Langit-Langit Kaca Perempuan Bekerja di Bidang Pertanian dan Perkebunan

Perempuan berkarir sering terpojok oleh langit-langit kaca perempuan, yang membuatnya sulit berkembang

Perempuan, tentu berbeda dengan laki-laki. Tulisan tentang langit-langit kaca perempuan kali ini merupakan pengamatan saya pribadi. Tulisan yang bisa berbeda dengan yang anda temukan. Saya lama berkutat di bidang pertanian dan perkebunan, maka pada kedua bidang itulah fokus tulisan ini berada. Selamat membaca.

Pertanian dan Perkebunan, masihkah menarik untuk generasi muda?

Sebelum ke inti tulisan, marilah menilik konteks dari sub judul di atas. Terdapat dua hal:

Pertama, apakah pertanian dan perkebunan masih menarik minat untuk dipelajari generasi muda? Misalnya belajar di Sekolah Pertaninan dan Perkebunan Menengah Atas (SPBMA) hingga ke jenjang D3 dan S1 pertanian atau perkebunan?

Kedua, apakah setelah lulus pendidikan pertanian atau perkebunan, para lulusan pertanian mau bekerja di bidang tersebut? Bagaimana kalau mereka merasa salah jurusan? Mereka akhirnya memilih untuk bekerja di bank atau mal. Sebuah profesi yang tidak berhubungan secara langsung ke pertanian perkebunan.

Berdasarkan apa yang saya lihat di Thailand selama proses belajar, banyak mahasiswa yang memang anak petani. Mereka masuk sekolah pertanian karena mereka ingin bekerja di bidang pertanian atau perkebunan. Tentunyam, dengan lebih baik ilmunya.

Hal tersebut berbeda motivasinya dengan yang di Indonesia.

Hal berbeda justru saya temukan pada mahasiswa S1. Mereka jarang sekali punya greget untuk memang bekerja profesional di bidang pertanian dan perkebunan. Motivasi mereka pun beraneka ragam, “Ya daripada gak kuliah”, “Lha keterimanya di pertanian kok” dan banyak lagi. Terasa nyebelin, tetapi aku paham karena pernah juga di posisi yang sama.

Hal berbeda justru sering saya dengar siswa SPMA atau SPBMA. Mereka justru lebih punya visi untuk bekerja di pertanian atau perkebunan, lho.

Langit-langit kaca Perempuan vs Laki-Laki di Pertanian dan Perkebunan

Oke, sekarang kita masuk ke inti tulisan.

Sekarang, coba anda cari lowongan pekerjaan untuk berkarir di bidang pertanian dan perkebunan. Pastinya, bagi sarjana pertanian dan perkebunan. Tolong dicari di posisi selain HRD dan administrasi ya. Hasilnya apa?

Sering kali di lowongan pekerjaan tersebut tidak menyebutkan syarat gender (laki-laki atau wanita). Tak lain karena perusahaan akan dinilai diskriminasi.

Idih ini perusaaan diskriminasi banget sih! Rekrut dari dulu yang dicari laki-laki terus. Lha aku gimana bisa dapat kerja di situ?

Nona X, lulusan S1 Pertanian.

Kemudian, barulah kita boleh bertanya. “Sebenarnya, apa sih bedanya antara kayawan lapangan perempuan dan laki-laki?”

Kodrat alias kekuatan dan ketetapan Tuhan.

Ya. Kodrat laki-laki dan perempuanlah yang memang menjadi pembeda di dalam berkarir di bidang pertanian dan perkebunan. Khususnya di pekerjaan lapangan. Untuk pekerjaan laboratorium sih gender tidak ada bedanya. Bahkan, dari segi ketelitian maka perempuan lebih unggul daripada laki-laki.

Pekerjaan lapangan untuk perempuan itu bagaimana?

Bekerja di lapangan bagi perempuan itu sulit untuk jangka panjang. Anda boleh tidak setuju, tetapi kenyataannya memang begitu. Berikut kendala yang akan dialami bagi perempuan saat bekerja di lapangan. Tentu hal tersebut tidak dialami oleh pekerja laki-laki:

