Stress dan Depresi hingga Keputusan Bunuh Diri di Sekitar kita

Tulisan tentang stress dan depresi ini aku buat di handphone, di dalam bus Konsortium dalam perjalanan dari Hat Yai menuju Malaysia. Kebetulan aku ada keperluan di KL Sentral selama beberapa hari. Saat berhenti di suatu restoran di Bukit Kayu Hitam – selepas perbatasan Thailand dan Malaysia, entah kenapa, tetiba aku teringat tentang cukup banyaknya orang yang melakukan bunuh diri.

Stress dan depresi di pelupuk mata

Sejak aku masih kecil, aku sudah mendengar cerita tentang orang yang memutuskan tuk mengakhiri hidupnya. Kalau tidak gantung diri ya minum racun misalnya apotas. Saat itu, aku tidak ada ide ataupun bayangan perihal alasan apa yang digunakan orang tersebut sebelum memutuskan untuk bunuh diri.

Karena aku tidak tahu alasan atau motivasinya.. Aku pun bertanya kepada alm. Bapak dan dijawab beliau karena orang tersebut sedang berat beban pikirnya. Dia baru sedih dan tidak bisa berpikir jernih adalah alasan yang diberikan oleh alm Bapakku. Pada waktu itu, aku sih bingung.. Setahuku, kalau aku sedang sedih atau takut.. Aku kan nangis terus nyari Ibu dan menangis di pelukan Ibu.

Ah iya, aku malah jadi inget.. sudah berapa tahun ya aku gak nangis di pelukan Ibu.. Hahaha..

Nah, sampai aku dewasa.. Ada beberapa kali aku membaca berita tentang orang yang bunuh diri. Tetapi, aku tidak merasa ada sesuatu yang baru dalam berita itu. Aku menganggap, hanya orang bodohlah yang sampai memutuskan bunuh diri. Hidup ini khan asik.. Menyenangkan.. Kenapa juga dibuat susah.. iya kan??

Ternyata… akhir- akhir ini aku baru menyadari bahwa pendapat aku adalah salah besar. Kesalahanku adalah membandingkan kehidupan orang yang bunuh diri tadi dengan kehidupanku. Yang aku bandingkan adalah kasih sayang orang sekitarku yang bisa aku dapatkan setiap hari. Berbeda dengan apa yang mereka para pelaku bunuh diri hadapi. Hal ini sih menurutku tidak linier dengan harta yang dimiliki. Pelaku bunuh diri ada yang ekonominya dibawah keluargaku, tetepi banyak juga yang diatasku

Baca juga
Membangun privilege untuk anak agar kehidupannya lebih baik

Saat itu aku berpikir sudah lumayan tahu lah tentang motif seseorang bunuh diri. Sampai akhirnya ada orang-orang disekitarku ada yang mulai menceritakan pengalamannya tentang keinginan bunuh diri. Dan rasanya beneran.. Serem.

Jreng jreng..

stress dan depresi hingga ada yang ingin lo

Ketika temanku ingin bunuh diri

Saat sekolah di Thailand ini, pernah suatu ketiika kami sedang asik saling bercerita tentang banyak hal, ada teman – sebut saja Lintang – yang dengan mudahnya mengeluarkan kalimat:

“Aku lho kapan itu pas stress pengen rasanya lompat dari asrama, Mas”.

Lintang, tinggal di lantai 15 asrama

HAH?

Aku kaget mendengar kalimat itu dari seorang Lintang. Kenapa kaget? Karena Lintang ini anaknya ceria, tidak suka usilin teman, pintar dan baik hati. Andai Lintang tidak bercerita, aku sama sekali tidak akan pernah menduganya.

Waktu aku pelan-pelan tanya alasannya, dia bilang bahwa: “Ya pengen lompat aja.. Pengen lepas dari stress dan orang-orang paling juga gak akan tahu aku hilang.”

Untuk kali kedua aku berucap: “Heh? Cuma itu saja kah?” dan Lintang mengiyakan.

Lintang pun melanjutkan kalimatnya: “Aku pas masih SMA juga pernah stress terus berpikir.. Gimana ya kalo aku ngebut naik motor terus aku tabrakin.. Kalau mati kan terus gak akan susah.” Lintang mengucapkan kalimat itu dengan intonasi datar. Serem jadinya.

Masih dengan kekagetanku, aku pun hanya mengiyakan rangkaian kalimatnya Lintang. Ketika malamnya aku kembali ke kamarku, aku mencoba mencerna lagi diskusi dengan Lintang. Kemudian aku pun ingat.. Kalau menjatuhkan diri dari gedung belasan lantai sih yakin akan langsung bablas. Lha kalau nabrakin motor kan belum tentu langsung mati, kan? Duh aku merasa makin ngeri.

