Mengatur Keuangan Suami Istri itu Mudah dan Sederhana

mengatur keuangan suami istri harus dengan kesepakatan semua pihak

Menikah, merupakan salah satu kesepakatan antara dua manusia dewasa yang memutuskan untuk hidup bersama dalam suka dan duka. Orang umum mengatakan bahwa menikah itu sangat menyenangkan. Padahal, kehidupan pasca menyandang status sebagai suami dan istri itu selalu ada saja tantangannya. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana mengelola pendapatan (uang gaji dan sumber lain) dari kedua belah pihak dengan adil. Dalam tulisan kali ini, aku akan membahas tentang cara untuk mengatur keuangan suami istri yang bisa kamu terapkan. Selamat membaca.

Salah dalam Mengatur Keuangan Suami Istri itu Fatal

Salah satu masalah yang sering timbul di dalam pernikahan, adalah masalah keuangan. Memang betul, uang bisa menjadi biang masalah di semua aspek kehidupan, tidak hanya di pernikahan. Tetapi ketika uang (dan keuangan) antara suami istri ada yang tidak beres, siap-siap saja untuk kemungkinan terburuk, yaitu bercerai.

Kecuali kamu keluarga si Rafathar yang uangnya tidak berseri, paling tidak sepengamatanku ada 3 jenis masalah yang terkait keuangan keluarga:

1. Salah mengatur prioritas keuangan

Pasangan suami istri yang sama-sama memiliki penghasilan, tentu harus memiliki target prioritas dalam berbelanja. Misalnya suami mempunyai gaji 5 juta rupiah, sedangkan istri juga sama yaitu 5 juta rupiah.

Sebelum menikah, mempunyai uang 5 juta di tabungan terasa agak sedikit mepet. Kemudian, setelah menikah dan uang gaji keduanya digabung menjadi 10 juta rupiah, uang pendapatan terasa lebih besar.

Dengan uang 10 juta rupiah tadi, sering kali membuat orang menjadi lupa akan prioritas belanja. Alih-alih menabung (paling tidak) 30% alias 3,3 juta rupiah di awal bulan, bisa jadi mereka malah meng-upgrade kelas leisure mereka misal nonton film sebulan jadi dua kali.

Contoh lain, karena merasa bahwa uang sudah lebih besar, maka bisa jadi tanpa kontrol dalam berbelanja hal-hal kurang penting. Misalnya, berbelanja ke supermarket tanpa daftar belanjaan ini sepertinya sepele, tetapi bisa fatal. Selain rentan membeli barang yang sebetulnya masih ada stok di rumah, juga rentan membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Memiliki tempat tinggal (rumah atau apartemen), merupakan prioritas utama generasi muda saat ini, karena harga tanah dan bangunan semakin mahal dan lokasi semakin jauh.

Pengamatan pribadi arigetas.com

Lantas, bagaimana dengan membeli mobil dibandingkan membeli rumah?

Nah, kalau ini sih tergantung prioritas apakah memang sangat memerlukan mobil untuk aktivitas sehari-hari atau cukup dengan motor dan kendaraan umum saja. Aku pribadi sih memilih tidak membeli mobil karena puas dengan kendaraan umum dan motor untuk sehari-hari.

2. Gaji istri lebih besar dari suami

Masalah keuangan kedua ini jamak ditemui di masyarakat kita, terutama yang menganut budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemenang segala hal di dalam rumah tangga. Saat gaji istri lebih besar daripada suami, maka suami lambat laun akan merasa tidak memiliki harga diri dibandingkan dengan sang istri.

Ada hal unik terkait masalah kedua ini. Kebanyakan yang mempermasalahkan gaji istri yang lebih besar dibanding suami ini, justru bukan pasangan suami istri itu sendiri. Tetangga atau keluarga dekat yang awalnya hanya ngobrol-ngobrol lucu, bisa jadi berkembang ke pembahasan serius bahwa harusnya suami itu mempunyai gaji lebih besar daripada istri.

3. Suami atau istri terlalu dominan mengatur

Poin nomor tiga ini juga jamak aku temui di lingkungan kita. Menikah berarti menyatukan pengelolaan keuangan antara suami dan istri. Dalam mengelolanya, perlu disepakati antara keduanya agar keharmonisan rumah tangga bisa terjaga hingga maut memisahkan.

Berikut hal-hal yang bisa terjadi saat ada suami atau istri terlalu dominan dalam mengatur keuangan:

  1. Saat suami dominan mengatur keuangan.
    Maka istri bisa berpikir bahwa suami nakal dengan mengalokasikan uang keluarga hanya untuk keperluan suami. Level parahnya, istri bisa berpikir bahwa suami punya “seseorang” di luar sana yang juga rutin mendapatkan uang dari si suami. Eh, bisa juga sih suami yang terlalu mendominasi tersebut sebenarnya termasuk golongan suami posesif yang bikin sebel istri.
  2. Saat istri dominan mengatur keuangan.
    Maka suami merasa bahwa dia tidak mempunyai hak atas jerih payahnya. Contoh sepele, saat suami ingin membeli peralatan olahraga yang memang dibutuhkan, tetapi ditolak oleh istri karena keuangan dipegang istri. Hal demikian bisa memicu suami melakukan hobi yang terlarang bahkan menyembunyikan uang pendapatan lain-lain dari si istri.