  1. Kekuatan fisik
    Jelas secara biologis, terdapat beda kekuatan fisik antara laki-laki dan perempuan. Pekerjaan lapang mengharuskan kita untuk selalu aktif. Kita harus bergerak dengan kekuatan fisik yang berlangsung terus. Sering kali pagi hari bahkan hingga lemburan tengah malam. Bahkan, kadang dini hari ada laporan gangguan, maka anda harus mengecek di lapangan.
  2. Ketahanan emosi
    Oke, mungkin anda akan lebih tidak setuju pada poin ini. Tetapi, coba deh lihat secara umum laki-laki dan perempuan ketika berdiskusi keras saat di lapangan. Misalnya, saat kondisi capek dan cuaca tidak menentu. Tipe emosional laki-laki lebih cenderung rame berantem, kemudian biasa saja. Hal berbeda di perempuan. Ada yang bisa ‘senggol bacok’. Ada yang menangis tersedu-sedu bahkan hingga mendiamkan orang yang dirasa tidak cocok. Bahkan, selama berhari-hari masih membekas lukanya.
  3. Perempuan punya siklus menstruasi
    Nah. Bagaimana saat perempuan mens alias haid alias datang bulan? Satu, pasti emosionalnya tidak stabil. Dua, saat haid hari pertama kedua, kondisinya tentu lemah dan sakit. Sehingga, jelas sulit baginya untuk bekerja di lapangan.
  4. Perempuan (hampir semuanya) ingin punya anak
    Nah ini. Salah satu kodrat perempuan adalah hamil dan melahirkan. Kebayang nggak, misalnya pekerjaan perkebunan di remote area kemudian suami bekerja di luar propinsi yang jaraknya jauh? Terkait ini saya ada pengalaman. Rekan kerja saya, pernah keguguran karena kecapekan dinas di lapangan. Saat itu, dia bahkan tidak sadar sedang hamil. Kemudian, apabila hamil maka produktivitas kerja lapangan terganggu bukan? Akhirnya, perempuan ada fase melahirkan dan cuti paling tidak 3 bulan.

Langit-langit kaca di bidang lain?

Hal tersebut setara dengan olahragawan perempuan. Mereka harus memilih untuk lanjut sebagai atlet, atau pensiun di usia jelang 30 tahun. Misalnya Debby Susanto yang berhenti dari Pelatnas Cipayung karena program keluarga.

arigetas.com 2019
View this post on Instagram

β€πŸ’šπŸ’›πŸ§‘

A post shared by πŸ’– Debby πŸ’– (@debbysusanto) on

Nah, mulai jelas kan? Jarang ditemui perempuan yang menduduki puncak pimpinan di site atau kebun.

Cara mendobrak langit-langit kaca perempuan

Pertama, tentukan target anda. Apabila anda, seorang perempuan yang ingin membangun karir hingga posisi puncak di pertanian atau perkebunan? Kalau iya, maaf. Anda harus mengkompromikan beberapa kodrat perempuan anda.

Kedua, berdamai dengan pilihan bahwa ketika bekerja di pertanian atau perkebunan yang “ramah” terhadap perempuan adalah bukan di lapangan. Opsi bekerja di laboratorium atau administrasi lebih pas. Atau anda bisa jadi peneliti alias bagian dari divisi Research and Development (R & D). Tetapi anda harus paham hukum tidak tertulis. Bahwa tanpa terjun di lapangan secara utuh, akan sulit bagi anda untuk menggapai posisi puncak. Kecuali, anda memiliki privilege dalam menggapai posisi tadi.

Baca juga: Orang Tua Sebaiknya Membangun Privilege untuk Anak, agar masa depannya lebih baik.

Ketiga, kenapa tidak membangun pertanian anda sendiri? Ada banyak peluang berbisnis sayuran organik. Atau, anda bisa memulai usaha sayuran hidroponik saja? Atau menyewa lahan dan menanam aneka buah tropis? Ilmu pertanian dan perkebunan akan terpakai dan tentu saja, anda adalah bos-nya.

Penutup tentang langit-langit kaca

Istilah langit-langit kaca berarti pembatas yang tidak terlihat tersebut memang menjadi suatu hal yang sulit bagi perempuan. Tak kasat mata, tetapi nyata adanya. Langit-langit kaca itu ada, bukan untuk disesali tetapi ya untuk dimaklumi.

Bukankan hidup ini sebenarnya hanyalah pilihan? Kita hanya perlu memilih sesuai apa yang kita suka, berikut dengan konsekuensinya?

About arigetas 251 Articles
Family man. Ayah dua orang putra yang suka iseng, absurd, guyon receh serta hobi main badminton. Terkadang bisa serius.

42 Comments

  1. Oke, saya baru mendengar istilah langit-langit kaca. Tapi setelah ditelaah lagi maksudnya, saya baru mendapatkan poinnya. Memang, kodrat dari laki2 atau perempuan itu sulit diubah. Pembahasaan soal pekerjaan di bidang pertanian dan perkebunan yang identik dgn kerja lapangan, memang bakal lebih pas dikerjain oleh laki2.
    Walaupun begitu, saya masih sering jumpa kok pekerja lulusan d3/s1 kerja di lapangan bidang pertanian dan perkebunan, meskipun nggk banyak.

  2. emang sih mas, di indonesia motivasi masuk pertanian nya beda. temenku byk ada 3 org kali pertanian tapi skrg masuk ke bank. hehe, zona nyaman

    justru ada anak teknik yang masuknya ke bidang pertanian, bikin teknologi buat menyemaian bibit gitu..

  3. Kalo bahas soal perempuan saya lebih gemes pada hal-hal yang enggak kodrat tapi seakan dibuat ‘ya gitu kodratnya.’ Hehe.. Setuju semua sama pernyataan ini mas. Dan kalo memang perempuan suka dg dunia ini (ingin menduduki puncak) ya menurut saya, bisa, tapi dg jalan lain. Maksudnya kayak yang ada di contoh di atas, kerja di lab atau aplikasikan ilmunya melalui usaha sendiri.

    • Iya mb Tami. Awal mula tulisan ini ada, juga karena ada temen (perempuan) protes saat tahu rekrutmen suatu instansi mensyaratkan gender.
      Untungnya, di lingkungan saya adalah riset pertanian perkebunan.. Sehingga sedikit banyak tahu kenapa ada gender dimasukkan di situ.

  4. Menarik pembahasannya mas, ada juga waktu dan tempat dimana perempuan memang benar-benar tidak bisa melakukannya. Bukan karena merendahkan, tapi emang porsi pekerjaab yang hanya diperuntukan bagi laki-laki saja.

  5. Soal ketahanan fisik, perempuan emang tidak sekuat laki-laki. Baiknya jangan terlalu banyak angkat benda berat karena beresiko terhadap rahimnya. Kasian banget karena kodrat perempuan itu hamii dan melahirkan

  6. Dalam ilmu Jawa sudah ada istilah sepikul segendongan yang artinya sepikul (dua bagian untuk laki) dan segendong (satu bagian untuk perempuan).

    Istilah tersebut merupakan bagian kodrat manusia, yang mana bagian laki pasti akan menanggung 2x lipat dari perempuan.

    Begitu juga dalam masalah pekerjaan, seorang lakiΒ² akan bekerja keras di manapun itu, tak terkecuali kerja dilapangan. Karena dari fisik, tentu laki-laki lebih tanggung.

  7. Langit-langit kaca semacam kodrat yang gak bisa dibantah ya. Sekuat apapun perempuan, ia tetaplah perempuan yang bakal berkeluarga, punya anak, dan menjadi ibu sepanjang hidupnya.

    Tapi saya juga menghormati perempuan diluar sana yang memilih menunda, bahkan memilih untuk tidak melakukannya.

  8. Dari kecil memang suka berkebun, tapi berkebun di perkarangan rumah aja. Dan sebagai perempuan saya juga berhenti bekerja dari kantor setelah punya anak. Sampai saat ini masih berat ninggalin anak sama orang lain meskipun keluarga sendiri

    • πŸ™‚
      Nggak ada kok mb, mana yg lebih baik antara ibu rmh tangga dan wanita karir. Keduanya tidak untuk diperbandingkan, layaknya BigMac MacD vs ayam goreng KFC original.

  9. Sampai akhir artikel baru ngeh maksud langitΒ² kaca perempuan itu apa. Engga di pertanian aja sih, di bidang teknik juga. Kalau udh menikah, hrs kompromi juga ama keluarga. Aku mulai kerja udh punya anak. Jadi ya pilihΒ² kerjaan, mroyek jarang banget. Padahal seru lhoh ke lapangan. Senengnya pas survey doang. Kalau menghadapi klien ya males juga…Hehe…

    • Oh ya? Wahahahha. aku seneng bgt dan nambah semangat! Makasih mba Gina.
      Meskipun, jujur, aku sering khawatir tulisanku tu kesannya “nyinyir” dan tajam gitu lho mbak.

  10. Jarang memang ada pekerja lapangan perempuan di perkebunan atau pertanian. Adapun pekerjaan yang paling mungkin bagi perempuan sarjana pertanian jadi penyuluh. Cuma sayangnya banyak alumni pertanian, baik laki-laki ataupun perempuan, yang melanggar “kodrat” nya karena bekerja di luar cakupan ilmunya. Ya seperti di bank atau mal yang Mas Ari bilang itu

      • Pertanian dan perkebunan suatu pekerjaan yang jarang sekali dilakukan oleh perempuan apalagi menjadi pilihan profesi kerja wah berat banget, makanya banyak yang kerjanya diluar dari bidangnya karena jarang sekali loker bidang pertanian dan perkebunan untuk perempuan. Laki dan perempuan ada penbatas tak kasat mata ya kak, walaupun ada yang bilang kan emansipasi wanita masa ga bisa sie .. Kalau udah gitu nyerah dehh.

        • Awalnya, rekrutmen itu terbuka tanpa ada syarat laki/perempuan. Tetapi nyatanya, dalam perjalanannya, jauh lebih banyak perempuan yang resign dari pekerjaan lapangan, sehingga membuat pincang perusahaan. Itulah sebabnya, khusus untuk lapangan, rekrutmen mensyaratkan laki-laki. Sedangkan di divisi non lapangan, terbuka lebar untuk laki/perempuan.

  11. Kakak saya lulusan Sarjana Pertanian yang berakhir jadi pegawai bank. Bener banget emang. Tapi, kalau dibaca secara keseluruhan saya ambil kesimpulannya : You Gain Something You Lose Something. Dan, ini berlaku dalam kehidupan saya pribadi, ada hal yang memang harus dikorbankan demi fokus di satu hal. Suka dengan tulisannya

  12. Nah, adik saya laki malah ketemu passion berkebun dan nanti beternak juga di saat sekarang ini. Di saat sudah masuk usia 30.
    Yang Lucunya dia dulu sekolah fisioterapy.
    Katanya, kalo boleh belajar kembali, dia mau serius di perkebunan/pertanian.

    Sebuah pekerjaan yang tak menarik minat anak zaman now

    • Selama manusia hidup, mereka butuh pangan. Sehingga, sebenarnya peluang petani dan pertanian itu tidak akan lekang oleh jaman.
      Hanya saja, perlu inovasi2 shg pertanian menjadi modern di era 4.0 ini.

  13. gaya menulisnya keren, bikin penasaran, dari awal baca penasaran apa sih langit langit kaca? dari paragraf ke paragraf berharap ada jawabannya, ternyata ada di akhir artikel.

    • Saya anak IPB. Masuk IPB karena orang tua saya adalah petani, punya perkebunan kelapa sawit. Tapi begitu lulus IPB, saya malah tidak ingin kerja di pertanian. Dunia pertanian di Indonesia masih dianaktirikan dahulunya. Tapi saya tak memungkiri, sekarang ini jauh jauh jauh lebih baik. Banyak sektor pertanian yang bisa dikembangkan sendiri dengan berwirausaha.

    • Betul Mas. Makin ke lapangan, makin jarang ditemui kaum perempuan bisa mencapai puncak jabatan.
      Jadi ya wajar bila akhirnya perusahaan secara logis meminta syarat gender (harus laki-laki) saat untuk posisi pekerjaan lapangan.
      Tetapi ya, ada saja yang tidak terima dengan kebijakan itu.

  14. Solusi ketiganya, memang menjadi salah satu solusi paling memungkinkan untuk berkebun. Hehe. Saya suka sekali sama “langit-langit kaca”. Batas yang tak kasat.

    • Dari awal penasaran dan nebak-nebak, apa sih maksudnya langit-langit kaca. Ternyata jawabannya di bawahπŸ˜‚.

      Kalau menurut saya sih, karena ada kesenjangan dan kesalahan yang dilakukan dari pemerintah juga. Membuat generasi muda negeri ini yang tidak tertarik untuk menggeluti pertanian dan perkebunan. Padahal kalau mau digeluti pertanian dan perkebunan sangat menjanjikan

      • Pertanian dan perkebunan itu tetap akan dibutuhkan sampai saatnya semua manusia mati. Kenapa? Karena orang pasti butuh makanan, mulai dari beras, sayur, buah hingga protein hewani.

        Image mahasiswa pertanian yang kuliahnya kotor, sering panas-panas praktek lapangan hingga nggak hits di kalangan dunia pergaulan lah yang membuat jurusan ini kurang peminatnya. Pahit-pahitnya, mereka menjadikan jurusan ini sabagai jurusan cadangan.

1 Trackback / Pingback

  1. Privilege dan Achievement Blogger di Sekitarku - arigetas

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*