—– skip skip skip —–

Ternyata temanku yang sedang tertekan tidak cuma satu

Sekian bulan berlalu dari diskusi tadi, ada salah satu sahabatku di Thailand – sebut saja Bintang – yang tetiba mengirim pesan: “Mas, aku pusing.. Aku ada masalah abcd..” Aku meresponnya dengan agak pasif, karena biasanya seseorang yang begini hanya butuh didengarkan. Setelah sekian pesan, ada suatu pesan yang membuatku kaget.

“Abis ini aku mo pergi naik motor, apa aku tabrakin motorku ke mobil-mobil yang ngebut itu aja ya Mas?”

Kalimat itu membuatku kalang kabut.. Sambil menanggapinya dengan sedikit kalimat retoris untuk mengulur waktu, aku segera menelepon Lintang untuk bertanya..

“Halo Lintang.. Sorry urgent nih.. Kamu pas tetiba mikir mau bunuh diri itu apa sih yang sebenarnya kamu inginkan? “

Lintang agak kaget dan bertanya: “Kenapa Mas nanya?”

Sadar karena kelupaan memberi intro telepon, aku pun cerita: “Saat ini ada temanku yang ingin bunuh diri dan caranya mau nabrakin motor.. mirip kayak kamu dulu, Lintang.”

Lintang menjawab santai: “Oh kalau aku sih ya cuma pengen didengerin Mas.. Habisnya, waktu itu gak ada yang peduli ama aku.”

“Itu aja kah alasannya?” Kejarku memastikan agar tidak ada info yang tertinggal lagi. Lintang menjawab: “Iya Mas.. Temennya dihibur aja Mas.”

Sambill mengucapkan terima kasih, aku pun menyudahi teleponku.

Aku langsung kembali merespon kiriman pesan dari Bintang: “Eh Bintang, kamu kok mau bunuh diri tu emang udah mantep apa? Kamu ada apa sih, emang belum nemu solusinya ya?”

Bintang menjawab: “Aku gak tahu Mas..”

Kemudian aku lanjut bertanya: “Wah nanti kalau kamu udah gak ada, yah sayang banget deh.. Gak ada lagi yang aku repotin dan usilin rame-rame..”

Dan beberapa kalimat lain yang membuat Bintang itu sadar, bahwa kami di lingkaran teman dan sahabatnya itu menganggap Bintang adalah seorang yang berarti. Hingga akhirnya, Bintang pun sudah hampir kembali ceria lewat pesan-pesan yang dikirimkannya.

Sambil menarik nafas lega,, aku memflashback semua ini. Aku di kota Hat Yai ini bukan sebagai pelajar yang tertua, tetapi sudah termasuk generasi tua yang memiliki anak istri. Mungkin karena itulah ada cukup banyak teman mempercayakan ceritanya ke aku. Sampai batas tertentu, aku tidak akan pernah menceritakan masalah temanku misal A kepada B.. Kecuali sih memang ada hal yg perlu aku konsulkan ke B perihal ini. Tentu saja dengan tanpa menyebut siapa sebenarnya si A ini.

Bunuh diri di kalangan orang populer

Sekian bulan kemudian, tidak ada sesuatu terjadi terkait dengan bunuh diri. Sampai pada bulan Juli 2017 ada kejadian Collapse by Design yang menimpa alm. Oka, salah satu di lingkaran artis Awkarin.

Setelah aku membaca tentang Collapse by Design di sini, aku memahami hal penting lagi. Stress dan Depresi bisa menimpa orang yang diluarnya terlihat kaya, bahagia, cerewet atau suka cita. Bisa jadi itu hanya sebagai topeng supaya tidak ketahuan. Oh iya, istilah Collapse by Design  itu tidak ada di dalam dunia psikologi maupun medis (Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria). Dikatakan oleh Anggia Chrisanti, collapse by design bisa diartikan semacam pembunuhan karakter yang direncanakan.

Semenjak saat itu, aku tidak pernah lagi menganggap enteng segala sesuatu perasaan yang terjadi di sekitarku. Aku menjadi semakin memperhatikan bagaimana teman-temanku. Termasuk aku sendiri, sih. Ada temanku -Sebut saja Bejo- yang kebetulan musti terpaksa meneruskan studi masternya lebih dari dua tahun, dosen (Ajarn ~Bahasa Thailand) dari Bejo itu ternyata perhatian. Ajarn tersebut selalu menekankan bahwa andai si Bejo ada kesulitan ekonomi, jangan sungkan tuk mendiskusikan ke Ajarn. Pesan Ajarn:

Never doing something called: “Suffer in Silence”

Kenapa Ajarn dari Bejo tadi mengatakan demikian? Karena ada cukup banyak mahasiswa yang terjepit ekonominya dan kesulitan dalam membayar uang sekolah sekaligus uang buat makan sehari-hari, tetapi tidak pernah mau bercerita. Dari luar dia tampak baik-baik saja meski aslinya pahit. Stress dan depresi. Hasilnya apa? Ya dia menderita sendirian alias “Suffer in Silence”. 

30 July 2017
Flip Bunc – KL Sentral

About arigetas 234 Articles
Family man. Ayah dua orang putra yang suka iseng, absurd, guyon receh serta hobi main badminton. Terkadang bisa serius.

43 Comments

  1. Iya. Salah satu yg bikin orang pengen bunuh diri adalah karena ia ingin dilihat dan didengar. Setidaknya orang akan tahu siapa dia dan mereka yang tdak melihat-dengar akan menyesal karena telah mengabaikannya.
    Aku dulu pernah mengalaminya. Keluarga hanya punya 1 arah komunikasi berupa perintah. Sampai sekarang masih begitu, hanya saja aku sudah lebih mapan secara pikiran dan perasaan sehingga sudah cuke saja, meski tetap dikerjain, sih, meski sambil ngomel. Hahahahah

    Jangan lakukan itu pada anakmu, ya…. Jadi pendengar anak.

    • InsyaAllah mbak, saya dan istri sudah menerapkan diskusi terbuka dengan anak. Mendekatkan diri ke anak-anak sebagai orang tua, kakak sekaligus sahabat. Alhamdulillah, anak kami mau cerita hari-hari baik buruknya selama ini. Ketika anak cerita dia nakal, kami berusaha tidak marah. Karena kami menghargai itikad baiknya mau menceritakan aibnya. Kalau kami marah, besok dia gak akan mau cerita yg buruk2 lagi.

  2. berarti bener ya mas kalau byk yg mmutusin bunuh diri karena merasa nggak ada yang meduliin dia lagi

    btw, si lintang gapapa kah? aku kok merinding denger iintonasi dia pas crita pernah mau bunuh diri datar2 aja, wkkwkw pasti ekspresi mukanya pas crita juga flat kan`?

    • 2 orang (bahkan 3, dari yg cerita setelah ak posting ini), mereka ber3 adalah teman2ku yang aku kenal personal. Ketiganya sama lho, intonasinya datar yang mencerminkan bahwa mereka ya biasa aja. Mirip kayak orang kaya bilang kalo, eh harga jam 400 juta itu murah ah (pake intonasi datar).

  3. Suicidal tought memang banyak ditemui di sekitar kita. Sayangnya sedikit dari mereka yang mau berbagi dan menceritakan beban yang dialami. Hal itu diperparah dari orang yang mereka curhati tidak memahami apa yang sebetulnya dialami. Beruntung bagi Bintang dan Lintang yang punya temen mas Ari. Jadi mereka bisa bercerita lepas dan menghentikan pikiran bunuh dirinya.

  4. Tapi terjun dari lantai 15 juga sama aja seperti menabrakan motor, belum tentu meninggal Mas kalau belum waktunya. Aku setuju sih enggak bisa membandingkan antara kehidupan yang kita miliki dengan kehidupan orang yang memilih mengakhiri hidup. Apa yang kelihatan bisa saja menipu. Terlihat ceria padahal untuk menutupi sesuatu dalam dirinya. Jadi paling sebel kalau ada yang ngomentarin orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan kalimat-kalimat yang sok tahu kehidupan orang tsb.

    • Truee.. beban yg disangga org lain pasti beda dg kita. Kadang jalan hidup kita mulus2 shg memandang enteng org lain yg punya permasalahan, yg bisa jd menurut kita sepele 😫

  5. Kalau mengenai perasaan bunuh diri belum pernah muncul… karena pernah liat orang minum baygon ga mati…sakitnya ampun2an. Jadi kalau ujung2nya mati, meskipun putus asa…tungguin aja…kalau memang mati ga perlu bunuh diri…pasti mati juga.