Mengatur Keuangan Suami Istri itu Disepakati Semua Pihak

Aku bukanlah ahli keuangan atau seorang konsultan pernikahan. Aku menulis cara mengatur keuangan suami istri ini adalah murni dari apa yang aku amati, dari orang-orang di sekitarku. Berikut 2 cara mengelola uang milik pasangan suami istri yang bisa kamu terapkan.

1. Buat rekening bersama

Daripada ribut mengenai uang suami dan uang istri, bisa diambil jalan tengah dengan membuka satu rekening bank untuk kebutuhan bersama.

Contoh pemakaiannya: ketika gaji suami dan istri masing-masing sebesar 5 juta rupiah, maka masing-masing wajib setor 3 juta rupiah ke rekening bersama tadi, sehingga setiap bulan ada 6 juta rupiah yang memang digunakan untuk operasional rumah tangga, termasuk untuk tabungan rumah tangga. Adapun sisa 2 juta rupiah di masing-masing pihak merupakan otoritas pribadi mau digunakan untuk apa ya bebas.

Saat menggunakan sistem rekening bersama kemudian ternyata 6 juta rupiah tadi ternyata kurang, maka masing-masing pihak wajib iuran paling tidak pada besaran uang yang sama.

2. Percayakan ke salah satu pihak

Asalkan tidak ada pihak yang mendominasi, tidak masalah apabila seluruh uang penghasilan dikumpulkan ke salah satu pihak, ke istri misalnya. Kemudian, istri bertugas untuk membagi ke pos-pos setiap tanggal gajian diterima.

Pembagian pos-pos anggaran tentu harus disepakati kedua pihak dan harus dipatuhi, kecuali ada kondisi darurat. Sebagai contoh, pos anggaran untuk menabung misal 2 juta per bulan, tidak boleh kurang. Akan tetapi, apabila harus ke dokter dan kurang uang, boleh mengambil sebagian pos anggaran tabungan.

Kalau kalian, ada pengalaman apa nih mengelola keuangan keluarga? Yok ditulis di kolom komentar, biar bisa menambah wawasan kita semua, ya.

About arigetas 196 Articles
Family man. Ayah dua orang putra yang suka iseng, absurd, guyon receh serta hobi main badminton. Terkadang bisa serius.

58 Comments

  1. Keuangan dalam rumah tangga emang penting banget diatur. Kalau masih berantakan bisa bikin masalah dalam rumah tangga. Jadi senjata pertengjkaran di kemudian hari. Hiks

  2. Pas bgd mba monica anggen rekomen website mas ari. Dan pas bgd aku lagi da masalah keuangan sm suami dan membaca ini. Suami aku tipikal hampir 80% uangnya aku yg atur. Dia pegang 20% nya untuk uang lanang(belanja sendiri). aku bekerja, dan aku memegang uangku sendiri tanpa campurin ke uang yg dikasih suami. Terkesan egois ya mas.. Duh ko jd pengen curhat panjang2.. hehe

    • 🙂 Alhamdulillah Mbak.. Semoga tulisan-tulisan ringkas di blog aku ini ada sedikit manfaat bagi mbak dan pembaca lain.

      Untuk pengaturan keuangan seperti yang disampaikan mbak Fadilah, selama mbak dan suami sudah sepakat ya tidak apa-apa. Ngga ada istilah egois kok mba.

  3. harusnya ketika sudah memutuskan untuk hidup bersama ya itu tadi suka duka ditanggung bersama, dan si istri kudu pinter pinter ngelola duit keluarga, plus kalau sudah ada anak, kudu extra nabung juga
    sekarang kusudah belajar untuk milah milah pos pos pengeluaran, mana yang simpenan, mana yang buat hura hura

  4. klo saya pribadi sih yang penting terbuka, karena kita base jg bisnis berdua. tetapi klo dipikir2 untuk keuangan lebih dominan suami sih yg ngatur, saya yang bagian belanjain ahhaha

  5. Buat rekening bersama memang sepertinya harus ya kak, jadi keliatan pengeluaran dan pemasukannya,bole aja sie percayakan sama satu pihak tapi kayanya kasihan yang cowo2 ya kalau uangnya harus diserahkan semua ke istri, kasihan jg kalau mau kerja minta uang transport ke istri wkwkwk,tapi aku lihat suami jg mungkin hanya kasih lihat gaji yang setiap bulan aja ya tapi kalau kaya ada bonus gitu,kalau istrinya ga tau ga diberitahu,soalnya pernah ada temen cowo cuma bilang jangan semuanya dikasih tau lah nanti kalau ada darurat butuh dana gimana ? Memang ujung2nya sie buat keluarganya juga.

  6. emang beneer ya mas ari klo penghasilan istri lbh gede bakala bikin suami minder dan merasa harga diri mulai ilang..?

    solusinya gimaana ya? apa ga seharusnya si suami mencari penghasilan tambahan or something else?

