya, ternyata luxury (kemewahan) itu salah satu bagian privilege saja.. πŸ™‚
      THanks udah mampir mbak πŸ™‚

  6. wah baru tau aku perihal privilage ini mbak,,, bener juga sih sbg orang tua baik juga kasih privilege ke anak,, saya kayaknya harus byk belajar buat bekal nanti πŸ˜€ hihi

    • Iya mbak. Sebagai orang tua memang musti memberikan bekal untuk anak agar lebih baik dalam menjalani hidupnya kelak. Karena ya sebagai orang tua itu tuasnya adalah “mentaske” anak dg sebaik mungkin. Karena dunia di luar sana itu keras bgt.

  7. privilege ini berarti secara sederhana itu seperti keistimewaan yang diciptakan yak. Entah itu keistimewaan dalam bentuk materi atau non materi (bakat) yaa… Alhamdulillah aku gak pernah merasa iri dengan apa yag dimiliki orang kecuali kecerdasannya, menjadi motivasi tersendiri

    • Iya, betul mas. Semoga makin banyak orang yang termotivasi dan semangat setelah baca artikel berikut komen-komen positif ini ya mas..
      Matur nuwun sudah mampir πŸ™‚

  8. Sepakat dengam priveledge masing masing orang memang berbeda.. tapi dengan budaya timur kita sudah sebaiknya saling membantu dengan privledge yg dimiliki untuk goal yang hendal dicapai…yg jengkel itu ketika priveledge yg kita miliki digunakan utk memgganjal orang lain

    • Waahahaha… btw, paling jengkel sih kalau saya, ada org yang tahu dan sadar dia punya privilege kemudian dia merasa orang lain tu semacam gak berusaha supaya bisa mencapai hasil seperti mereka..

  9. Semoga saya menikah dan punya anak nanti akan memberikan sebuah privelege atau hak istimewa namun saya tidak ingin memanjakan anak saya menjadi istemewa juga takutnya berlebihan menjadi manja dan mengandalkan orang tua saja

  10. artikelnya sangatmenarik dan inspiratif, banyak cara mendidik anak dan menciptakan previlege bagi mereka. agar nantinya mereka tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan bertanggung jawab

    • Makasih KAK! Tulisan ini sebenarnya awalnya merupakan curhat terselubung .. kemudian ada membahas dengan rekan dan voila… jadilah tulisan ini. Syukurlah kalau tulisan ini berguna πŸ™‚

  11. Benar-benar ilmu yang bermanfaat yang bisa saya terapkan nanti kalau sudah punya anak. Jadi intinya anak itu harus diberi hak istimewa ya, dan hak istimewa tak melulu soal kemewahan.

  12. Tulisan ini bisa jadi bekal apabila sudah punya anak nanti nih. setuju sih, gak seharusnya iri dengan privilege yang dimiliki orang lain, seharusnya hal itu yang memotivasi kita untuk jadi lbh baik

  13. Setuju. Adanya privilage akan membuat anak menjadi spesial lebih unggul. Hal itu juga semakin mendongkrak kepercayaan diri mereka. Semoga saya juga bisa mewujudkan privilage di dalam kehidupan, khususnya keluarga

  14. Saya suka nih poin no 3, Ajak obrol anak, cocokkan minatnya dengan kemahiran anda.
    Kecocokan saya dan anak yaitu sama-sama suka main game, tapi bapaknya yang gak suka kalau kami main game. susah kalau gitu, heheh..

    Saya akan coba bikin list tentang minat dan bakat anak, supaya nantinya lebih gampang mengarahkannya ketika dia sudah remaja, tinggal pilih ingin lebih fokus kemana.

  15. Kalau urusan privilege ini saya jadi kangen almarhumah ibu. Dulu banget waktu kecil, waktu susah, beliau meminta maaf kalau pernah melahirkan saya. Coba katanya kalau saya lahir dari keluarga haji X (tetangga kami yang kaya rya), pasti hidup tak kesusahan.

    Saat dewasa, saya dan kakak-kakak sudah mandiri, hidup kami alhamdulillah jadi lebih baik. Tapi ya namanya umur, beliau sudah mendahului ke pangkuan Tuhan. Pengin rasanya ngomong kalau beliau tidak pernah salah melahirkan kami.

    Bersyukurlah yang punya privilege baik. Namun yang punya privilege kurang bagus pun jangan pernah berkecil hati apalagi menyalahkan orang tua.

    • Iya bang, saya yakin almarhumah saat ini pasti bahagia, karena anak-anak beliau sudah mendapat penghidupan yang lebih baik, sehingga cucu-cucu beliau insyaAllah mendapat privilege yang lebih luas. One step at a time.

