Menjadi Gideon Si Minion itu Nggak Cuma Pukul Shuttlecock, Nak!

solusi saat anak pengen menjadi Gideon si Minion yang sangat populer

Saya mengenal olahraga tepok bulu alias badminton dengan memegang raket, saat usiaku sekitar kelas 3SD. Sampai dengan hari ini, saya masih mencoba konsisten untuk bisa bermain badminton. Kebetulan, anak-anakku si Aria (10 tahun) dan Arka (4 tahun), punya idola dan pengen menjadi Gideon si Minion yang sangat populer itu. Apakah menjadi Gideon itu gampang? Kan Cuma tepok-tepok bulu dan menang?

Sebelum meyakinkan Aria bahwa dia bisa meniru semangat Marcus Gideon, sang kompatriot Kevin Sanjaya yang terkenal dengan jersey kuningnya, sehingga dipanggil Minion oleh para fansnya, saya ingin bahwa anakku itu paham tentang pentinya belajar tentang DIPLOMASI BADMINTON.

Apa Yang Bisa Anak Pelajari Lewat Diplomasi Badminton?

Yup, seperti yang Anda semua herankan, apa sih diplomasi badminton dan kenapa anakku harus paham?

Diawali dengan seringnya saya menonton pertandingan badminton terutama ketika tim Indonesia berlaga melalui saluran streaming via koneksi internet cepat IndiHome baik di laptop maupun di smartphone saya, istri saya kadang juga protes.

Alasannya?

Ya tak lain saat saya menonton pertandingan live badminton lewat provider Internetnya Indonesia itu, sering banget teriak-teriak ketika terjadi rally seru atau saat ada error di saat poin kritis. Nah, dari hal tersebut, anak-anak kami pun mulai tertarik menonton badminton dan bertanya ini dan itu.

Hingga akhirnya, selain karena jersey kuning yang memang eye catching, permainan the Minion memang cakep yang akhirnya menjadi salah satu idolanya Aria dan Arka. Hingga akhirnya, Aria Arka pun punya foto memorable dengan raket kuning, salah satu raket kesayangan saya.

Kembali soal diplomasi badminton yuk.

Bermain badminton, ternyata tidak sederhana. Tidak hanya sekedar menerima ajakan atau justru kita mengajak temen untuk tepok-tepok bulu. Ada banyak rangkaian proses yang bisa melatih kita sebagai penggemar tepok bulu dalam menjadi orang yang lebih baik, misalnya:

  1. Berlatih Disiplin
    Disiplin di sini, tidak hanya berhenti pada pengertian disiplin bermain misalnya 3 kali seminggu. Sikap disiplin dalam bermain badminton, juga berarti pada kemampuan kita untuk melatih diri dalam menjaga supaya permainan tidak mudah error. Alasanannya, ketika pemain badminton sedikit blunder saja, maka siap-siap kehilangan poin penting ya.
  2. Melatih Emosi
    Berolahraga dengan mengandalkan fisik dan berhadapan dengan lawan tanding, tentu harus bisa menjaga emosi diri sehingga tidak menjadi kacau dalam bermain. Apalagi ketika Anda harus bermain ganda, maka selain wajib punya gembok emosi yang kuat saat menghadapi lawan, Anda juga harus piawai dalam mengelola emosi terhadap partner bermain sendiri.
  3. Belajar Paham Kalau SELALU Ada Langit di Atas Langit
    Keunikan dalam bermain badminton, sering kali kita tidak bisa menakar skill badminton seseorang hanya dari tampilan fisiknya. Bisa dibilang, pehobi badminton mirip dengan pehobi renang dan karate misalnya. Seseorang yang berusia 25 tahun dengan fisik ideal dan kokoh misalnya, belum tentu bisa mengalahkan seorang senior pehobi badminton yang usianya sudah 50 tahun lho. Artinya, kamu musti bisa menjadi sosok yang rendah diri ya Nak.
  4. Mengurusi klub Badminton = Belajar Jadi Manager
    Pada sekitar tahun 2016-an, kebetulan saya adalah seorang koordinator klub badminton yang bernama International Student Badminton Club (ISBC) di salah satu kampus di negara gajah putih. Ternyata, mengelola klub itu tidak mudah. Saya harus mengatur giliran siapa yang jadi bendahara, siapa booking lapangan, siapa yang beli shuttlecock hingga siapa yang membawa makanan dsb. Aku berharap anakku nanti juga mau turut serta berlatih mengurusi klub lokal di area Salatiga, tempat kami tinggal saat ini.
  5. Belajar Saling Berbagi
    Maksudnya, ketika kita bermain badminton sudah level intermediate maka ya tidak boleh males kalau harus melatih teman yang levelnya di bawah kita. Demikian juga, ketika kita sedang dilatih tanding oleh teman yang level permainannya lebih bagus, wajib sungguh-sungguh belajar bermain ya.

Cara Anak Meniti Jalan Menjadi Gideon si Minion itu Bagaimana?

Ya siapa sih yang nggak nge-fans dengan Marcus Fernaldi Gideon? Seorang pemain badminton profesional yang pertama meraih gelar ganda putra di Perancis Terbuka bersama Alm. Markis Kido, yang kemudian banyak banget gelar bersama Kevin Sanjaya dan sukses bertahta sebagai pemain ranking #1 dunia BWF hingga tulisan ini dibuat.

Dari salah satu postingan mba Wid, yang dulu sebagai fotografer di Pelatnas Cipayung, Gideon merupakan salah satu atlet badminton profesional yang tidak mendapatkan rentetan prestasi hanya dengan mengandalkan bakat semata.

Gideon memiliki kebiasaan sering menambah porsi latihan lebih banyak dari yang diatur oleh para pelatihnya, supaya lebih bugar dan lebih taktis dalam bermain. Saya yakin, Gideon capek sekali setelah latihan, tetapi nyatanya langkah tersebut berbuah manis.

Nah, sebagai salah satu jalan bagi anak-anak untuk mewujudkan mimpinya menjadi atlet badminton alias bulutangkis yang mumpuni seperti Minion, saat ini ada IndiHome Gideon Badminton Academy yang sedang membuka pendaftaran bagi anak (laki-laki dan perempuan) maksimal berusia 16 tahun.

Untuk bisa ikut dalam audisi, maka setiap anak wajib mendapatkan izin dari orang tua yang dibuktikan dalam bentuk surat. Kemudian, syarat lain adalah orang tua menyiapkan rekaman video saat anak melakukan gerakan servis, smash, backhand dan forehand dengan durasi video maksimal 3 (tiga) menit. Oh iya, videonya wajib ada hashtag #IndiHomeGideonBadmintonAcademy #GideonBadmintonAcademy #AktivitasTanpaBatas dan #IndiHome

Syarat yang lain bisa dibaca sendiri ya pada tautan di atas. Kesempatan emas ini pantang untuk dilewatkan, agar bisa meniti karir di jalur prestasi badminton yang tepat.

Yuk daftar.

About arigetas 379 Articles
Family man. Ayah dua orang putra yang suka iseng, absurd, guyon receh serta hobi main badminton. Terkadang bisa serius.

9 Comments

  1. Kalau bicara badminton, sepertinya gampang susah dipraktekkan kalau buat aku. Huhu… Ternyata memang harus belajar lebih banyak lagi.
    Hebat lho anak-anaknya mas Ari suka dgn dunia olahraga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*