    Yg saya pernah jengkel… pengen bunuh orang,…itu…. pasti mau tau alasannya… sederhana… nilai salah satu mata kuliah ancur… minta tolong dibantu..ujian susulan hingga buat tugas… asal lulus aja… engga juga dikasih ntu dosen…

    Saya cuman bilang… pak..saya kuliah bener2 buat bisa lulus dengan baik saja pak agar dapat bertahan hidup cari makan nanti diluar sana…

    Tapi sekali ini saya berfikir…kalau ga lulus dan hanya sekedar cari makan… di penjara pun saya..masih tetap makan kok pak…

    Langsung dia bilang… iya…iya..kita coba sekali lagi ya…

    Ya bayangin aja mas… ngulang 1 mata kuliah tapi ga bisa disemester ini..semester depannya.. kan jadi molor semuanya… dia mah tinggal bilang… itu salah kamu… oooo…salah saya… baik … saya bikin salah sekalian… ga tanggung2… hayooo….

    Akhirnya mau lanjut kuliah lagi..trauma… jangan2 bisa masuknya ga bisa keluar lagi nanti…hehehhee…

    Makanya suka salut sama orang2 kayak mas ari yg belajarnya sampai jauh ke negeri orang

    • Pukpuk buat bang Kornelius Ginting. Aku di sini pun stress aku mas. Banyak hal yg gak bisa kuselesaikan dg baik 😭 .. ya kuliah ya dosen ya banyak hal lain ..

      Jadi ya aku bisa dikit banyak paham dg yg Abang rasakan 🙏

  6. Terkadang orang lupa kalo kita diberikan telinga sama Tuhan untuk mendengar. Lihat deh urutan dari ujung rambut, diawali dengan telinga dulu loh baru mulut. Beneran loh, stress dan depresi itu does exist. Jangan dianggap sepela apalagi cuma dikomenin ah kurang deket sm Tuhan kali. Wah, bisa fatal loh kalo kita asal komen tanpa dipikir dulu. Good mas, raise terus soal mental health. Paling ga, yang punya masalah yg bikin depresi berasa dimengerti.

  7. Terkadang pikiran-pikiran bodoh muncul disaat seseorang sedang banyak masalah, yang pada akhirnya menimbulkan depresi.
    Dan yang lemah iman, mudah menyerah pasti (kebanyakan) memilih jalan hidup untuk bunuh diri.

    Kehidupan hanya sementara, buatlah hidup ini dengan rasa senang.

  8. Aku pun pernah merasakan stress depresi, tapi ga sampe segitunya. paling cuma “ya udah lah, biarin lah, ga papa lah” ketika mempunyai aktifitas atau pekerjaan yang udah dikerjakan hampir selesai dan tidak dilanjutkan lagi.

    setelah itu baru sadar rasa sayang karena perjuangan dalam proses pekerjaan itu bahkan tidak sedikit modal finansial dan waktu serta pikiran yang sudah terkuras.

    lagi lagi sang ibu sebagai peneduh sekaligus pembakar semangat untuk menyelesaikan disetiap pekerjaan hingga tuntas.

  9. Kita gak boleh anggap remeh orang lain yg menyebut dirinya sedang stres atau depresi. Ini terjadi di dua anggota keluargaku. Benar, mereka hanya butuh didengarkan dan kita lebih aktif menghibur. Jangan sampai mereka suffer in silence.

    Satu lagi, jangan malu buat datang ke psikologi. Jangan malu buat minum obat khusus yg diresepkan psikolog atau psikiatris, sebab itu juga sangat membantu. Letak salahnya adalah orang yg depresi malu mengakui dirinya butuh bantuan, malu ke psikolog karena takut dicap orang gila, dan akhirnya depresi ya makin parah.

  10. Baca Ini aku jadi inget loh mas Ari, ternyata emang benar beberapa temen yang pengen bunuh diri yang keliatan ceria dari luar. Temen hahahihi aku, sedih nya aku kenapa kok mereka gak mau cerita sedih nya ke aku juga,.
    Kadang setelah di pancing barulah mereka cerita.i

    • Bangettt mbak. Akupun br ngeh setelah stay d Thailand ini. Saat jauh dari keluarga, maka teman disini sangat berharga. Jadi paham gmn gempuran stress dan depresi itu ada di banyak orang…

  11. Emang, orang depresi ini kebanyakan pikirannya pengen pengakhiri hidup, dikiranya kalau sudah mati maka masalahnya akan berakhir. Jadi ingat tadi lihat berita di TV, ada ibu yang kasih minum racun pada kedua anaknya, lalu setelah itu, dia sendiri juga meminum racun. Konon kabarnya karena si ibu depresi

    • Ya Allah sedihnya 😫😭
      Aku paling gak tega baca berita ttg hal itu.. semoga ibu dan anak2nya tsb diampuni segala dosa2nya dan diterima amal baiknya 🙏🙏🙏🙏🙏

  12. Ternyata depresi itu bukan karena masalah cinta aja ya kak, ekonomi, ketenaran. Memang orang yang seperti itu butuh didengarkan, kadang sebenernya aku tuh selalu buat curhatan temen2 , sempet berpikir ngapain sie dicurhatin terus itu kan masalah loh tapi apa daya mereka memasang muka sedih hahah. Padahal ga usah bunuh diri karena depresi ya, mending doa aja ya Tuhan cabut dong nyawaku.

    • 🙂 Pepatah: orang yang paling keras ketawanya adalah orang yang kesepian itu memang benar kok mba.
      Jadi kalau ada temen yg udah mempercayakan curhatnya hanya ke kita, menurutku ya musti dijaga —meski isi curhatnya ya gitu2 doang.

  13. Segitu datarnya ya alasan untuk bunuh diri. Pikirannya udah gelap aja kali ya, cuma karena pengin diperhatikan jadi pengen bunuh diri. Eh teman yang diceritakan itu orang Thailand ?

    • Temen Indonesia yg sama2 belajar d Thailand. DUlu ak juga mikirnya, haiyah itu kan cuma sepele.. etapi setelah tahu dan ngalami masa2 gelap, aku paham sih mas, rasa capek pikiran bener2 membuat pengen mengakhiri hidup itu memang nyata.

  14. Wah, ada beberapa bagian diatas yang aku pernah ngalamin, wkwkwk. Ngakak sih inget itu lagi, alhamdulillah sih masih punya tempat mengeluh dan mengadu. Jadi, rencana untuk melakukan itu jadi tak urungkan. Wkwk

  15. Saat ini sy lg berjuang melawan mental illness, bisa dibaca dlm blog saya. Terima kasih sdh mengulan ini mas. Depresi dan penyakit lainnya, bersama kita hrs perangi. 🙂

    • sent pukpuk online buat mb Gina.
      Thanks udah sharing mbak. Beneran, stress dan depresi ini tu nyata kesebar di lingkungan terdekat kita. Bahkan, seringkali diri kita sendiri 🙁

  16. Ya betul. Sebenernya orang stres atau depresi itu memang butuh didengar. Aku aja kalau ada yg peduli merasa seneng banget, seketika stres pun ilang, orang lain juga pasti sama. Jadi, perlu banget sih sekadar nanyain kabar sama setiap temen untuk ngasih kepedulian ke mereka.

  17. Depresi itu juga karena berkaitan dengan adanya gangguan dari luar ke dalam diri. Sesuatu yang berat dan tak tertanggungkan. Paling berat adalah jika pelaku yang menyebabkan kita depres tidak peduli dan terus melukai. Itu yang saya alami.
    Syukurlah saya bisa lebih kuat sekarang berkat dukungan anak dan suami, meski tidak mudah melaluinya dan masih menyisakan nyeri jiwani. Duh, malah curjat. Maaf.

  18. Aku pernah depresi tp gak kpikiran buat bunuh diri sih mas, cuma depresi itu nyerang badanku bgt, sampe lemes bgt gak bs gerak gak bs mikir, bahkan ak smpe mikir, klo aku gini terus ak bs mati dlm kosan gak ada yg tau. Hehe

    • Ketika kita sudah melewati proses stress dan depresi, bisa jadi kita merasa konyol ya mbak? Padahal saat kita mengalaminya.. rasanya itu perasaan tertekan yang terberat yang pernah kita rasakan. Mungkin ini yang namanya proses ‘naik kelas’.

  19. Iyap betul mas. Kadang memang, aku males sih dengerin cerita temen yang…mungkin itu ituuu aja. Tapi, akhir2 ini juga aku sadar kalo suffer in silence do exist ya. Jadi, sebisa mungkin nyediakan waktu buat tanya2 kabar temen lama, ngasih semangat, dll.

    • iya mbak… apalagi kalau jauh dari keluarga, bukan kepo tetapi memang kadang perlu peduli kepada orang sekitar. Karena kita sering tidak sadar ada yang sedang super depresi. In my opinion… bisa jadi karena kita senyum dan menyapa dan menanyakan hal-hal biasa, itu adalah titik balik dari orang tersebut untuk tidak stress..depresi hingga memutuskan bunuh diri.

      • Pepatah bilang sih, orang yg paling lebar senyumnya adalah yang paling tersakiti. Aku ada temen yg baiiiik bgt. G keliatan lah klo ada masalah. Tp di balik semua itu, hmmm…ya Alhamdulillah dia bisa ngelewatinnya dengan selalu dekat sama Allah SWT. Aku sampe mikir, kalo di posisi dia, aku mungkin bisa aja berpikiran konyol.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*