  16. Kalau menurut saya, itu namanya keberuntungan ya mas. Memang tidak semua dari kita memiliki dan bisa mendapatkannya. Tinggal kita harus bisa menemukan apa kelebihan yang dimiliki diri sendiri untuk kemudian bisa dikembangkan. Tidak perlu iri dan nyinyir kepada keberuntungan orang lain. Banyak bersyukur lebih baik #pengingatdirisendiri

    • Iya kak. Keberuntungan memiliki orang tua kaya dan yang mendorong kita menjadi lebih mudah dalam belajar hingga mencari kerja, memang termasuk dalam salah satu pemahaman ttg privilege.

      aku setuju kak, banyak bersyukur thd capaian diri, karena di bawah kita ada banyak orang yang sejatinya menginginkan posisi kita saat ini. πŸ™‚

      Selamat bermalam minggu!

  17. Nah ini yang harus mulai di kenalkan ke masyarakat tentang pentingnya pemahaman previlege.

    Sadar atau tidaknya kita ketika berada di lingkungan masyarakat, terutama di pedesaan. Memiliki previlege tidak lah menyenangkan, justru malah menjadi beban sosial.

    Penting juga untuk mengedukasi pada masyarakat agar tidak menjadi cemburu atau menjadi bahan gunjingan kepada orang yang memiliki kesempatan istimewa dalam kehidupan nya, baik itu dalam karir.

    Saya sangat setuju jika artikel ini banyak dishare dan di baca oleh orang orang yang belum terbuka atas previlege atau keistimewaan yang dimiliki orang lain.

    Maaf curhat. Soalnya sering mendapati ada yang nyinyir ketika ada orang lain lebih beruntung.

    • Woah, aku terharu dapet komen begini. Makasih Kak!

      Sebenarnya tulisan ini merupakan curhatan diri sendiri, saat di sekitar saya (termasuk saya, dahulu) pernah mengungkapkan rasa iri seperti: Lah kok nggak aku saja sih yg kaya? Lha dia bisa ini karena x y z.. bla bla bla.

      Dengan memahami privilege, jujur hidup berasa lebih enteng pundaknya… πŸ™‚

    • Halo mas Anang. Privilege itu arti umum. Mahal atau uang atau kemewahan, merupakan anggota dari privilege.
      Karena, privilege tidak selalu berarti uang banyak.

      Misalnya: Anak yang bisa juara ngaji, belum tentu karena ortunya kaya sehingga bisa ngundang guru ngaji.
      Bisa jadi ayah atau ibunya adalah juara MTQ, sehingga si anak bisa mendapatkan privilege belajar Quran.

  18. Hak Previlage ini memang harus dimiliki setiap orang, dan hal tersebut bisa didapatkan melalui beberapa faktor seperti di atas.

    • Setiap orang sejatinya punya privilege .. Tetapi karena banyak orang punya hal yg senada, akhirnya tidak menjadi pembeda (istimewa)

    • Aku sampai bacain semua komen yg masuk. Hehe….Previlege bisa juga maksudnya peluang, kesempatan, kemudahan yah. Nah itu bedaΒ² tiap keluarga. Sebagai ortu rasanya aku udh ciptain sih previlege buat mereka. Eh…belum pernah nanya juga ke anakΒ², sebagai ortu, aku gimana?…πŸ€”

      • Halo kak Hani. Aku baru sadar ttg membangun privilege ke anak tu saat anak pertamaku, Aria, berusia PAUD, kemudian kami mencoba mengecambahkan tauge pada beberapa cairan. Eh ternyata anaknya seneng banget! Saat itu aku baru sadar kalau aku mempunyai skill dan akademik pertanian, kenapa nggak kuturunkan sebanyak2nya ke anak ya? Itu sih Kak πŸ™‚ Makasih udah mampir..

  19. Byk udh yg menjual privilege seeperti maskapai penerbangan, tiket pertunjukkan dan konser. Jadi kita gak perlu cape antri, ada jalur privilege. Namanya jalur privilege adalah jalur express atau spesial

  20. Thank you for your inspiring article, Mas Ari! Artikel Mas Ari memberiku pelajaran untuk stop nyinyir and build your own previlege. You might not feel the benefit for yourself now but it might work for your family someday.

    • Alhamdulillah!
      Nggak nyangka berguna juga artikelku ini πŸ™‚ πŸ™‚
      Thank you Isti, udah berkenan mampir dan ngasih komen mood booster yg keren ini.
      Salam buat keluarga dan si Kembar.

      • Disinilah pentingnya peran orang tua terhadap buah hati.
        Kita sebagai orang tua harus melatih privilege anak sejak usia dini. Kenapa demikian?

        Karena kalau privilege itu tidak kita bangun akan ada kecenderungan tertinggal dengan anak seusianya.

        Mari ciptakan penerus masa depan dengan semangat positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *