Kasih Sayang Kakek Nenek kepada Cucu itu Perlu Dipilah

Kasih Sayang Kakek Nenek Kadang perlu dipilah mana yang membuat manja anak mana yang mandiri

Selain rasa bahagia yang kita rasakan saat kita dikaruniai anak, orang tua kita pun tidak kalah bahagianya karena menjadi kakek dan nenek. Akan tetapi, saking sayangnya mereka ke anak, terkadang kasih sayang kakek nenek itu berlebihan sehingga perlu dipilah. Apa saja contohnya?

Catatan: kisah ini aku tulis dari kumpulan banyak cerita teman dan orang-orang di lingkungan saya.

Kasih sayang kakek nenek yang luar biasa itu tidak selalu tepat

Saat menjadi seorang kakek dan nenek pertama kali, tentu rasa bahagia sangat dirasakan. Akan tetapi, saat orang tua saya menjadi kakek nenek dari anak ragil alias terakhir pun juga tak kalah heboh dan bahagianya.

Saya masih ingat saat saya gagal menjadi suami SIAGA saat anak pertama karena saya masih di pesawat saat anak pertama saya, Aria, lahir. Kemudian saya bisa melunasi dengan menjadi ayah SIAGA nyaris penuh saat anak kedua saya, Arka, lahir.

Jujur, rasanya memang bahagia banget saat anak lahir dan alhamdulillah semua normal. Rasa-rasanya ingin kuberikan semua hal di dunia untuk anak. Bahkan nyawa pun saya rela.

Lantas, kakek dan nenek yang juga sedang berbahagia saat mempunyai cucu ini juga tidak kalah “militan” dalam menyayangi anak kita. Terkadang berlebihan. Tak jarang, parenting ala kakek nenek rentan konflik dengan tujuan parenting kita lho.

Berikut beberapa contoh kasih sayang yang berlebihan, terutama saat anak sudah bisa diajak ngomong dan berfikir.

1. Kakek dan nenek tidak ingin cucu kecapekan

Coba anda perhatikan. Saat sekeluarga besar berjalan-jalan di mal dalam rangka menuruti anak bermain di playground misalnya, sering kali anak merengek kadang sampai nangis karena merasa capek.

Lantas saat kita merasa anak sudah lumayan besar dan berat digendong maka kita memilih untuk duduk dulu istirahat sebelum lanjut jalan. Akan tetapi si anak sering tidak mau tetapi karena sudah bosan dia merengek ngeyel minta digendong.

Sebagai orang tua, kita ingin anak belajar mandiri dan tahu bahwa resiko minta main di playground itu ya capek. Kalau capek jalan ya duduk istirahat bukan digendong.

Akan tetapi saat kita meminta anak belajar hal tersebut, si anak menawar dengan cara merengek sampai menangis. Lantas, kakek nenek yang melihat cucunya nangis, tentu langsung menawari untuk ngalah menggendong si cucu.

Hasilnya si anak diam dan kita semua bisa langsung pulang. Masalah selesai tetapi si anak akan manja dan menggunakan cara tersebut di kemudian hari.

2. Kakek Nenek turun tangan melihat cucu rewel saat mengerjakan PR

Hal senada dengan kejadian nomor 1. Saat anak sedang belajar dan kita ajari bagaimana mengerjakan PR, terkadang anak rewel. Kerewelan anak seringkali bukan karena anak tidak bisa diajari, tetapi bisa jadi ada distraksi dari keinginan si anak melihat TV atau bahkan YouTube.

Karena anak tahu bahwa selesai mengerjakan PR maka boleh lihat TV misalnya, maka si anak akan menulis PR-nya dengan asal selesai. Huruf a e o menjadi tidak jelas hingga tulisan ala benang ruwet.

Sebagai orang tua, tentu kita ingin si anak menulis dengan lebih perlahan dan bagus bukan? Karena kemudian kita meminta si anak menghapus tulisannya dan menulis ulang dengan lebih bagus, si anak pun ngambek.

Kakek atau nenek yang “tidak rela” melihat si anak kerepotan memperbaiki atau capek telinganya mendengar anak dan cucunya “berantem”, seringkali menengahi dengan bilang: “Udah gak papa yang penting selesai dikerjakan PR-nya”.

Kalau sudah begitu, sebagai orang tua kan gak bisa memaksa si anak untuk memperbaiki lagi PR nya dengan lebih baik.

3. Kasih sayang kakek nenek saat melihat cucu tantrum = langsung menuruti keinginannya

Anak-anak yang ingin sesuatu kemudian tidak dipenuhi ayah ibunya karena suatu alasan yang paling logis pun, sering kali menjadikan anak emosi, teriak-teriak dan berontak alias tantrum.

Idealnya, saat anak tantrum, sebagai orang tua harusnya membiarkan si anak selesai dengan model tantrumnya. Dicuekin istilahnya, tetapi tetap diawasi jangan sampai si anak membahayakan dirinya sendiri.

Biasanya, saat anak sadar bahwa teriak mengamuk itu tidak akan berhasil membuat ayah ibunya mengikuti keinginannya, maka si anak akan kembali tenang.

Hanya saja, seringkali dalam proses mencueki ini kan si anak mengeluarkan suara yang keras. Nah, kakek atau nenek yang berada si situ seringkali merasa malu atau khawatir si cucu berisikin orang, langsung deh menuruti apapun keinginan si cucu.

Kakek Nenek, kami sayang kalian

Wahai kakek dan nenek tersayang, kami tahu kalian sayang banget ke cucunya. Tetapi mohon untuk tidak memanjakannya ya Kek, Nek. Meski bagaimanapun, kami anakmu masih belum bisa sepenuhnya mandiri tanpa kalian. Buktinya apa?

Kami bahagia banget saat kami kerepotan dan kakek nenek mampir ke rumah kami dan bermain bersama si kecil kami. Atau tiba-tiba nenek memasak makanan favorit si kecil.

Bagi pembaca yang masih memiliki orang tua, sayangilah beliau. Bagi yang sudah ditinggalkan marilah sama-sama memanjatkan doa kepada mereka. Pasti mereka akan bahagia di sana.

kasih sayang kakek nenek itu luar biasa tetapi kadang terlalu berlebihan sehingga bisa membuat anak menjadi manja
Simbah kakung dan putri menimang anak pertama kami, Aria.
Bapak, Ibu, aku kangen.

Kalau kalian ada pengalaman unik apa nih tentang kakek nenek yang memanjakan cucunya?

About arigetas 234 Articles
Family man. Ayah dua orang putra yang suka iseng, absurd, guyon receh serta hobi main badminton. Terkadang bisa serius.

44 Comments

  1. Aku ga prnah ngrasai belaian nenek sama sekali baik nenek dri bapak atau ibu.. Aku lahir mereka udah ga ada semua..

    Nah klo kakek nih lucu.. Pas balita aku ga inget. Tapi dri sd sampe kakek berpulang aku masih inget bgtbtiap hari dibangunin buat nyapu, trus suruh ke psar.. Beli cengkeh. Buat bikin rokok Lintingan. Mwkwkwkw.. Meski disuruh2 dan srg sebel. Tapi aku sayang..

    Alfatihah

  2. Memang, kakek nenek itu kadang kasih sayangnya bikin anak manja. Jadi memang harus tarik ulur. Agar ortu tidak tersinggung dan anak juga ga manja..kalau ortu tinggalnya ga serumah sih masih bisa diatur ya, kalau serumah itu yang bikin pusing…

  3. Setuju bangetttt, kakek nenek itu garda terdepan banget ketika mendengar hal-hal yg gaberes menimpa cucu-cucunya, pokoknya kasih sayang para kakek nenek itu kadang ada perbedaan dari prinsip pola asuh yg nanti akan aku coba terapkan kepada anak-anakku nanti

  4. Begitulah kakek nenek menyanyangi cucu melebihi anak sendiri. Selalu berupaya memberikan apa yang diminta cucunya. Terkadang juga tidak boleh dimarahi. Sebagai anak kita harus juga menyadari hal tersebut. Supaya tidak terjadi kesalah pahaman. Karena apa yang dilakukan mereka adalah bukti dari kasih sayangnya.

    • Iya mbak, seringkali kejadian begini ada di rumah kita. Ibaratnya, kadang-kadang memang kita sebagai ortu kadang perlu membebaskan anak. Tapi jangan sering2. hahaha.

  5. Kebetulan kami tinggal berjauhan dengan kakek nenek dari kedua belah pihak, jadi pola pengasuhan full kami yang tentukan. Paling agak “masalah” dikit saat liburan ke rumah kakek neneknya. Saat menerapkan disiplin yang sama seperti di rumah, tak jarang kami dapat teguran, “Udaaah… jangan terlalu keras. Kasian masih kecil,” dan sejenisnya hehehe
    Gpp, sesekali melonggarkan aturan deh

  6. inilah yang pernah saya alami.. anak-anak saya lebih manja ke neneknya, karena permintaan mereka sering dituruti oleh sang nenek. akhirnya neneknya saya kasih pengertian bahwa saya ingin mendidik anak-anak saya secara mandiri.. Alhamdulillah sang nenek mau mengerti…

  7. Alhamdulillah berkata kakek dan nenek saya dalam bahasa jawa Mbah saya merawat saya saat pagi – siang dikarenakan ortu kerja, lalu mereka sangat baik dan memberikan rasa kasih sayang dengan cucu-cucunya yang lain karena mereka anggap sebuah karunia dan anugerah dari Tuhan..

  8. Iya sih parenting ala nenek-kakek seringkali bertentangan dengan parenting orang tua masa kini. Terlebih soal menuruti cucunya minta digendong kalau capek sehabis bermain atau jalan-jalan dan juga saat sedang tantrum. Itu terjadi kepada kedua orang tua saya yang kebetulan baru punya cucu satu dari kakak saya. Padahal kalau diingat-ingat, dulu saat saya dan kakak saya masih kecil, ibu-bapak yang jadi kakek-nenek pun saat kami tantrum suka dicuekin sampai nangisnya reda sendiri hehehe.

    • Artinya, tulisan ini semoga kita para milenial yang saat ini jadi orang tua, nanti ketika jadi kakek nenek semoga bisa menerapkan hal yang lebih baik ya Mba. Aamiin.

  9. Ini saya alami banget Mas. Meskipun begitu saya tetap menghargai kakek dan neneknya, karena mereka orangtua saya. Hanya saja anak-anak yang saya berikan pengertian, kenapa sama orangtua tidak boleh dan apa manfaatnya kelak plus diberikan contoh juga sehingga anak-anak bisa memahami alasannya dengan baik.

    • Iya mbak, sebagai anak, kita memang harus tetap menghormati dan menghargai kakek dan nenek dari anak kita. Tetapi, memang harus dikomunikasikan perihal apa yang mau kita tuju, dengan tantangan kondisi terkini yang tentu perlu penyesuaian dengan jaman dahulu.

  10. hihi saya sering protes saat apapun keinginan si kecil langsung dipenuhi kakek neneknya. sebab biasanya kalau dia mjnta apa, saya memberikan syarat. jikalau begini akhirnya manja dan minta2 ke kakek neneknya, wkwkw

    • Mirip mbak, anak kami yang besar, sering lho masih minta disuapin kalau sama neneknya.

      Kami sbagai ortunya sih gpp meski paling ngeledekin anak kami. Yang penting saat tidak ada neneknya, anak kami tetap mandiri makan sendiri…

  11. Bukan hanya sayang, tapi juga beda pola pengasuhan zaman, rasa bersalah, rasa sakit, kemapanan, dann masih banyak lagi. Yang mana pun, tak mengurangi rasa sayang beliau pada cucu dan anaknya.

  12. Ooo..ragil itu anak terakhir… dulu teman mengatakan itu akronim dari rada gila…

    Btw, memang kasih sayang kakek nenekmsuka bertabrakan dengsn program mandiri orang tua.. terkadang mereka juga lupa dahulu mereka pernah jadi orang tua dan menerapkan pola2 yang sama

    • Iya Bang, tulisan saya lebih saya gunakan sebagai pengingat, saat nanti kami jadi kakek nenek, agar tidak begini Bang.

      Bagaimanapun, kami sayang Bapak Ibu kami πŸ₯°

  13. Gaya parenting kakek nenek dan orang tua memang sering berbeda. Perlu komunikasi lho ini biar anak tak bingung dan kitanya juga tetap bisa jaga hubungan baik dengan orang tua. Aku ngalamin juga sih masalah pola asuh yang berbeda, apalagi anakku tinggalnya sama orang tua. Awal-awal akunya suka sakit hati juga kalau anakku mulai membandingkan aku dengan mamaku (neneknya dia). Tapi lama-lama ya akhirnya biasa, cuma ya gitu, mesti sering ngobrol juga sama orang tuaku

    • Iya mb Mon, perbedaan ini sepengamatan saya, masih lebih bisa dijembatani saat yang komplen adalah ibu si anak dg ibunya (nenek).

      Menjadi lebih complicated kalau ibu si anak dg ibu mertuanya (ibu si suami).

  14. Aku sebenernya bingung mau komen apa. Haha…Baca komen-komen di atas, kok sepertinya pada memojokkan kakek-nenek ya? Pola asuh jadi amuradul gara-gara kakek-nenek. Hiks…

    • Bukan memojokkan sih mba, tetapi membuka fakta bahwa nggak selamanya cara kakek nenek mengungkapkan kasih sayang dg misalnya membolehkan cucu ngapain aja itu sesuatu yg benar.

      Istri saya pun pernah komplen sama ibunya (mertua saya) gara2 beliau kalau anak kami jatuh trs beliau kaget dan anak langsung digendong shg dikit2 anak jd minta gendong.

      Ternyata, cerita serupa juga dialami teman2 kami. Serta, tulisan ini lebih ke pengingat kami saat nanti jadi kakek nenek supaya tidak kena masalah yg sama, mbak.

  15. Saya pernah baca atau dengar ilmu tentang parenting, kalau treatment kakek-nenek ke cucu berbeda dengan ayah-ibu ke anak, bisa membuat anak bingung dan membandingkan perlakuan yang didapatkannya. Lebih jauh lagi, bisa mengacaukan target capaian dalam mendidik anak.

    Misalnya ayah-ibu gak mau beliin anak es krim karena tujuan baik, eh sama kakek-neneknya dibelikan. Mana ditambah bumbu “ayah dan ibu kamu itu kok pelit sekali sih”

    Karenanya memang perlu dibuat komunikasi yang lancar antara orang tua dengan kakek-nenek biar kompak dal mendidik si anak

  16. begitulah kadang gaya Parenting ortu dan kakek neneknya pasti ada yang berbanding terbalik. kalau pengalaman saya udah ngelarang anak makan yang banyak micin, neneknya datang malah bawa satu kantong besarπŸ˜πŸ˜‚

    • Kalau keluarga kami punya pengalaman mirip. Anak kalau makan permen trs males makan nasi. Eh ada budhe yg sengaja ngasih permen ke anak. Nyebelin sih, meski maksudnya bercanda tapi kan si anak jd ngambek ke kita pas kita ingatkan. heyalah. Hahahaha.

  17. Aku salah satu manusia hasil asuhan nenek dari kecil karna kedua orangtua saya meninggal di umurku yg masih kecil.

    Hasilnya ya gini, manja karna dimanjain. At the same time rajin karena diharuskan untuk membantu kerjaan rumah. Aku tumbuh jadi orang yang empati. Ada lah beberapa yang positif.

    Cuma yang agak gak baik tuh aku cepat give up dalam belajar apalagi kalau harus otodidak. Dlu bikin PR sendiri, kalau gak bisa ya nenek aku gak bisa ajarin. Bagusnya aku kerja keras, cuma aku rasa secara akademik aku kurang cemerlang. 😊😊

    • Kasih sayang kakek nenek ke cucu memang luar biasa, mb Jasmi. Kalau nenek menggantikan peran ortu, biasanya masih rada mendisplinkan. Mb Jasmi itu termasuk orang yang kuat banget kok, menurut sudut pandang saya. Andai aku di posisi mb Jasmi, belum tentu aku sekuat mb Jasmi.

  18. Saya belum punya anak mas ari, tapi dari keluarga besar saya ketika seorang anak sudah menikah mereka tidak pernah ikut campur dalam urusan keluarganya termasuk mengurus cucu cucu, karena tempat tinggal yang berjauhan dan mungkin hanya bertemu 2 atau 3 kali dalam setahun.

    • Iya mb Ulfi. Dari teman-teman saya yang cerita, saat kakek nenek ada di dekat cucu, seringkali ada saja cerita kalau nggak terlalu memanjakan cucu ya mengoreksi segala cara ortu saat ini dalam mengurus anak (cucunya).

  19. Di daerah saya ada istilah “Putu abote kayak watu” (Cucu beratnya seperti batu) diistilahkan seperti itu oleh orang tua yang memiliki anak yang terlalu disayang oleh kakek neneknya, segala sesuatu dituruti. Mereka (kakek-nenek) beranggapan untuk siapa lagi diberikan kasih sayangnya kalau bukan kepada cucu-cucunya. Padahal dengan memberikan kasih sayang yang berlebih, itu secara tidak langsung telah memanjakan anak. Yang dihawatirkan karena terlalunya dimanja, berakibat pola pikirnya semaunya karena pasti ada yang melindunginya dan akan menuruti jika si anak memiliki kemauan.

    • Btw aku baru tahu ada istilah “Putu abote koyo watu”. Aku setuju banget mas, kadang ada kakek nenek yang terlalu memanjakan cucu ya karena mereka ingin memenuhi segala inginnya cucu. Biasanya, si anak (cucu) akan lebih lengket ke kakek nenek daripada ke ortu, karena kalau sama kakek nenek kan si anak (cucu) gak pernah dilarang atau dimarahin. hahahhaa.

  20. Kami kebetulan sama-sama perantauan yang jauh dari dari ortu, jadi anak-anak ketemu kakek neneknya jarang banget. Alhamdulillah kalau pas ketemu nggak terus bermanja-manja.

    Sering juga dengar curhat teman-teman kantor yang anaknya lengket sama kakak neneknya, dan ada juga yang malah memanfaatkan kakek neneknya buat ngasuh si cucu

    • Anak lengket ke kakek neneknya ya karena si anak selalu dipenuhi inginnya dan gk pernah dimarahin kan mb πŸ˜€

      Kemudian, aku sebel sama anak yang meminta ortunya (kakek nenek) untuk sering mengasuh si cucu. Menurutku ini sangat merepotkan hari tua kakek dan nenek.

  21. Nah benar sekali. Pola asuh kita sebagai ortu yang diterapkan ke anak jadi hancur gara-gara rasa sayang yang berlebihan dari kakek nenek. Malah anak biasanya memanfaatkan situasi ini πŸ˜…

    • Yang juga penting sebetulnya, kakek nenek juga tahu visi pendidikan anak versi kita, anaknya yg telah jadi orangtua, sehingga bisa menyelaraskan. Agar mereka juga menyadari bahwa tantangan zaman juga telah berubah.

      • Iya mas, contoh paling simple, temenku capek seharian udah ngelatih si anak gk pake pampers saat siang hari, kemudian masih harus nyelesaiin kerjaan domestik plus plus. Saat malam, temenku memakaikan diapers ke si anak biar sama2 bisa bobok sepanjang malam aja dimarahin ama kakek nenek. Dibilangnya: di jaman dulu gak ada diapers jg begadangan itu hal biasa bagi mereka. Sedih, tetapi ya gk bisa ngelawan juga kan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*