    • Pada sebagian besar laki-laki, iya. Solusinya, lebih ke peran istri agar bisa menjaga harga diri suami yang mungkin rapuh, serta peran suami yang musti mau terima kenyataan kalau dia kalah dari sisi penghasilan.

  7. Wah, keren banget tipsnya kak. Tapi kayaknya aku kecepetan bacanya deh, bookmark dulu deh kalo gitu, biar pas nikah bisa menerapkannya.

  8. Ini ibaratnya dalam rumah tangga departemen paling penting banget ya bang. Apapun urusannya hampir berurusan dengan keuangan jadi harus banget pakai skala prioritas kalau enggak wah gawat.

  9. Salah mengatur prioritas keuangan nih terasa banget. Kalau sebulan nonton 2 kali masih mending, ini seminggu bisa 2 kali belum makan dll nya. Mau dilarang pan itu uang laki, yang kerja doski hahaha masih mending nonton nya bareng istri nanti kalau dilarang malah nonton sama yang lain gimana wkwkwk *curcol

  10. Allahu Rabb. Serasa nemu surga baca tulisan ini. Karena aku sendiri juga punya masalah soal keuangan keluarga. untunglah suami gak rewel dan mendominasi. hanya tak terbuka soal keuangannya. Makasih kak. saya tercerahkan dengan tulisan ini.

  11. Saya blank kalau bicara keuangan. hihihii.
    Malas berurusan dengan angka, makanya memilih jadi pihak yang eksekusi belanja saja. Suami yang ngitung pembukuan. Tapi belanja kami tetap kesepakatan bersama.

    Entah mengapa sampai saat ini kalau lihat angka bawaannya pengen lari saja.

  12. Suami dan istri memang harus duduk bersama untuk mengatur keuangan ini ya Mas, apalagi salah satu faktor penyebab perceraian paling besar adalah masalah ekonomi. Jadi mesti berjelas-jelas dan saling berbaik sangka untuk urusan keuangan ini.

  13. Kami gak punya rekening bersama mas , tapi sejak menikah emang suami percayain ke aku 100 persen. Suami cuma pegang uang belanja bulanannya saja yg jumlahnya dia sendiri yg tentukan. Win win solution lah. Karena pada dasarnya laki-laki mungkin sadar. Entah kenapa kalo istri yg pegang uang, itu semua cukup dan bisa tercover dengan baik. Kalo suami yg pegang, rasanya itu gaji kurang terus. Kakaka.

  14. Mantap tipsnya nih Mas hehe. Kalau aku suami ngasih bulanan. Pinter-pinter aku ngatur cukup tidaknya. Aku nyatet pengeluaran di aplikasi buat mantau, hehe.

  15. 3 tahun pertama aku yang pegang semua mas. Tapi akhirnya aku litak (capek) karena aku tipe perfeksionis. Sampe jajanku yang 1000 perak aja aku tulis. Hiks padahal suami gak minta laporan. Entahlah apa aku terlalu jujur, wkwkwk.

    Kemudian aku minta dia pegang sendiri. Kalo aku butuh aku tinggal nodong. Ternyata yang begini cocok buat kami mas.

    Jadi aku bisa kelola uang aku sendiri.
    Dan tabunganku bener-bener berguna pas masa sulit kami

  16. Boleh dicoba tipsnya..pake rekening bersama lebih aman sptinya ya jadi masing2 terlihat kontribusinya.. biaya operasional rumah tangga jg jadi terukur dan transparan..

  17. Ah bener juga, ya, pakai rekening bersama dan dikelola bersama. Aku biasanya ada pembagian post-post sendiri, kak. Cuma ya gitu, kadang kalo pas lagi pegang duit lebih suka boros gak inget nabung hikz. Sekarang nih jadi berasa penting banget tabungan.

  18. Gini aja ambil jalan tengahnya mas. Uang pegang masing-masing, atm pegang masing-masing. Tapi mobil banking instal di ponsel bini saja. Kan beres. #ttd emak2 menteri keuangan rumah tangga.

  19. Wah bisa dicoba nanti tipsnya biar keuangan keluarga aman. Terkadang bagi emak seperti saya, memang yang sering lupa adalah menentukan skala prioritas. Apalagi kalau ada diskonan, pengennya beli dan beli. Harus bisa nahan diri nih untuk tidak tergiur diskonan, biar anggaran belanja tidak membengkak…😁😁

  20. Sebagai yang masih single saya merasa uang itu untuk dihabiskan untuk hari itu juga. Yah, saya bisa dibilang boros sih. Tapi, borosnya untuk hal positif seperti membeli buku atau e-book walaupun kebanyakan tidak sempat dibaca juga.

  21. Iya sih, sesuai kesepakatan
    Spt saya, tinggal kasi ke istri sekian dan untuk pegangan saya sekian, trus istri yg atur keperluan keluarga hehe

1 Trackback / Pingback

  1. 8 Tips Perencanaan Keuangan Keluarga Muda - arigetas

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*